
Pagi ini rumah keluarga Wijaya ramai sekali. Keluarga yang memiliki darah Jepang itu, memang sudah tinggal di Indonesia turun temurun. Jadi tinggallah garis keturunan saja yang mengalir, sisanya mereka lebih kental Indonesia.
Saat semua keluarga bersiap, sang empunya acara justru sedang menikmati mimpi indahnya. Beralasan pusing karena penerbangan, dia menikmati tidur nyenyaknya.
Suara jam weker yang sengaja dipasang sang mama di kamarnya, membuat Shera mengerjap. Suara itu begitu mengganggunya, hingga tangannya segera meraih benda kecil yang berada di nakas samping tempat tidurnya.
“Mama benar-benar menyebalkan.” Dengan mata yang kembali terpejam, dia masih menggerutu.
“Kakak.”
Setelah tadi suara jam setan yang membangunnya, kali ini suara iblis datang mengganggu kembali. Siapa lagi bukan suara adiknya. Mengganggu tidur nyenyak.
“Kakak, mama menyuruhmu bangun.”
Shera yang mendengar justru membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Berusaha untuk menghindar.
“Padahal mama sudah sengaja memasang jam weker, tetapi tetap saja tidak mempan.” Retta yang kesal menarik selimut yang membungkus tubuh Shera. Membuat gadis cantik itu langsung bangun.
“Kamu tidak punya pekerjaan?” tanya Shera kesal.
“Justru ini pekerjaan yang diberikan mama padaku. Membangunkan kerbau tidur.”
“Apa kamu bilang?” Shera bangun dan melempar bantal pada adiknya.
Dengan gerakan cepat, Retta menghindar. Untung saja dia bisa menghindar.
“Cepat bangun, sebelum mama yang datang dengan melempar panci ke tubuhmu.” Retta yang memperingatkan kakaknya, mengingat jika mamanya sedang memasak.
“Untuk apa kamu repot-repot membangunkan aku?”
“Apa Kak Shera lupa jika hari ini ada pria yang akan datang ke rumah untuk melamar Kakak?”
Seketika tubuh Shera lemas. Dia ingat jika hari ini Al akan datang. Sejujurnya Shera masih bingung dengan lamaran tiba-tiba ini. Shera tidak terlalu kenal dengan Al, dan sekarang mereka akan melangsungkan lamaran. Benar-benar menyebalkan.
“Cepatlah bersiap.” Retta berbalik dan meninggalkan kakaknya.
Shera menyadarkan tubuhnya di headboard tempat tidur. Meratapi nasibnya yang tiba-tiba berubah.
“Kenapa dia melamarku? Padahal aku tidak pernah berhubungan dengannya.”
Shera mengusap wajahnya. Merasa bingung. Namun, dia tidak bisa menghubungi pria itu untuk bertanya.
“Nomor teleponnya saja aku tidak punya. Bagaimana bisa aku menikah dengannya?”
Rasanya dia kesal sekali. Saat memikirkan nomor telepon Al, dia teringat dengan El. Terlintas di pikirannya untuk meminta nomor telepon dari El.
Tak menunggu lama, Shera meraih ponselnya dan menghubungi Shera. Cukup lama Shera menunggu. Sambil menunggu dia menghitung perbedaan waktu London-Indonesia.
“Enam, lima, empat, tiga, dua, satu, dua belas, sebelas.” Shera menghitung dengan jarinya. Memastikan jam berapa di London sekarang.
“Apa dia tidur?”
“Hai, Shera, ada apa?” El yang mengangkat telepon terdengar terengah-engah. Napasnya memburu dan terdengar dari sambungan telepon.
“Apa kamu sedang olahraga, Justin?” tanya Shera yang sedikit menjauhkan telepon dari telinganya.
“Oh ... iya, aku sedang olahraga-membakar kalori,” jawab El.
Shera tidak habis pikir, olahraga apa yang dilakukan El malam-malam.
“Ada apa kamu menghubungi aku?”
Mendapati pertanyaan itu, Shera teringat dengan tujuannya. “Aku ingin meminta nomor saudaramu-Aaron.”
“Al maksudmu?” tanya El memastikan.
“Iya, itu,” jawab Shera. Dia tidak habis pikir kenapa Al dan El yang memiliki nama panggilan yang berbeda dengan nama depannya. Membuatnya bingung saat harus menyebutnya.
“Baiklah, Justin. Aku akan menunggu.”
Shera mematikan sambungan telepon. Menunggu El yang mengirim nomor telepon Al.
Lima menit kemudian pesan singkat dari El masuk ke ponsel Shera. Nomor kontak Al, benar-benar dikirim oleh El.
Tak mau menunggu lama, Shera menghubungi Al. Sama dengan saat menghubungi El, Shera harus menunggu. Entah ke mana pria yang akan melamarnya itu berada. Karena tidak kunjung mengangkat sambungan telepon.
“Halo, siapa ini?” Suara bass terdengar dari sambungan telepon.
“Ini aku.”
“Aku siapa?”
“Astaga, kamu saja tidak mengenal suaraku, bagaimana bisa kamu melamarku?” Rasanya, Shera kesal sekali dengan pria di sambungan telepon itu. Pria itu saja tidak mengenalinya, bagaimana bisa menjalin hubungan pernikahan nanti.
“Kamu ternyata,” jawab Al, “aku belum pernah mendengar suaramu dari sambungan telepon. Jadi aku tidak tahu.”
Alasan saja.
Shera begitu malas mendengar ucapan Al.
“Ada yang ingin aku tanyakan?” Tak mau banyak berbasa-basi, Shera terus langsung kembali pada tujuannya.
“Sebaiknya kamu tanyakan saja nanti, saat aku sampai di rumahmu.”
“Justru itu, aku mau bertanya tentang kedatanganmu ke rumah. Untuk apa kamu datang?”
“Apa orang tuamu tidak mengatakan apa tujuanku?” Seperti biasa, Al tampak tenang saja.
Shera menjambak rambutnya sendiri. Sulit sekali bicara dengan pria di sambungan telepon itu. “Mereka sudah bilang, tetapi aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba ingin melamar aku?”
“Karena aku mencintaimu.”
“Astaga, apa kamu belum pernah pacaran? Apa begini cara orang menyatakan rasa sukanya?” Shera bergidik ngeri dengan Al, yang datar dan tidak romantis sama sekali saat menyatakan perasaanku.
“Aku tidak suka mengatakan, lebih suka bertindak. Dan melamarku adalah tindakan yang menunjukkan bagaimana rasa sukaku.”
“Halo, Tuan Aaron. Kamu saja tidak kenal denganku. Bagaimana bisa kamu mencintaiku?”
“Aku akan mengenalmu nanti.”
“Tapi—”
“Sudah kalau begitu sampai jumpa nanti.” Al yang tidak mau berlama-lama, akhirnya mengakhiri sambungan telepon. Tak menunggu jawaban dari Shera lebih dulu.
“Halo ... halo ....” Sambungan telepon yang tiba-tiba terputus, membuat Shera kesal. Dia melempar ponselnya ke kasur. Kesal dengan pria dingin dan seenaknya seperti Al.
“Aku tidak mau menikah dengan pria seperti itu.” Shera bergidik ngeri membayangkan jika tinggal bersama pria dingin macam Al.
Shera tidak tahu harus bagaimana lagi. Menghubungi Al yang didapatkannya justru jawaban tidak memuaskan.
“Aku harus berbicara dulu nanti dengannya.” Hanya cara itulah yang bisa dilakukan Oleh Shera. Paling tidak itu dapat mencegah acara lamaran.
...🌺🌺🌺...
Al yang mematikan sambungan telepon langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia hanya tersenyum tipis ketika Shera menolak lamarannya.
“Aku tidak akan membatalkan lamaran ini.”
Semua sudah masuk dalam perencanaan Al. Jadi dia tidak akan melepaskan Shera begitu saja.
Melanjutkan mengeringkan rambutnya, Al bersiap. Rencananya dia dan keluarganya akan ke rumah Shera bersama pagi ini. Semua keluarga sudah menyiapkan barang-barang yang akan diberikan untuk Shera. Tinggal membawanya saja.