
Dear, Kak Dean.
Hari ini aku sudah mulai bekerja. Pilihan ini, aku putuskan sesuai dengan saran Kak Dean. Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk cuti kuliah. Aku berjanji akan kembali kuliah jika urusanku selesai.
Kak Dean. Doakan hari ini akan menjadi hari terbaik untukku. Semoga tempat kerjaku akan menyenangkan dan membuatku betah.
Ach … rasanya aku tidak sabar bekerja. Akan aku ceritakan nanti bagaimana pekerjaanku, teman-temanku, dan semua yang aku kerjakan hari ini.
Baiklah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Sampai berjumpa lagi.
Salam
Arra.
Dearra tersenyum ketika melihat layar laptopnya. Beberapa hari yang lalu dia mendapatkan pesan dari Dean. Dari pesan itu, akhirnya dia memutuskan untuk cuti kuliah dan mulai bekerja. Paling tidak itu bisa mengurungi beban sang kakak.
“Arra, cepat sarapan.” Suara sang kakak menggelegar mengisi keheningan rumah.
Arra-nama yang disematkan keluarganya saat memanggilnya. Entah kenapa orang tuanya memanggilnya seperti itu. Kata bibinya, itu karena almarhum ibunya suka panggilan itu. Jadilah itu nama panggilan kesayangan keluarga.
Mengingat nama kesayangannya itu, tentu saja mengingatkan Ara pada ibunya. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Jadilah sekarang dia dan kakaknya-Raya tinggal dengan sang bibi.
Dearra segera mematikan laptopnya. Kemudian berangsur bangun dari duduknya. Sambil berjalan keluar, Dearra meraih tasnya. Langkahnya dianyunkan dengan semangat keluar dari kamarnya menuju ke meja makan. Begitulah Dea, gadis yang penuh dengan semangat. Tepat di meja makan sudah ada kakak dan bibinya. Dengan cepat Dearra bergabung.
“Ayo, Sayang, cepat makan.” Bibi Laila menatap sang keponakan dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“Iya, Bi.” Dea menarik kursi dan segera duduk.
“Hari ini adalah hari pertamamu bekerja. Jadi kamu harus makan yang banyak.” Sang bibi langsung mengambilkan makanan untuk Dea. Dia begitu senang ketika mendengar jika Dearra akan bekerja. Paling tidak, dia tidak kesulitan dalam keuangan keluarga lagi.
Dearra hanya tersenyum saja ketika melihat sang bibi memberikannya makanan di atas piring. Dia tahu sang bibi adalah orang yang paling bahagia saat mengetahui dirinya bekerja.
“Memangnya dia kuli harus makan banyak.” Raya yan berada di depan sang adik pun melontarkan sindirannya. Sang bibi terlalu memanjakan adiknya. Hingga terkadang membuatnya kesal.
“Iri saja.” Dearra membalas sindiran sang kakak. Kemudian mengabaikannya. Dia merasa tidak terlalu penting menanggapi apa yang dikatakan sang kakak.
“Sudah-sudah. Cepat makan.” Bibi Laila segera menghentikan perdebatan yang sudah biasa terjadi di dalam rumah itu.
Raya menatap malas. Dia kemudian berangsur bangkit dari duduknya. Meraih tas miliknya yang diletakkanya di sampiang kursi.
Dearra tak peduli yang dilakukan sang kakak. Dia tetap menikmati makannya dengan rasa syukur.
“Kamu tidak berangkat bersama adikmu?” Bibi Laila pun melempar pertanyaan itu pada Raya. Dia melihat jelas sang keponakan akan segera berangkat, tetapi tidak menunggu adiknya sama sekali.
“Biar saja dia naik angkutan umum. Biar tahu bagaimana rasanya berjuang.” Raya mengabaikan sang bibi begitu saja. Dia segera mengayunkan langkahnya meninggalkan meja makan.
Dearra hanya menarik senyum tipisnya di sudut bibirnya saja. Dia sadar jika sang kakak masih marah padanya. Apalagi jika bukan karena alasannya untuk cuti kuliah dan bekerja. Raya-sang kakak memang tidak mengizinkannya untuk bekerja. Karena itulah dia marah pada Dearra.
“Sudah abaikan saja kakakmu.” Bibi Laila tersenyum manis pada Dearra.
Dearra hanya membalasnya dengan senyuman juga ucapan sang bibi. Walaupun sakit melihat sang kakak yang marah, tetap saja dia tidak mau menunjukkannya.
Dearra melanjutkan kembali makannya. Berusaha mengabaikan kakaknya. Dia tak mau apa yang terjadi merusak semangatnya pagi ini.
Sarapan yang usai membuat Dearra bangkit dari duduknya. Tangannya dengan cepat meraih tasnya. “Aku berangkat, Bi,” ucapnya pada sang bibi. Dearra meraih tangan sang bibi dan mendaratkan kecupan di punggung tangannya.
“Terima kasih.” Dearra bergegas mengayunkan langkahnya keluar dari rumah. Wajahnya yang tadinya dihiasi senyuman perlahan surut. Ada luka yang terasa menyesakkan yang berusaha dia tahan. Hal itu tentu saja membuatnya harus berpura-pura bahagia di depan orang lain.
Di depan rumah, Dearra melihat cahaya matahari yang begitu menghangatkan. Cahaya itu begitu terang hingga membuatnya kembali ceria lagi.
“Semangat, Arra.” Dia berusaha menyemangati dirinya sendiri. Langkahnya diayunkan dengan semangat ke tempatnya bekerja.
Dearra akan bekerja di Maxton Hospital. Rumah sakit besar milik keluarga salah satu pengusaha terkenal. Walaupun berdiri sekitar empat tahun, tetapi Rumah sakit itu termasuk yang terbaik di kota. Pelayanannya yang begitu baik, membuat pasien mendatangi tempat tersebut.
Dearra melanjutkan kembali langkahnya menuju halte bus terdekat. Pagi hari halte tampak begitu penuh sesak. Semua seolah berlomba untuk mencapai tempat kerja secepat mungkin. Dearra hanya bisa tersenyum. Kini dia harus bersaing dengan mereka yang ingin mencapai tempat kerja dengan cepat.
Dengan berusaha keras akhirnya Dearra dapat naik bus. Rumah sakit yang berjarak cukup jauh membuatnya harus bersabar ketika tak ada tempat duduk untuknya. Tak masalah bagi Dearra. Yang terpenting dia bisa sampai dengan cepat di Rumah sakit.
Bus sampai di halte dekat Rumah sakit. Dengan segera, dia turun daei bus dan melanjutkan jalan kaki sedikit untuk mencapai Rumah sakit.
Tepat di depan Rumah sakit, dia memandangi bangunan itu. Rasanya tidak sabar ketika dia akan segera bekerja.
Dengan langkah semangat, Dea masuk ke Rumah sakit. Di tengah langkahnya yang diayunkan, ponsel Dea berbunyi. Sambil terus berjalan, tangannya meraih ponsel yang berada di dalam tas. Dilihatnya sebuah pesan masuk di surelnya. Tertera jelas nama DeanMaxton@gogomail di layar ponselnya. Mendapati balasan dari Dean, semangat Dea semakin bertambah. Dibukanya pesan tersebut.
Semangat bekerja. Semoga harimu menyenangkan.
Mendapati kalimat singkat itu membuat hati Dea begitu senang. Di tengah kesibukan Dean kuliah mau membalas pesannya saja adalah hal yang luar biasa.
“Memang kamu yang terbaik.” Dea mendaratkan kecupan di ponselnya. Dengan semangat dia kembali melanjutkan langkahnya. Seperti yang dikatakan Dean, Dea berharap harinya akan menyenangkan.
Dearra membuka matanya setelah sempat memejamkannya sejenak di depan Rumah sakit. Dia masih tidak percaya jika sedang berdiri di depan Rumah sakit untuk bekerja. Rasanya dia sudah tidak sabar menikmati setiap proses hidupnya ini.
Dengan langkah semangat Dearra masuk ke Rumah sakit. Dea akan bekerja di instalasi gizi. Dea yang mengambil jurusan gizi akan bekerja di bidangnya. Dea beruntung karena dengan bantuan teman sang kakak dia bisa bekerja di Rumah sakit. Karena jika ditelisi lagi, dia belum cukup pengalaman untuk bekerja di sebuah Rumah sakit.
“Dea.”
Seseorang memanggil Dearra dari arah belakang. Saat Dearra membalikkan tubuhnya ke arah belakang tampak seorang dokter cantik datang menghampirinya.
“Kak Ghea.” Dearra tersenyum. Ghea adalah orang yang membantunya bisa bekerja di Rumah sakit.
Seminggu yang lalu, dia memberanikan diri untuk menemui Ghea. Meminta bantuan pada teman kakaknya itu. Dan di sinilah kini Dearra berada di Maxton Hospital. Dia akhirnya bisa bekerja di Rumah sakit elit ini.
“Kamu sudah siap bekerja?” Ghea tersenyum manis pada Dea.
“Tentu saja aku sudah siap.” Dearra menjawab dengan penuh semangat.
“Kak Ghea, bisakah kamu memanggilku Olin.” Kakaknya sangat tidak suka Dearra bekerja di Rumah sakit. Karena itu, dia melayangkan ancaman padanya untuk tidak mengaku sebagai adiknya.
Ghea tersenyum, dia tahu alasan Dearra melakukan itu. “Tentu saja.”
“Terima kasih, Kak.”
“Semoga harimu indah.” Ghea melayangkan tangannya untuk tos.
Dengan semangat Dearra membalas dengan menautkan telapak tangannya itu sehingga berbunyi. “Sampai jumpa Kak Ghea.” Dea segera berbalik dan kembali mengayunkan langkahnya. Dia kembali menuju ke tempat di mana akan bekerja.
Ghea yang melihat semangat Dea hanya bisa tersenyum. Dia bangga melihat Dea yang tanpa takut mengambil keputusan berani. “Semoga harimu indah.” Dia kembali melanjutkan langkahnya untuk ke ruangannya. Hari ini dia ada jadwal praktik pagi. Jadi alhasil, dia benar-benar dibuat buru-buru dari rumah. Biasanya Ghea selalu mengambil praktik jam sepuluh. Waktu yang pas karena sudah selesai mengurus keluarganya. Sayangnya, tidak adanya dokter umum pagi ini, membuatnya harus datang pagi.