
Dekorasi telah dipasang untuk acara pernikahan yang akan diadakan di Hotel W. Pernikahan besar akan di adakan di Hotel W yang bercabang di pulan Dewata. Pemandangan laut akan menjadi background indah dalam pernikahan ini. Semua itu sesuai dengan impian dari Retta.
Gadis cantik yang bernama lengkap Auretta Alexandria itu akan menikah dengan kekasihnya. Acara sengaja diadakan di hotel milik keluarganya. Mengingat bisa dengan sesuka hati memakainya kapan saja. Pernikahan ini akan dihadiri oleh keluarga dan rekan bisnis. Sebagai wakil CEO di Wijaya Grup, Retta cukup terkenal di kalangan pengusaha. Terlebih lagi perusahaan besar milik papanya itu terkenal di Indonesia. Jadi sudah bisa dipastikan jika yang datang adalah orang-orang penting.
Menikah dengan orang yang dicintai adalah impian semua wanita. Tak terkecuali oleh Retta. Pertemuan pertama dengan sang kekasih dalam sebuah acara pernikahan yang diadakan di Hotel W, mengantarkan mereka dekat, hingga akhirnya menjalin hubungan. Hubungan itu berjalan selama tiga bulan. Bagi Retta perjalanan cintanya sudah membuatnya yakin jika pernikahan adalah akhir bahagia dari perjalanan cinta mereka. Bak gayung bersambut, kekasihnya pun melamarnya.
Sebulan yang lalu. Dalam suasana romantis makan malam di rooftop, sang kekasih melamarnya. Di bawah langit malam yang kala itu dipenuhi bintang, pria itu melamar Retta.
“Auretta, sudah sekian lama kita menjalin hubungan. Seperti air yang terus mengalir ke muara, seperti itulah hatiku yang kini sampai pada muaranya. Auretta, maukah kamu menikah denganku. Berbagi suka dan duka denganku.”
Sebuah cincin diberikan oleh kekasihnya. Membuat Retta terkejut dan tak bisa berkata-kata. Hanya sebuah anggukan yang menjawab pertanyaan itu. Wanita mana yang tidak luluh ketika mendapati hal romantis itu. Pastinya semua akan luluh dan menerima. Terutama oleh pria yang begitu dicintainya itu.
Sejak itu, Retta memperkenalkan kekasihnya pada orang tuanya. Mereka juga menyampaikan niat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Keluarga Retta, tak bisa menolak keinginan putri mereka. Saat anak-anak sudah saling cinta, orang tua bisa berbuat apa.
Dengan izin yang didapatnya, akhirnya Retta mempersiapkan semua pernikahannya. Hingga akhirnya tibalah hari itu. Di sinilah sekarang Retta berada. Dia akan menikah dengan sang pujaan hati-besok. Gadis dua puluh tujuh tahun itu memang menyukai pria-pria matang. Baginya pria-pria itu memiliki pemikiran dewasa dan dapat membuatnya nyaman. Karena mereka tidak perlu berdebat untuk hal-hal remeh temeh.
Kebetulan sekali pria yang menjadi calon suaminya ini berbeda lima tahun dengannya. Pembawaannya yang tenang dan tidak banyak menuntut Retta, membuatnya nyaman. Terlebih lagi, calon suaminya ini selalu mengerti Retta. Sebagai wakil CEO di Wijaya Grup, dia begitu sibuk. Sehingga terkadang tidak ada waktu untuk bertemu, dan bagi calon suaminya itu bukan permasalahan besar. Yang terpenting mereka tetap bisa bertemu dan menghabiskan waktu di akhir pekan.
“Apa sudah datang semua dekorasinya, Pa?” Retta menghampiri sang papa yang sedang mengawasi orang-orang yang sedang mendekor hotelnya.
“Sudah datang, mereka sedang memasangnya, sebagian akan dilanjut nanti malam,” jelas Papa Sean, “semoga saja tidak turun hujan.” Papa dua anak itu melihat ke arah langit. Memastikan jika nanti malam tidak akan turun hujan. Sehingga akan merusak dekorasi.
“Pa, jangan membuat aku berdebar-debar.” Retta benar-benar berdebar-debar ketika hari pernikahannya di depan mata dan takut akan berantakan.
“Kapan dia datang?” Papa Sean menatap putrinya.
Retta tahu siapa yang dimaksud, siapa lagi jika bukan calon suaminya. “Dia ambil penerbangan siang ini, Pa.” Kesibukan calon suami Retta, membuat pria itu akhirnya datang di hari minus satu pernikahan. Bagi Retta tidak masalah karena sebagian besar sudah dikerjakan oleh papanya.
Retta mengembuskan napasnya. Sebenarnya sang papa tidak setuju dengan kekasihnya. Namun, dia berusaha keras untuk membujuk sang papa. Hingga akhirnya Beliau mengizinkan. Mengingat apa yang diminta oleh sang papa, Retta berharap pernikahannya akan berjalan dengan lancar, tanpa kendala apa-apa.
Retta masuk ke hotel setelah memastikan dekorasi pernikahannya sebagian dipasang. Saat masuk, dia melihat seorang pria yang berjalan masuk ke hotel. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, menutup area matanya. Hal itu justru membuat pria itu semakin memesona. Retta memerhatikan dengan saksama. Memastikan jika yang dilihatnya tidaklah salah.
“Rylan,” panggilnya.
Rylan yang merasa namanya dipanggil-menoleh. Dilihatnya dari kejauhan wanita yang disukainya di depan mata. Wajah cantik Retta selama ini selalu berputar di kepalanya. Baru kali ini Rylan merasa jatuh cinta meskipun hanya beberapa kali bertemu, dan perasaan itu bersemayam lama di hatinya. Sayangnya, dia harus rela melepas perasaan itu, karena sebentar lagi Retta akan menikah dengan pujaan hatinya.
Awalnya, Rylan tidak berniat datang ke pesta pernikahan Retta. Dia hanya berniat menyusul kakaknya ke Indonesia. Saat menghubungi sang kakak, dia mendapati jika sang kakak sedang di pulau Dewata. Kakaknya akan menghadiri pernikahan Retta dan kekasihnya.
Pria dua puluh lima tahun itu terkejut ketika mendapati kenyataan wanita yang disukainya akan menikah. Namun, kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah dengan keadaan.
Rylan melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya. Kemudian tersenyum pada Retta. Darah keturunan Inggris yang mengalir di tubuhnya membuat dia begitu tampan ketika kacamata sudah dilepas. Sayangnya, ketampanannya itu tidak dapat membuat Retta terpesona. Wanita itu menganggapnya anak kecil yang hanya bermain-main saja.
Dari kejauhan Retta mendapati jika yang dipanggilnya benar-benar Rylan. Pria itu berada di hotelnya. Sekali pun dia tidak suka, magnet Rylan mengantarkannya untuk menghampiri-menyapa pria muda yang selalu menggodanya itu. “Kamu datang juga.” Dia cukup terkejut dengan kedatangan Rylan. Setahunya dia tidak memberitahu pria itu perihal pernikahannya.
Pria yang memiliki nama Rylan Oliver itu mengangguk. Dia merasa jika sebenarnya tamu tak diundang. “Iya, aku mau datang ke sini dan menculik pengantinnya.” Rylan tertawa, menggoda Retta. Menutupi rasa kecewanya.
Retta hanya menggeleng heran. Bisa-bisanya pria itu menjawab dengan nyeleneh. “Sebelum kamu menculikku, aku sudah menolaknya.”
“Astaga, aku benar-benar mendapat penolakan secara langsung.” Rylan tak menganggap serius ucapan Retta. “Aku tadinya ingin menyusul Kak Noah ke Indonesia, tetapi dia ada di sini.” Akhirnya Rylan menjelaskan niatnya. Tak melanjutkan aksinya. “Sayangnya, aku jadi tamu tak diundang.” Rylan tertawa. Merasa kasihan dengan dirinya sendiri.
Retta merasa tidak enak karena tidak mengundang Rylan. Nama Rylan tak terlintas di pikirannya sama sekali saat memilih siapa saja yang diundangnya. Lagi pula Rylan tinggal di London. Jadi wajar tidak terlintas sama sekali. “Rylan, aku mengundangmu datang ke pernikahan, besok.” Retta memandang Rylan mengundangnya secara langsung. Merasa tidak enak karena lupa mengundang pria itu.
“Aku tidak mau jadi tamu undangan, aku mau jadi pengantinnya saja. Jadi secara tegas aku menolak undanganmu.” Rylan menyeringai. Masih saja dia menggoda Retta yang begitu serius.
Retta hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rylan selalu saja bercanda. Inilah yang dia tidak suka. Rylan tidak bisa serius. Kekanak-kanakan sekali.