My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Al & Shera Bab 7



Al masuk ke apartemen. Shera mempersilakan Al untuk duduk, kemudian berlalu ke dapur untuk mengambil minum. 


Buru-buru Al duduk. Kakinya pegal karena tadi menunggu lama. Meluruskan kakinya, dia memijat lembut kakinya. Berharap dapat meredakan kakinya yang pegal. 


Menangkap Al yang asyik memijat kakinya, Shera merasa tidak enak. “Apa tadi lama? tanya Shera seraya meletakkan gelas berisikan jus jeruk buatannya. 


“Sebenarnya sekotor apa tubuhmu hingga mandi lama sekali.” Al masih terus memijit kakinya, sambil melirik malas pada Shera. 


“Salah sendiri kenapa ke sini tiba-tiba.” Shera tetap tidak mau kalah. Dia masih melawan ucapan Al dengan tegasnya. 


“Ini, mommy tadi yang menyuruhku ke sini.” Al meletakkan paper bag berisi makanan. Tadi dia harus menemani mommy-nya untuk mengecek makanan. Rencananya, acara akan dilaksanakan di Hotel W, tetapi akan ada kiriman Chef dari Hotel Maxton. Jadi dia menemani mommy-nya untuk test food.


Sebenarnya Al malas sekali. Namun, dia tidak punya pilihan. Beruntung waktu itu di rumah Shera, dia sempat mengobrol tentang Shera yang tinggal di apartemen. Jadi paling tidak dia 


“Oh ….” Shera mengambil paper bag dan melihat apa yang ada di dalamnya. Aroma makanan yang tercium menandakan jika itu adalah makanan. “Sampaikan terimakasihku pada mommy.” 


“Em ….” Al yang merasa kakinya sudah tidak pegal langsung berdiri. Bersiap untuk pulang. 


“Minum dulu, aku sudah buatkan untukmu.” Shera menekuk bibirnya kesal. 


Al berhenti dan berbalik. Melihat gelas berisikan jus jeruk terdapat di meja, dia meraihnya. Tanpa berbasa-basi meminumnya sampai habis. 


Shera yang melihat Al hanya bisa menelan salivanya. Dia melihat Al yang menghabiskan minumnya dalam sekali teguk. 


Sepertinya dia haus sekali.


“Terima kasih.” Al meletakkan gelas dan berlalu begitu saja. 


Shera sudah mulai terbiasa dengan Al yang begitu dingin. Jadi tidak mempermasalahkan ketika dia pergi begitu saja. 


...🌺🌺🌺...


Pertunangan yang hanya tinggal dua kali dua puluh empat jam membuat Shera cemas. Dia harus merelakan tidak bekerja karena harus pergi bersama Al, membeli gaun pernikahan. 


“Masih ada satu hari, apa kamu yakin ingin bertunangan denganku? Di dalam perjalanan ke butik, Shera masih mencari celah untuk membujuk Al. “Jika kamu mau membatalkan aku rasa belum terlambat.” Shera menatap penuh harap pada Al. 


Fokus Al yang tertuju pada jalanan, harus beralih ke Shera yang sedang mengoceh membahas pembatalan pertunangannya. 


“Apa kamu belum lelah berusaha membatalkan?” Kalimat bernada sindiran itu, terdengar tajam. Al sama sekali tidak menoleh dan masuk fokus dengan jalanan yang ada di depannya. 


“Aku tidak akan lelah untuk membatalkannya!” Tubuh Shera yang sedari menghadap ke Al, langsung beralih lurus menatap jalanan di depan. Melipat tangannya sebagai bentuk kesalnya pada Al. 


“Tidak ada alasan aku untuk membatalkan. Jadi berhentilah!” El melirik Shera. Matanya masih tetap fokus pada jalanan di depannya. 


“Berarti jika aku menemukan alasanmu, aku bisa membatalkan pernikahan kita?” Shera berbinar. Dia masih punya celah untuk membuat Al membatalkan semuanya. 


Al memilih tidak menanggapi ucapan Shera. Dia membiarkan acara Shera melakukan apa pun. 


Mobil sampai di butik. Al dan Shera langsung masuk. Di dalam Shera melihat-lihat gaun. Terlihat banyak sekali pilihan hingga membuatnya pusing. Tangannya sedari tadi sibuk menyibak satu persatu gaun yang terpajang. 


Lamanya Shera memilih gaun, membuat Al bergegas menghampiri. “Apa belum menemukan pilihan?” tanyanya ingin tahu. 


“Belum, semua bagus, aku jadi bingung.” 


“Pilih dan coba saja dulu. Aku akan berikan komentar nanti.” 


Shera menoleh ke arah Al. Dia hanya pergi dengan Al, jadi wajar saja jika hanya Al yang akan memberikannya pendapat tentang gaun yang dipilihnya.  Tak mau membuang banyak waktu, Shera mengambil gaun yang menjadi pilihannya dan mencobanya di ruang ganti. 


Sepuluh menit kemudian Shera keluar. Dengan balutan gaun dengan tali spageti, dia tampil cantik. Bahunya terekspos membuat Al sebagai pria terpesona. 


“Ganti!” jawab Al tegas. Dia tidak mau calon istrinya memakai baju yang memperlihatkan bagian tubuhnya. 


Di dalam ruang ganti, Shera melihat pantulan dirinya. Melihat tidak ada yang salah dengannya. “Ini bagus, kenapa dia tidak suka?” Shera menaikkan bahunya. Merasa aneh dengan Al. 


Shera kembali keluar dari ruang ganti. Al yang melihat tampilan Shera lebih tertutup bersyukur. Apalagi gaun yang dipilihnya tertutup dari dada sampai ke tangan. 


“Bagus tidak?” 


“Bagus.” 


Shera berputar menunjukan punggung mulusnya yang terlihat. 


“Astaga, kenapa itu terlihat seperti hantu yang punggungnya bolong.” Al begitu terkejut melihat gaun yang dipakai Shera. Seperti hantu yang pernah dilihatnya di film-film Indonesia. 


“Sudah secantik ini kamu bilang aku hantu?” Shera menekuk bibirnya kesal. Walaupun punggungnya terekspos tapi dia suka dengan tampilan gaun yang dipakainya. Apalagi kulit mulusnya yang terlihat indah. 


“Ganti!” perintah Al tegas.


“Tidak mau!” Shera tak mau kalah. Dia adalah pemimpin di perusahaannya, jadi dia tidak suka diperintah. Yang ada dialah yang memerintah. 


“Shera, ganti.” Al sedikit menurunkan intonasi suaranya. 


“Tidak mau.” 


“Shera … ganti.” Kali ini Al jauh lebih lembut. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya. Membuat pria yang biasa tampil dingin itu terlihat begitu hangat. 


Ini kali pertama Shera mendengar suara lembut Al dan wajah dihiasi senyuman. Walaupun tak selepas El yang selalu bisa tersenyum kapan saja, tetapi itu membuatnya cukup terpesona. 


“Berikan alasan untuk aku menggantinya?” 


Al menggeleng. Shera selalu menanyakan sebuah alasan. “Cantik tidak harus tampil terbuka,” jawab Al menatap wajah Shera. 


Seperti sihir, kata-kata Al membuatnya menuruti keinginan Al untuk berganti gaun lagi. Gaun terakhir yang dicobanya kali benar-benar tertutup. Lapisan tule yang menempel memberikan efek mewah dari gaun yang dipakainya. Gaun benar-benar pas di tubuh Shera. Tak terlalu longgar, tetapi tidak juga terlalu ketat. 


Dengan menaikkan sedikit gaunnya agar bisa berjalan. “Bagaimana?” tanya Shera. 


Al yang duduk manis di sofa langsung berdiri. Menghampiri Sher untuk memastikan jika gaun yang dipakai Shera aman. Al berdiri tepat di depan Shera. Memerhatikan Shera dari dekat. Melihat Al yang dari depan membuat Shera berdebar-debar. Dia tidak tahu kenapa jantungnya itu berdisko. 


“Putar!” perintah Al. Setelah memastikan bagian depan aman, Al ingin memastikan bagian belakang. 


Shera yang terhipnotis dengan Al memutar tubuhnya. Memperlihatkan bagian belakang. 


“Bagus, hantunya sudah pergi.” 


Ucapan Al yang menyebalkan seketika membuat Shera sadar jika yang dilihatnya adalah pria menyebalkan. “Hantu mana ada secantik aku?” Dengan beraninya dia menjawab Al. 


“Jangan terlalu percaya diri.” 


“Kalau aku tidak cantik, kamu juga tidak akan menyukai aku, bukan?” Shera menyeringai. Dia bisa membuat Al kalah telak. Sedari kemarin yang digaungkan Al adalah jika dia menyukai dan mencintai Shera. 


Al tak berkutik. Namun, bukan dia jika tidak bisa setenang air. “Pergi dan ganti gaunmu. Kita masih harus memesan jas?” 


Shera memutar bola mata malas ketika Al memilih menghindari perdebatan yang seharusnya dapat dimenangkan olehnya. 


“Aku juga harus ikut?” Shera malas sekali harus ikut dengan Al. Berlama-lama dengan Al membuatnya mati beku. 


“Aku akan mengantarmu pulang jika kamu mau.” 


“Baiklah.” Shera bersyukur. Karena tidak perlu berlama-lama bersama dengan Al. Jika ada pilihan untuk pulang, kenapa dia harus ikut. Bergegas, dia mengganti gaunnya. Kemudian, segera pulang.