
“Apa kamu masih berusaha membatalkan semuanya?” tanya Al berbisik pada Shera.
Di sela-sela orang-orang yang masih memberikan ucapan, pertanyaan itu seketika membuat Shera kesal. “Aku akan tetap melakukannya.”
Al tersenyum tipis. Dia tidak menyangka jika Shera masih segigih itu. Padahal jelas-jelas mereka sudah diikat dengan hubungan pertunangan. “Baiklah, selamat mencoba.”
Shera menatap malas pada Al. Perang baru saja dimulai. Shera masih berkeyakinan jika Al tidak benar-benar mencintainya dengan tulus. Lamaran tiba-tiba Al itu pastinya memiliki maksud tertentu.
“Kakak selamat.” Ghea menghampiri Al dan Shera. Mereka berdua menautkan pipi ke pipi Shera.
“Terima kasih.” Shera memaksakan senyumnya.
“Aku mau ambil foto kalian. Akan aku berikan pada Kak El.” Ghea mengambil ponselnya dan berniat membidik foto.
“Ja—”
“Iya, berikan pada El foto terbaik kami.” Al merengkuh pinggang Shera membuat tunangannya itu berada dekat dengannya.
Mendapati tangan Al yang berada di pinggangnya membuat Shera langsung menoleh ke arah Al. Dengan tenangnya Al menatap Shera. Foto yang dibidik Ghea begitu tampak sempurna ketika dua insan itu saling menatap. Foto candid yang sempurna untuk diabadikan.
Bola mata biru milik Al begitu membuat Shera terhipnotis. Namun, buru-buru dia menghindari tatapan itu. Tak mau sampai ada perasaan cinta hadir di hatinya. Apalagi, dia masih ragu dengan perasaan cinta dari Al.
Perlahan Al melepas tangannya yang berada di pinggang Shera. Memberikan tunangannya itu ruang untuk menikmati perasaannya. Senyum tipis tertarik disudut bibir Al. Merasa kini dia bisa memiliki Shera.
Acara berjalan dengan lancar. Dari acara pertunangan diputuskan jika acara pernikahan akan diadakan tiga bulan dari hari pertunangan. Itu sesuai dengan permintaan Shera. Dia beralasan waktu sebulan yang
diajukan oleh keluarga terlalu cepat dan takut tidak akan cukup waktu untuk bersiap. Pihak keluarga pun menerima usulan Shera. Lagi pula tiga bulan waktu yang cukup untuk menyiapkan itu semua.
...🌺🌺🌺...
Acara akhirnya selesai. Keluarga Maxton berpamitan pada keluarga Wijaya sebagai tuan rumah. Dua keluarga yang kini sudah saling kenal itu, sudah tampak akrab. Mereka saling berjanji akan saling menghubungi untuk membahas kelangsungan dari rencana pernikahan putra-putri mereka.
“Jika nanti butuh bantuan, hubungi saja Mommy.” Mommy Selly membelai lembut bahu Shera. Sebagai orang tua, Selly senang sekali akan mendapatkan gadis cantik yang akan menjadi menantunya.
“Iya, Mom.” Sejak awal Shera tahu jika mommy dari Al itu lebih ramah dari anaknya. Jadi Shera pun sudah tidak canggung. Mungkin lebih tepatnya cenderung nyaman.
“Al kamu tidak berpamitan dengan Shera dulu.” Suara Mommy Shea terdengar membuat Al sedikit salah tingkah.
“Iya, pamitlah dulu sebelum kita pulang.” Mama Chika ikut menggoda Al.
Shera pun tak kalah salah tingkah. Malu sekali digoda orang-orang di sekitar. Al tidak punya pilihan selain menghampiri Shera. Menuruti apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya.
“Aku pulang dulu.” Kalimat singkat itu tidak ada mesranya sama sekali. Tidak menujukan jika mereka adalah pasangan yang baru saja mengikat sebuah hubungan.
“Iya.” Shera tak kalah singkat menjawab.
“Lihatlah, sudah mau menikah, tetapi mereka justru masih malu-malu seperti itu.” Daddy Bryan tertawa melihat aksi Al dan Shera.
Ucapan Daddy Bryan itu membuat semua ikut tertawa. Di mata mereka, obrolan singkat Al dan Shera karena mereka malu-malu. Padahal sebenarnya bukan itu yang terjadi. Namun. Al dan Shera memilih orang mengira akan hal itu saja. Dari pada mengira jika memang mereka sedang perang dingin.
...🌺🌺🌺...
Hari ini Shera sudah kembali beraktivitas kembali. Kemarin dia memutuskan untuk pulang ke apartemen. Tak mau tinggal di hotel atau pun di rumah mama dan papanya.
Baginya ketenangannya ada di apartemen.
Sayangnya, semua itu kini sirna. Karena sekali pun di apartemen, tetap saja hatinya tidak tenang seperti biasanya. Dia selalu memikirkan bagaimana mengakhiri hubungan dengan Al, mengingat dia tidak mencintai Al sama sekali.
Setelah siap, Shera memutuskan untuk berangkat. Baru saja dia membuka pintu, sudah dikejutkan dengan kehadiran Al di depan apartemennya.
“Kamu di sini?”
“Aku ingin mengantarmu ke kantor?”
Shera cukup terkejut dengan Al “Tapi, aku biasa berangkat sendiri.” Shera tak terbiasa yang namanya di antar jemput. Dia merasa jika agak sangat merepotkan, mengingat dia sering bertemu dengan klien.
Benar tebakan Al jika Shera tidak akan mau diantar. Dia sama sibuknya dengannya, pastinya diantar jemput akan sangat menyusahkan. Sebenarnya Al malas harus ke apartemen Shera. Namun, mommy-nya memintanya untuk mengantar Shera. Sebagai bukti perhatiannya sebagai tunangannya.
“Bagaimana jika kita sarapan saja?” Al tak mau usahanya datang sia-sia.
Shera melihat waktu di jam tangannya. Masih ada waktu untuknya menikmati sarapan. Jadi tidak ada salahnya menolak ajakan Al.
“Baiklah, kita sarapan di restoran dekat sini saja.” Shera menutup apartemennya dan ikut dengan Al untuk sarapan.
Mereka memesan beberapa kue dan secangkir kopi, mereka menikmati sarapan. Shera memang jarang sekali sarapan, jadi tak bisa makan banyak di pagi hari.
“Kenapa menjemputku?” tanya Shera yang membuka obrolan.
“Mommy yang suruh,” jawab Al, kemudian menyesap teh miliknya.
Shera sudah menebak jika ternyata Al datang bukan niat sendiri. Melainkan permintaan mommy-nya, dan itu membuatnya sedikit kecewa.
“Aku biasa berangkat sendiri. Jadi tidak perlu dijemput atau pun diantar.”
“Baiklah.”
Tak ada obrolan berarti. Mereka menikmati sarapan dan kemudian memilih untuk berangkat bekerja. Al dengan mobilnya sendiri dan begitu pun Shera dengan mobilnya sendiri.
“Cinta apa? Jemput saja harus disuruh orang tuanya.” Entah kenapa Shera merasa kesal. Dia seolah ingin Al menjemput karena dia mencintai. “Astaga, apa aku berharap dia benar-benar mencintai aku?” Shera menggeleng. Tak mau sampai terjebak. Dia masih tak percaya dengan Al.
...🌺🌺🌺...
Shera sibuk dengan pekerjaanya. Pembangunan hotel masih berlangsung. Pihak Adion cukup cepat mengerjakan pembangunan. Terhitung sudah hampir enam bulan ini sudah seperempat jadi. Dilihat dari pengerjaan, diperkirakan tidak sampai dua tahun.
Suara ketukan pintu terdengar. Shera yang sedang mengerjakan pekerjaanya beralih menatap pintu. Tampak sang sekretarisnya masuk ke ruangan.
“Bawa apa kamu?” tanya Shera.
“Ini ada kiriman makanan untuk, Ibu.”
Sekretaris Shera menaruh kantung berisi makanan di atas meja.
Dahi Shera berkerut dalam. Netranya terus menatap makanan di hadapannya. Seingatnya, dia tidak memesan makanan. Karena penasaran, Shera membukanya. Tidak ada nama pengirimnya.
“Aku tidak memesan makanan, sebaiknya untukmu saja.”
“Untuk saya, Bu?” tanya sekretaris Shera berbinar. Kapan lagi mendapatkan makanan gratis.
“Iya.”
Dengan senang hati sang sekretaris mengambil kembali makanan yang ditaruh di meja. Kemudian keluar dari ruangan Shera.
Shera hanya bergidik ngeri. Takut jika kiriman makan dicampur racun. Saat masih dengan pikirannya, suara ponsel Shera berdering. Membuat Shera langsung meraih benda pipih itu.
“Al?” Mata Shera memicingkan matanya melihat Al menghubunginya. Tak butuh waktu lama, dia mengangkat sambungan telepon. “Ada apa?” tanyanya tanpa berbasa-basi.
“Apa makanan yang kamu kirim sudah datang?”
Shera membulatkan matanya mendengar ucapan Al. Dia tidak tahu jika ternyata Al yang mengirimnya. “Em … sudah.”
“Baiklah, makanlah.” Suara Al terdengar dingin, tetapi penuh perhatian.
“Iya.” Shera mematikan sambungan telepon.
Dengan langkah seribu, Shera langsung lari keluar. Menemui sekretarisnya. “Adel …,” panggil Shera. Netranya menatap ke arah sekeliling. Mencari di mana sekretarisnya meletakkan makanan.
“Iya, Bu.” Sekretaris Shera tampak bingung dengan atasannya yang lari-lari.
“Mana makanan yang tadi aku berikan?”
Adel masih bingung, tetapi tetap langsung mengambil makanan yang tadi diberikan oleh Shera. “Ini, Bu.”
Shera bersyukur makanan itu belum dimakan. “Tunggu!” Dia masuk ke ruangannya dan kembali ke meja sekretarisnya sesaat kemudian. Shera yang membawa dompet, mengambil beberapa lembar uang dan memberikan pada sekretarisnya. “Ini, makanlah di luar. Makanan ini biar aku yang makan.”
Adel tercengang saat atasannya memberikan beberapa lembar uang hanya untuk menukar makanan yang tadi diberikan. Tak mau kehilangan kesempatan. Dia pun menerima dan memberikan makanan itu pada atasannya.
Mendapati makanan di tangannya, Shera buru-buru masuk ke ruangannya. Senyumnya tertarik di sudut bibirnya ketika melihat makanan di hadapannya. Perasaannya seketika bahagia saat tahu jika itu adalah makanan dari Al.
Namun, sesaat kemudian dia tersadar. “Apa-apa aku ini?” Sambil mendudukkan tubuhnya di sofa dia menggeleng. Merasa heran kenapa bisa dia sebegitu bahagiannya. “Paling juga mommy-nya yang menyuruhnya.” Shera memutar bola matanya malas.
“Persetan dia sendiri atau bukan.” Shera yang merasa tidak mau ambil pusing pun membuka makanan dan memakannya. Apalagi dia sudah kehilangan beberapa lembar uang untuk menembus kembali makanannya.