My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Tetap Waspada



Syailendra mengajak Kafa bicara di ruang kerja. Membahas pekerjaan yang akan berdampak dari masalah yang terjadi, sedangkan Flo masih bersama dengan Kirei.


“Kita sampai belum berkenalan,” ucap Kirei lembut.


Flo benar-benar merasa Kirei adalah gambaran lembut dari seorang ibu. Membuatnya sejenak merindukan orang tuanya. “Danica Florencia, Tante.”


“Kenapa panggil ‘tante’, panggil ‘mama’ saja.”


Senyum tipis tertarik disudut bibir Flo. Belum menjadi istri Kafa, dia sudah diminta memanggil dengan panggilan ‘mama’. Dia pun mengangguk. Menuruti apa yang diminta mama Kafa.


“Jangan takut, hal seperti ini sering terjadi.” Kirei membelai punggung Flo.


“Hal apa maksudnya, Ma?” Sedikit masih terasa aneh bagi Flo memanggil ‘mama’, tetapi dia yakin lambat laun lidahnya akan terbiasa.


“Yang scandal-scandal seperti ini. Biasanya mereka saingan bisnis melakukannya untuk menjatuhkan. Apalagi sebentar lagi akan diumumkan jika Kafa adalah CEO Kafa Management.”


Flo tidak bisa berkata apa-apa, ketika semua orang menganggap jika lawan bisnis yang membuat semua ini.


“Tapi, Mama senang, karena scandal ini mengantarkan Kafa menikah.” Senyuman manis terbit di sudut bibir Kirei. Terkadang hal buruk, tidak selamanya berdampak buru. Seperti halnya sekarang. Scandal foto anaknya, justru mengantarkan sang anak menikah.


Flo hanya bisa memaksakan senyuman di wajahnya. Menampilkan rasa bahagia seperti yang Kirei lakukan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Rasanya tubuhnya gemetar membayangkannya saja.


Saat Kirei sedang asyik bertanya-tanya pada Flo, di ruang kerja dua pria sedang asyik membahas permasalah yang terjadi. Mereka duduk di sofa saling berhadapan. Terlihat serius dengan pembicaraan mereka.


“Apa kamu sudah tahu siapa yang melakukan semua ini?” tanya Syailendra.


“Bagus, semakin cepat ditemukan, akan semakin bagus.”


Kafa mengangguk. Dia pun akan mencari orang yang sudah menyebarkan foto itu. Tak akan memberi ampun jika dia menemukannya.


“Apa kamu sudah mencari tahu latar belakang keluarga calon istrimu itu?” Syailendra patut waspada. Karena bisa jadi, Flo adalah suruhan dari musuhnya.


“Gala sudah mencari tahu. Dari agensi tempat Flo bekerja, diketahui jika Flo hanya gadis kampung yang merantau ke sini. Tidak punya orang tua karena orang tuanya sudah meninggal. Kalau dilihat dari latar belakangnya, dia tidak ada hubungan dengan saingan bisnis kita.” Baru saja Kafa mendapati kabar dari Gala dan informasi itu didapat dari agensi tempat Flo bernaung.


“Baiklah, tapi tetaplah waspada.”


“Tentu, Pa.”


Selesai membahas masalah itu, akhirnya Kafa dan papanya keluar. Bergabung kembali dengan Flo dan sang mama. Dua wanita itu asyik mengobrol. Kafa yang melihat pemandangan itu, tersenyum. Sudah lama sang mama minta menantu dan rasanya pasti senang sekali.


“Ayo,” ajak Kafa ketika menghampiri Flo.


“Ke mana?” tanya Flo polos.


“Kita akan ada konferensi pers dan banyak hal yang harus kita persiapkan.”


Flo mengangguk. Kemudian, berpamitan dengan Kirei dan Syailendra. Kirei mengatakan pada Kafa jika besok dia yang akan mengantarkan Flo memesan baju pengantin. Dalam hal ini, Kafa tidak bisa menolak. Mamanya akan tetap memaksa jika pun ditolak. Kafa pun berjanji akan mengantarkan Flo ke rumah jika sang mama akan mencarikan baju pengantin. Paling tidak, tugasnya berkurang satu yaitu menyiapkan baju pengantin untuk Flo.