My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Double D Bab 7



“Dean.” Mama Lyra yang masuk ke rumah memanggil anaknya. Padahal dia baru keluar dari mobil. 


Dean yang mendengar suara sang mama segera menghampiri sang mama. Dia ingin begitu merindukan sang mama tercinta. Tepat di depan pintu, sang mama langsung memeluknya. 


“Anak Mama.” Mama Lyra begitu senang ketika melihat sang anak. Dia melepaskan pelukan dan beralih untuk memberikan kecupan pada Dean. 


“Ma, aku bukan anak kecil.” Dean yang cium oleh sang mama secara bertubi-tubi merasa risih. 


“Uncle Dean dicium-cium.” Kean dan Lean yang melihat Dean dicium merasa terkejut.


“Ma, lihat mereka menertawakan aku.” Dean berusaha untuk melepaskan diri dari sang mama. 


Mama Lyra terpaksa melepaskan sang anak. Dean yang lepas dari sang mama segera mengejar keponakannya itu. Tak akan memberikan ampun dua bocah kecil itu. Ketika tertangkap, Dean bergantian mendaratkan kecupan di pipi mereka. Membuat mereka merasa geli. 


Mama Lyra menghampiri keluarganya. Menyapa satu per satu mereka yang sudah datang. Apalagi mereka pasti sudah memberikan kejutan pada anaknya. 


“Terima kasih sudah menyambut Dean.” Mama Lyra tersenyum pada Mommy Shea, Mommy Selly, dan Mama Chika. Merekalah yang menyambut anaknya. Tadi, dia harus menangani pasien yang akan melahirkan, jadi dia harus merelakan untuk menyambut sang anak.


“Tenanglah, tidak masalah. Kami senang melakukannya.” Mommy Shea tersenyum sambil menepuk bahu Mama Lyra. 


“Lagi pula Dean sudah seperti anak kami.” Mommy Selly ikut menimpali. 


“Benar kata Shea dan Kak Selly.” Mama Chika menimpali. 


Mama Lyra tersenyum. Merasa senang karena banyak orang yang menyayangi Dean. Sejak kecil kesibukannya sebagai dokter memang membuatnya terkadang menitipkan Dean pada Mommy Shea, Mommy Selly, bahkan Mama Chika. 


Suasana begitu ramai. Anak-anak bermain riang sambil menikmati camilan yang sudah disiapkan. Para wanita menyiapkan makanan malam untuk menyiapkan makan siang untuk mereka semua. 


Di saat para wanita sibuk menyiapkan makanan, mereka para pria sibuk mengobrol. 


“Jadi kamu akan mulai bekerja kapan?” Daddy Regan yang merupakan kakak sepupu dari papa Dean melemparkan pertanyaan. 


“Secepatnya, Dad. Aku juga bosan jika harus di rumah.” Dean merasa jika lebih cepat dia bekerja akan jauh lebih baik. 


“Harusnya kamu nikmati dulu waktumu, jangan langsung bekerja.” El menepuk bahu sepupu jauhnya itu. 


“Iya, kita minum kopi dulu.” Al menimpali ucapan dari sepupunya. 


“Baiklah, besok kita ke restoran.” Rowan ikut menimpali.


“Baiklah, kita besok ke sana.” Dean tidak akan melepaskan kesempatan untuk berkumpul dengan sepupu, kakak, dan iparnya. 


“Lihatlah, kita sudah punya generasi penerus. Berasa melihat kita muda dulu.” Daddy Bryan melihat Daddy Regan, Papa Erix, dan Papa Felix. 


Empat pria paruh baya itu tertawa. Mereka seperti berkaca pada diri sendiri. Anak-anak memang memiliki kedekatan satu dengan yang lain. Hal itu tentu saja membuat semua para orang tua tenang. Kelak, mereka akan saling ada untuk satu dengan yang lain. 


“Iya, bedanya mereka lebih baik dibanding kita.” Papa Felix tertawa. Kelakuan mereka jaman muda.


“Itu hanya kalian berdua. Kami tidak.” Papa Erix menimpali sambil menatap Daddy Regan. Mereka berdua adalah dua orang yang baik dalam pergaulan. 


“Nikmati sebelum bertobat, agar saat tobat sungguh-sungguh.” Daddy Bryan menimpali obrolan. Sejak menikah, memang dia benar-benar tidak macam-macam lagi. 


Semua tertawa. Daddy Bryan adalah bukti nyata jika dia benar-benar menjadi lebih baik. Jadi mereka tidak bisa membantah ucapan pria paruh baya itu. 


Acara berlanjut dengan makan siang bersama. Suasana begitu ramai. Apalagi anak-anak kecil di rumah. Membuat suasana rumah begitu ramai. Keseruan begitu terasa sekali. Dean selalu merindukan hal-hal seperti ini. Jadi wajar saja dia benar-benar merindukan hal ini. 


Dean bersiap di depan cermin. Memakai gel rambut untuk membuat rambutnya terlihat rapi. Tak lupa dia menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. Hari ini dia akan pergi ke Rumah sakit, tapi setelah menikmati minum kopi bersama dengan sepupu-sepupunya. Kemarin, mereka sudah sepakat jika akan pagi hari menikmati kopi. Jadi pagi ini Dean akan ke restoran lebih dulu baru ke Rumah sakit. 


Setelah siap, Dean segera keluar dari kamarnya. Bergabung dengan mama dan papanya untuk sarapan.  Dean tampil kasual dengan celana jeans dan kaos saja. Terlihat santai, karena memang dia sedang tidak bekerja. 


“Pagi.” Dean menyapa kedua orang tuanya. Dia menautkan pipinya pada pipi sang mama. 


“Pagi, Sayang.” Mama Lyra tersenyum ketika melihat sang anak yang bergabung sarapan dengannya. 


“Hari ini kamu ke Rumah sakit bukan?” Papa Erix menatap Dean. 


“Iya, aku akan ke Rumah sakit setelah dari restoran.” Dean mengambil salad buah dan sayuran yang disiapkan untuknya. 


“Nanti jangan lupa mampir ke ruangan Mama.” Mama Lyra tersenyum. 


Dean yang menyuap salad buah dan sayur ke dalam mulutnya menoleh ke arah sang mama. Dia menautkan kedua alisnya. Merasa aneh dengan permintaan sang mama. 


“Au apa ama meminta aku—” 


“Kunyah dulu baru bicara.” Mama Lyra yang melihat sang anak makan sambil bicara pun langsung menegurnya. 


Dean segera mengunyah makanan di mulutnya. Kemudian menelannya. Baru setelah makanan tertelan sempurna, dia mulai berbicara. “Kenapa aku harus ke ruangan Mama?” Dia begitu penasaran sekali dengan permintaan sang mama. 


“Mama mau pamer jika anak Mama dokter muda yang tampan. Siapa tahu ada dokter atau perawat yang tertarik.” Dengan polosnya Mama Lyra menyampaikan niatnya. 


Dean menautkan alisnya. Sungguh tak disangka mamanya berniat untuk memamerkan dirinya. 


“Kamu juga lihat-lihat siapa tahu juga ada dokter muda yang kamu suka. Ya, kalau tidak ada dokter, perawat juga boleh. Tidak masalah kasta. Mama tidak memandang itu.” Mama Lyra kembali memberikan wejangannya. 


“Ma, kenapa harus bahas itu pagi-pagi.” Dean hanya memutar bola matanya malas. 


“Apa kamu tahu, Ghea sudah punya menikah dan punya anak. Cia juga sudah punya dua anak. Jadi tinggal kamu saja yang seumuran mereka yang belum menikah.”


“Mereka perempuan, Ma. Aku laki-laki. Aku bisa menikah umur berapa saja.” 


“Tetap saja, Mama mau menimang cucu secepatnya. Jadi kamu harus segera menikah.” 


Pembahasan tentang menikah akan menjadi topik pagi ini tentunya membuat Dean merasa kesal. Dia akan tetap kalah jika berdebat dengan sang mama. 


“Aku sudah selesai makan. Bertemu di Rumah sakit.” Dean segera bangkit dari duduknya. Dia menautkan pipi pada sang mama, dan melambaikan tangan pada sang papa. Alih-alih menanggapi sang mama, Dean memilih untuk kabur.


 


“Selalusaja jika membahas pernikahan kabur.” Mama Lyra kesal dengan putranya itu. Dia tahu anaknya itu sedang menghindar. 


“Sudahlah, dia juga baru datang. Biarkan dia bekerja dulu.” Papa Erix berusaha membela. 


“Apa kamu mau kita tua dan belum punya cucu? Lihatlah Kak Selly, Shea, Chika sudah punya cucu. Kita belum!” Mama Lyra menatap tajam sang suami. 


Papa Erix memilih menutup rapat mulutnya. Dia tidak mau jadi sasaran kekesalan sang istri yang meminta sang anak untuk menikah. 


“Aku akan buat anak kita segera menikah.” 


Papa Erix hanya menarik senyumnya terpaksa. Dia tak berani melawan titah sang istri. Dari pada urusannya panjang, lebih baik dia memilih untuk membiarkan sang istri melakukan apa yang diinginkannya.