
Di kamar baju-baju berserakan. Beberapa ada di tempat tidur dan beberapa ada di lantai. Kamar yang tadinya rapi seketika seperti kapal pecah. Sudah tak beraturan.
Ghea yang berdiri di depan lemari, masih memilih-milih baju yang akan dibawanya. Namun, entah kenapa semakin banyak pilihan, semakin dia bingung. Yang ada dia hanya mengambil baju dan melemparnya ke tempat tidur. Sayangnya, tidak semua mendarat di tempat tidur. Sebagian jatuh ke lantai.
Alicia Ghea Adion-anak kedua dari pasangan Bryan Adion dan Olivia Shea itu rencananya akan pindah ke luar kota. Dia akan bekerja di salah satu Klinik di luar kota. Seminggu yang lalu, kakak sudah mencarikan tempat tinggal untuknya dan hari ini dia akan berangkat ke sana.
Suara pintu yang terdengar membuat gadis dua puluh enam tahun itu memundurkan tubuhnya. Melihat siapa yang berada di sana. Saat melihat mommy-nya yang datang, dia kembali pada posisi semula. Memilih baju. Mengabaikan sang mommy.
“Astaga, Ghe. Apa kamarmu ini baru saja diserang ****** beliung?” Mommy Shea yang melihat kamar anak gadisnya pora-poranda hanya bisa menggelengkan kepalanya. Merasa heran kenapa bisa anaknya itu bisa membuat kamarnya sekacau itu.
“Mom, bukan ****** beliung, tetapi angin tornado.” Ghea tertawa menggoda mommy-nya.
“Kalau seperti ini caranya, bagaimana bisa kamu dapat jodoh? ” Mommy Shea Menggerutu sambil memunguti pakaian di lantai.
“Apa hubungannya kamar berantakan dengan jodoh?” Ghea selalu pandai menjawab.
“Apa kamu mau membiarkan suamimu nanti tidur dengan kamar yang seperti ini.” Mommy Shea mengedarkan pandangan. Melihat baju yang berserakan.
“Kalau dia mau kenapa tidak?”
“Kamu ini.” Mommy Shea sudah baik darah. Kesal dengan anak perempuannya itu.
Ghea menghampiri sang mommy. Memeluk sang mommy dari belakang. “Kenapa harus marah-marah?”
Mommy Shea mengembuskan napasnya. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kamu sudah dua puluh enam tahun, Ghe, tetapi kamu masih sesuka hati dan ceroboh. Bagaimana nanti jika kamu di tempat baru? Tidak ada mommy. Tidak ada daddy.” Ada kekawatiran dalam ucapan wanita yang kini berusia kepala lima itu. Ini pertama kalinya anaknya jauh, dan membuatnya terasa berat sekali.
“Mom, semua itu naluri. Akan hadir dengan sendirinya. Tak perlu harus dipaksakan harus bisa ini, bisa itu.” Ghea melepas pelukan di tubuh mommy-nya. “Aku yakin, di sana aku akan bisa mengerjakan semua yang harus aku kerjakan.”
Mommy Shea malas jika harus berdebat dengan anak perempuannya. Selalu saja tidak ada kemenangan yang didapatkan. Anak perempuannya itu selalu saja bisa menjawab.
“Baiklah, selesaikan dan rapikan semuanya.” Mommy Shea yang melihat semua berantakan pun langsung pusing. Dia memilih segera keluar dari kamar putrinya.
Ghea hanya tersenyum. Inilah alasanya memilih untuk pindah ke kota lain. Setiap hari Ghea harus mendengar sang mommy yang terus saja menanyakan kapan dirinya menikah. Padahal belum bisa dia bangkit dari masa lalu.
“Sampai kapan dia masih berputar di otakku?”
Ghea tidak mengerti kenapa tidak bisa membuka hati untuk pria lain, atau sekadar melupakan pria yang pernah ada di hatinya. Kata orang cinta pertama selalu saja membekas di dalam hati. Kali ini Ghea benar-benar merasakannya.
Enam tahun sudah Ghea berpisah dengan kekasihnya, tetapi tak sedikit pun Ghea bisa melupakannya. Nama pria itu masih tersusun rapi di hatinya. Rowan Adlino Kavin-pria yang tak pernah Ghea sangka membuatnya jatuh cinta. Yang mengisi hari-harinya sejak sekolah menengah atas sampai di awal kuliah. Namun, pria itu juga yang menghancurkan hati Ghea. Meninggalkannya tanpa alasan jelas.
... ⭐⭐⭐...
Suara berisik yang terdengar, membuat Ghea yang sedang menuruni anak tangga, menebak jika itu adalah suara kakaknya. Suara berisik itu berasal dari keponakannya yang kini sudah berusia lima tahun. Dua keponakan sangat aktif hingga membuatnya pusing mendengarnya.
“Aunty Ghea.” Lean memanggil Ghea yang sedang menuruni anak tangga.
Ghea yang sedang mengangkat koper merasa kesulitan. Sejenak berhenti dulu agar tidak dapat mengatur deru napasnya.
“Di mana daddy-mu, bilang Aunty butuh bantuan.” Ghea yang kesulitan membawa kopernya.
“Daddy, Aunty butuh bantuan.” Kean yang berada di samping kembarannya itu langsung berteriak.
El-kakak Ghea yang sedang mengobrol dengan orang tuanya langsung menghampiri adiknya ketika suara anaknya memanggil. El yang melihat adiknya kesulitan membawa kopernya, hanya tersenyum. Kemudian membantunya.
“Baru angkat koper saja kamu butuh bantuan orang, bagaimana nanti kamu di sana. Siapa yang akan membantumu?” Sebenarnya El tidak rela jika adiknya menetap di luar kota. Adiknya itu bertahun-tahun tinggal bersama dengan orang tuanya, jadi pastinya dia akan sangat sulit untuk beradaptasi.
“Aku akan kuat nanti di sana. Aku di sini tidak kuat karena agar kamu itu berguna. Paling tidak sebagai kakak kamu berguna untuk membantu adiknya.” Ghea dengan yakinnya menjawab ucapan sang kakak. Sejujurnya, Ghea sendiri juga tidak yakin dia bisa tinggal sendiri di sana, tetapi tetap saja ini sudah menjadi keputusannya. Terlebih lagi ini adalah caranya untuk menghindar dari desakan menikah dari sang mommy.
“Kamu sudah siap?” Daddy Bryan yang melihat putrinya bersiap menghampiri.
Dari semua orang yang tidak rela Ghea ke luar kota, dia adalah yang paling vokal menentang. Daddy Bryan takut anak gadisnya jauh darinya. Mengingat di luar sana banyak pria-pria berengsek yang siap menerkam. Namun, sang anak meyakinkan jika dia akan menjaga diri baik-baik. Dia berjanji jika akan pulang seminggu sekali.
“Sudah, Dad.”
Daddy Bryan mengembuskan napasnya. Merasa masih berat melepas putrinya. Ghea yang melihat hal itu langsung memeluk sang daddy. Dia tahu jika sang daddy berat melepaskannya. Terlebih lagi Bian-adiknya belum kembali dari London, jadi yang pasti
“Daddy, pasti akan merindukanmu.” Daddy Bryan mendaratkan kecupan di puncak rambut anaknya.
“Kenapa kalian mellow seperti itu, aku hanya pergi ke kota sebelah, bukan ke luar negeri. Kapan pun kalian rindu, kalian bisa datang.” Ghea tidak habis pikir kenapa keluarganya pandai berdrama.
“Dasar, tidak mengerti suasana sedih,” cibir El.
“Sudah-sudah, nanti jalanan macet jika kalian tidak segera berangkat.” Freya-istri El menengahi.
Akhirnya Ghea berpamitan pada kedua orang tuanya. Berjanji akan pulang saat libur. Daddy Bryan dan Mommy Shea mau tidak mau melepaskan anaknya. Mereka merasa jika ini adalah yang terbaik untuk anaknya. Sebagai orang tua, mereka akan mendukung apa yang terbaik untuk anak-anaknya, terlebih lagi kini anak-anak sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan masing-masing.
Bersama El, Ghea berangkat. Dia berharap dapat menemukan kebahagiaannya. Melupakan masa lalunya di tempat yang akan dia datangi.