
El dan Noah sampai di rumah. Rumah tampak sepi. Tak ada seseorang pun di rumah. Mereka tahu ke mana orang-orang itu pergi. Bian sedang di kampus, sedangkan Freya menemani Cia di kamar.
“Mau soda?” tanya El.
“Boleh.” Noah menatap sejenak pada El dan kembali menatap di mana kamar Cia berada. Sambil mendudukkan tubuhnya, pandangannya tak teralih sama sekali.
“Ini.” El memberikan minuman soda pada Noah.
Noah menerima minuman dan membukanya. Walaupun tadi sempat minum, tetapi tenggorokannya masih terasa haus. Satu kaleng soda langsung habis saat Noah meminumnya.
“Sepertinya kamu haus.”
“Biasanya musim gugur tidak akan sepanas ini. Namun, entah kenapa terasa panas.”
El hanya tersenyum melihat temannya.
“Kalian sudah kembali.” Suara Freya terdengar saat keluar dari kamar. Dia bergegas menghampiri suaminya. Tangannya yang langsung melepas gagang pintu, membuat pintu tidak sempurna tertutup.
“Sudah,” jawab El seraya meletakkan kaleng soda.
“Bagaimana hasilnya? Apa kalian menemukan pria itu?” Sambil mendudukkan tubuhnya, Freya mencecar pertanyaan pada suaminya.
“Tidak.” El mengembuskan napasnya. Merasa sangat berat sekali karena mendapati kenyataan tak sesuai dengan harapannya.
Dahi Freya berkerut dalam. Bagaimana bisa suaminya tidak menemukannya. “Kalian tinggal melihat CCTV, kenapa bisa tidak dapat?”
El mengembuskan napasnya. “CCTV dalam perbaikan saat malam Cia dan pria itu datang. Saat pagi CCTV justru semakin rusak karena menampilkan layar buram. Jadi kami tidak bisa mendapatkan pria itu.” Walaupun terlihat ada pria yang keluar dari kamar Cia, tetapi El tidak dapat melihat jelas wajah pria itu.
Air mata Freya mengalir. Rasanya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jika Cia hamil dan ada pria yang dimintai pertanggungjawaban, akan mudah menjelaskan pada papanya. Namun, saat tidak ada yang mau bertanggungjawab, pasti papanya akan murka.
“Jika tidak ada yang bertanggungjawab, lalu bagaimana nasib Cia?”
El membawa Freya dalam pelukannya. Dia pun memikirkan hal yang sama. Namun, dia bingung harus berbuat apa. Untuk saat ini dia hanya bisa menenangkan istrinya.
“Bolehkan aku melihat Cia.”
Suara Noah membuat Freya menghentikan tangisnya. Dia mengangguk dan mempersilakan untuk Noah ke kamar.
Noah mengayunkan langakahnya ke kamar Cia. Pintu yang tidak tertutup sempurna membuatnya dapat mengintip Cia. Dilihatnya gadis itu meringkuk di tempat tidur. Sudah lama, Noah tidak bertemu dengan Cia. Terakhir kali saat dia datang ke kantor dan mungkin sebelum kejadian naas itu.
Tak kuasa melihat Cia, Noah berbalik. Kembali ke ruang keluarga, menyusul El dan istrinya. Noah duduk kembali. Pikirannya melayang memikirkan nasib Cia. “Jika Cia hamil, biarkan aku yang bertanggung jawab.” Noah menawarkan dirinya untuk menjadi daddy dari anak yang dikandung Cia.
Freya yang berada dalam pelukan El, langsung mengalihkan pandangan ke arah Noah. Melepas pelukan dan menatap lekat wajah Noah yang tampak tidak ada keraguan di dalamnya. El pun tak kalah terkejut dengan apa yang diucapkan Noah.
“Apa kamu yakin?” tanya Freya memastikan.
“Aku akan menerima Cia dan anaknya. Menjaga mereka sepenuh hati.”
Ada perasaan bahagia meliputi hati Freya. Jika Noah mau menjadi ayah dari bayi yang dikandung Cia, paling tidak akan lebih mudah mengatakan pada papanya.
“Terima kasih, tetapi tidak perlu bertanggung jawab untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu. Aku akan bertanggung jawab sendiri atas kesalahanku. Aku akan menjaga dan merawat anakku sendiri, hingga dia merasa jika ibunya begitu sempurna.” Cia dengan tegas menolak.
“Cia, dengarkan dulu.” Freya berdiri.
Menghampiri adiknya. “Dengar, Noah berniat baik, jadi apa salahnya?”
“Tidak. Aku yang melakukan kesalahan. Jadi biarkan aku yang menanggungnya sendiri.”
“Dengarkan, Kakak. Noah dengan suka rela menerimamu. Ini akan membuat keadaan lebih baik. Papa akan dengan mudah memaafkan semuanya.” Freya mencoba membujuk Cia.
“Apa menurut Kak Freya jika tidak ada pria yang bertanggung jawab artinya papa tidak akan menerima aku?” tanya Cia berkaca-kaca.
“Bukan begitu maksud aku.” Freya bingung dalam situasi ini.
“Jika memang papa dan mama tidak mau menerima aku. Biarkan aku hidup sendiri dengan anakku saja.” Air mata tak tertahan lagi dan jatuh tepat di pipi putih yang tampak pucat.
“Bukan begitu maksud aku.” Freya membawa Cia ke dalam pelukannya. “Kamu punya aku, punya El, punya mama, papa. Kamu tidak akan hidup sendiri. Ada kami.”
“Lalu kenapa Kak Freya harus melibatkan orang lain dalam masalah ini. Biarkan kita saja yang menjalani ini.” Dalam pelukan kakaknya, Cia menangis. “Bukankah, Kak Freya bilang bayi ini tidak berdosa. Jadi apa kalian akan menolaknya?”
“Tidak, tentu saja tidak. Kami akan menerimanya. Memberikan kebahagiaan untuknya.” Freya melepaskan pelukannya. “El akan menjadi daddy terhebat untuk anakmu. Hingga dia tidak akan pernah merasakan kekurangan cinta dari seorang ayah.”
“Kak.”
Freya membawa kembali Cia dalam pelukannya. Cia sudah mau menerima anaknya saja, sudah menjadi hal berharga untuknya. Untuk masalah papanya. Freya dan El akan memikirkannya nanti.
El menghampiri istri dan adik iparnya. “Ada kami. Jangan khawatirkan apa-apa. Masalahmu adalah masalah kami juga. Jadi tenanglah.” El memeluk istrinya yang sedang memeluk adiknya.
Di dalam pelukan kakaknya, Cia mengangguk. Mungkin hidupnya hancur, tetapi keluarganya tak ada yang meninggalkannya. Bagaimana kakak dan kakak iparnya menyayanginya sudah lebih dari cukup untuk bekal Cia ke depan. Cia yakin, anaknya akan tumbuh dengan baik dikelilingi orang-orang yang begitu penyayang.
“Pergilah istrirahat. Jangan banyak pikiran. Tidak baik untuk ibu hamil.” El yang melepas Cia, langsung membelai lembut pipi adiknya. Menghapus air mata yang masih terus mengalir. El menatap istrinya. Memberikan kode untuk membawa adiknya ke kamar.
Freya membawa Cia ke kamar. Menenangkan adiknya yang masih terus menangis. Dia meminta adiknya untuk tidak menangis, mengingat jika akan berdampak pada kandungan Cia.
El berbalik. Menatap Noah yang baru saja menyaksikan drama keluarga yang baru saja terjadi. “Terima kasih atas niat baikmu, tetapi sepertinya Cia tidak bisa menerima.”
Noah memaksakan senyumnya. “Tidak masalah. Aku hanya tidak tega saja. Maka dari itu menawarkan diri.”
“Terima kasih.” El menghampiri Noah dan duduk di sofa. Mereka melanjutkan obrolan. Sesaat kemudian, Noah berpamitan pulang. Membiarkan El menyelesaikan masalahnya.
...🌺🌺🌺...
Cia jauh lebih tenang. Dia berkali-kali mengatakan jika dia akan menjaga anaknya dengan baik. Freya yang mendengar merasa sangat senang. Paling tidak ini adalah tahap awal. Saat Cia sudah menerima anaknya. Semua akan semakin mudah dijalani.
“Bagaimana kita bicara dengan papa?” tanya Freya.
“Yang terpenting bukan bagaimana bicara dengan papa untuk saat ini. Yang terpenting kita bawa Cia kembali ke Indonesia lebih dulu.” El sudah memutuskan untuk segera membawa Cia. Suasana rumah dengan banyak keluarga akan membuat Cia cepat pulih. Lagi pula, semua harus cepat selesai agar tidak berlarut-larut dan berdampak pada kandungan Cia.
“Baiklah kita bawa Cia segera pulang.”
El mengangguk.