My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Mara Bab 3



Agas melihat kepergian Mara dari toko buku. Senyuman tersungging di wajahnya saat tubuh wanita cantik itu hilang dari pandangannya. Ingatannya kembali pada kejadian di sudut toko. Tadi saat sedang melihat-lihat buku, dia melihat wanita itu dari kejauhan. Awalnya dia tidak peduli, tetapi saat mendengar gumaman, matanya langsung beralih memperhatikan apa yang dilakukan wanit itu. 


Ternyata wanita itu sedang menikmati aroma buku. Hal yang sama yang sering dia lakukan di toko buku. Hobinya memang bukan membaca, tetapi dia juga begitu menyukai aroma buku.


Mendengar Mara yang sedang berdebat membuatnya semakin memperhatikan dan mendapati wajah cantik tanpa riasan begitu memanjakan matanya. Hingga saat mendekat dengan alasan menjelaskan bagaimana aroma itu tercipta, membuatnya dapat melihat jelas wajah cantik itu. 


Wajah putih dengan bibir pink yang begitu kontras dengan warna kulit, begitu menggodanya. Tinggi badan Mara yang setinggi bahunya membuatnya lebih mudah memandangi wajah cantik itu. Agas benar-benar terhipnotis. Jika biasanya dia melihat wanita cantik dengan riasan tebal, kini dia melihat wanita cantik dari wajah tanpa riasan berlebihan.


“Aroma playboy mulai bangkit.” Suara Tara terdengar dan membuat Agas mengalihkan padangan pada temannya itu.


“Jiwa jomlo dalam diriku memberontak ingin diisi dengan kehangatan belaian,” ucap Agas dengan suara mendayu-dayu. 


Tara mendengus kesal. Begitulah Agas, tak pernah berubah, memacari para gadis dan meninggalkannya dengan mudah. “Bertobatlah, wahai engkau anak manusia!”


Tawa Agas terdengar saat mendengar ucapan temannya. “Nikmati cari pacar seperti kita cari hero,” ucap Agas, “coba dulu baru diteruskan,” imbuhnya seraya mengedipkan matanya.


Agas memangnya pemain cinta. Beberapa wanita cantik di kampusnya, dia pacari. Tak hanya itu, dia selalu dimanjakan oleh kekasihnya. Hingga pria 20 tahun itu tak perlu bersusah payah menikmati hidup mewah. 


Kuliah di salah satu Universitas negeri di kota Malang dan mengambil jurusan kedokteran, dia dikelilingi dengan wanita-wanita cantik dan kaya di kampusnya. Wajah tampannya memang mampu mendapatkan wanita mana yang dia suka.


Tara hanya bisa menggeleng. Mengabaikan Agas, Tara membayar buku yang dibelinya. “Ke mana setelah ini kita?” tanya Tara setelah membayar buku yang dibelinya. 


“Kafe biasanya.” Agas menjawab seraya melangkahkan kakinya meninggalkan toko buku. 


Tara tahu pasti apa yang akan dilakukan Agas di kafe. Apalagi jika bukan main game. “Jangan sampai malam, besok kita ada kelas pagi,” ucap Tara saat berjalan sejajar dengan Agas. Agas hanya menjawab dengan anggukan. 


***


“Apa kamu tadi tidak lihat bagaimana dia memandangi kita?” Mara bergidik ngeri membayangkan sorot mata Agas yang memandanginya.


“Memangnya dia tadi memandangi kita?” tanya Lili polos. 


Dia memang tidak memandangi kita, tetapi aku. 


Mara melihat jelas bagaimana Agas memandangnya bagai seekor harimau yang mengintai buruannya. Senyumannya seolah meyakini jika akan dapat buruannya.


“Sudah lupakan.” Mara mengajak Lili untuk kembali ke kosnya. Memakai helm miliknya, dia membonceng motor matic milik Lili. Membelah jalanan kota Malang, motor Lili melaju menuju kos yang sudah ditempatinya selama setahun ini. 


Sudah setahun ini Mara tinggal di kos karena harus menempuh pendidikan. Mengambil jurusan kedokteran, Mara ingin menjadi dokter. Mamanya yang meninggal karena sakit, membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Berharap, dia bisa menolong orang lain dengan ilmunya. Salah satu Universitas negeri di Malang menjadi pilihannya. Meninggalkan sang nenek yang tinggal di Surabaya.


“Kapan kamu bisa bawa motor, agar aku bisa bergantian membonceng?” Di dalam perjalanan ke kos Lili bertanya.


Mara hanya menjawab dengan tawa dan dilihat dari pantulan spion oleh Lili. Mara tidak akan pernah belajar naik motor karena neneknya tidak mengizinkannya.


 


Sejak tinggal dengan neneknya lima belas tahun lalu, Mara memang tidak bisa menolak permintaan sang nenek. Nenek Mara tidak mau sampai kehilangan cucunya, setelah kehilangan anaknya-mama Mara, dan Mara hanya bisa menuruti neneknya. 


“Sudahlah, kamu harus banyak membantu anak yatim piatu.” Mara menggoda Lili dan hanya mendapat cibiran bibir dari Lili. 


Sebenarnya Lili tidak sungguh-sungguh mengatakan akan hal itu. Dia sudah sangat kenal dengan Mara, jadi dia sudah tahu apa alasan Mara.