My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Dean & Dearra Bab 2



Seoarang pria keluar dari kamar sambil menggosok-gosokkan kepalanya yang basah. Sambil terus menggosok rambutnya, dia mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang keluarga.  Segera dia membuka laptop yang diletakkannya di meja. Dean menghidupkan laptopnya untuk mengecek pesan yang masuk ke surelnya. 


Pria bernama lengkap Dean Zachary Maxton itu tersenyum ketika melihat siapa yang mengirimi pesan ke surel miliknya. Rasa penasaran pria tiga puluh tahun itu membuatnya segera membuka pesan itu. 


Tawanya langsung pecah ketika membaca paragraf pertama. Sungguh membaca pesan dari gadis di seberang sana membuatnya mendapatkan hiburan sendiri. 


“Selalu bisa membuatku tertawa.” Dean memegangi perutnya. Jika biasanya dia membuat orang tertawa, tetapi kini dialah yang dibuat orang tertawa. 


Dean sejenak mengingat pertemuannya dengan Arra. Gadis itu adalah adik dari temannya. Mereka bertemu di pesta. Waktu itu dia melihat seorang anak remaja yang begitu menggemaskan menyapanya. Dean pikir dia tidak akan berurusan dengan gadis itu lagi, hingga akhirnya dia kembali berurusan dengan gadis itu ketika mengurus bea siswanya. 


Waktu itu sebenarnya Dean ingin membantu Raya mendapatkan bea siswa dari Maxton Hospital, sayangnya wanita itu justru menego adiknya saja yang dapat bea siswa. Terpaksa Dean mengiyakan saja.  Setelah diurus, ternyata Maxton tidak bisa memberikan beasiswa selain pada dokter yang bekerja di Rumah sakitnya. Hal itu membuat Dean memutar otak. Hingga akhirnya, dia memutuskan membiayai sendiri kuliah Arra. Namun, tetap mengatasnamakan Maxton Company.


Dean kembali membaca pesan yang dikirim Arra. Dia memahami sesuatu yang sedang dirasakan oleh Arra. Karena itu, dia pun segera membalasnya. 


Hai, Arra. 


Aku hanya menyarankan kamu untuk cuti kuliah dan mencari pekerjaan. Mungkin itu akan membantu jika kamu sedang kesulitan. 


Pesan singkat itu dikirim oleh Dean. Dia berharap itu bisa menjadi solusi. 


Terkadang Dean merasa walaupun dia tidak pernah bertemu dengan Arra, tetapi dia merasa begitu dekat. Dia selalu membaca cerita Arra di sela-sela waktunya yang padat. Cerita yang dikirim Arra membuatnya selalu tertawa. Karena ada saja hal lucu yang diceritakannya. 


Beralih ke pesan lain, dia mendapatkan pesan jika sang papa sudah mendaftarkannya sebagai dokter spesialis jantung di Rumah sakit. Tentu saja hal itu membuat Dean harus segera pulang. Tidak terasa akhirnya study-nya di London selesai juga. Kini Dean akan kembali ke Indonesia dan memulai pekerjaaanya sebagai dokter spesialis jantung. Dia berharap semua sesuai dengan harapannya. Bekerja dan mengembangkan Maxton Hospital menjadi Rumah sakit terbaik.  


“Melihatmu tertawa malam-malam membuatku takut, Kak.” Bian duduk sambil membuka kaleng soda yang berada di tangannya. Senyumnya penuh arti meledek pada Dean. 


Selama ini Dean tinggal dengan Bian di rumah keluarga Maxton. Rumah yang berada di pusat kota itu memang memudahkan untuk mereka ke mana saja.


“Kamu pikir aku hantu. Menakutkan!” Dean melempar bantal sofa pada Bian. Namun, dengan cepat ditangkap oleh Bian. Tawa Bian pun terdengar renyah sekali. 


“Siapa yang mengirimu pesan hingga membuatmu tertawa?” Bian begitu penasaran sekali dengan apa yang dilakukan Dean. 


“Hanya seorang anak kecil.” Dean kembali tersenyum ketika mengingat gadis bernama Arra yang merupakan adik temannya itu. 


“Apa sekarang kamu merangkap jadi dokter anak, Kak?” Bian menatap dengan penuh rasa penasaran. Dia menganggap serius ucapan Dean.


Dean menepuk dahinya. Sepupunya itu terlalu serius menanggapi ucapannya. “Ini bukan anak kecil sesungguhnya.” 


“Anak kecil yang bisa membuat anak kecil maksudnya?” Senyum Bian tertarik di sudut bibirnya. Senyuman yang penuh arti. 


“Astaga! Dasar mesum!” Bian melempar bantal sofa kembali pada Bian. Benar-benar otak Bian sudah terkontaminasi dengan kemesuman yang hakiki. 


Tawa Bian pecah. “Cobalah berpacaran, Kak. Agar tahu rasanya.” Bian menegak minuman soda yang dipegangnya dari tadi. 


“Berhentilah berganti-ganti pacar.” Sebagai pria yang lebih tua, Dean memberitahu. 


“Aku hanya mencari yang pas.” Bukan Bian jika tidak mengelak. 


“Pas apa?” Dean menautkan kedua alisnya. Bingung dengan ucapan Bian. 


“Pas di tangan.” Bian menujukan telapak tangannya yang lebar itu. 


“Astaga.” Dean hanya menggeleng heran. Dia mengerti ke mana arah pembicaraan pemuda yang usianya tiga tahun lebih muda dibanding dirinya itu. 


Bian hanya tertawa. Memang begitulah mereka selama ini mengisi waktu di sela beristirahat. Seharian bekerja memang membuat Bian pusing. Begitu pun dengan Dean yang juga kadang jenuh ketika kuliah hanya bisa bersenang-senang dengan bercerita dan bercanda. 


“Apa barang-barangmu sudah rapi semua?” Bian menatap Dean yang sedang menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja. 


“Sudah.” Rencananya seminggu lagi Dean akan kembali ke Indonesia. Dia akan mulai bekerja di Rumah sakit milik keluarganya. “Apa kamu tidak akan kembali?” Dean tersenyum pada pria dua puluh tujuh tahun itu. 


“Aku masih betah di sini.” Bian memang belum berniat pulang. Dia masih suka berada di negera Ratu Elisabeth itu. 


“Kasihan sekali daddy-mu harus bekerja terus di masa tuanya.” Dean tahu pasti jika keluarga Bian memintanya pulang. Hanya saja justru Bian tidak kunjung pulang. Dia justru kini menempuh pendidikan S2 di London. Untuk beralasan tetap tinggal di London. 


“Kata orang bekerja bisa membuat jiwa salalu muda. Jadi aku sedang memberikan kesempatan daddy menjadi muda.” 


Dean langsung tertawa. Bisa saja Bian menjawabnya.  “Sudah, aku mau tidur. Setelah aku kembali, kamu akan sendiri.” Dean berangsur berdiri sambil meledek Bian. Dia meraih laptop miliknya untuk dibawa ke kamarnya.


“Siapa bilang aku sendiri. Ada Kak Cia dan Kak Noah di sini. Belum lagi ada Rylan dan Retta. Kamu pulang pun aku tidak akan kesepian.” Bian meledek Bian. 


Dean tersenyum. Rylan dab Retta yang tinggal di London sekarang memang membuat suasana semakin ramai. Saat akhir pekan mereka selalu berkumpul, dan itu memang sangat menyenangkan. “Baiklah, tapi jangan terlalu keasyikan di sini hingga kamu pulang untuk pulang.” Dean mengayunkan langkahnya. Meninggalkan Bian di ruang keluarga. 


“Aku heran, kenapa orang-orang selalu berusaha membuatku pulang.” Bian menyandarkan tubuhnya di sofa. 


Dean yang masuk ke kamar meletakkan laptopnya di kamar. Segera dia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Beberapa hari ini dia disibukkan mengurus kepulangannya. Jadi cukup melelahkan. 


Dean menatap langit-langit kamarnya. Rasanya baru kemarin dia memutuskan untuk ke London, dan sekarang dia pulang. Dean tidak bisa bayangkan akan seperti apa tinggal di Indonesia, dan lagi dia harus bertemu dengan wanita yang pernah ada di dalam relung hatinya. 


Ghea-wanita yang ada di hati Dean. Dia adalah teman kecilnya hingga dewasa. Sayangnya, takdir berkata lain. Ghea mencintai orang lain dan kini dia sudah memiliki suami dan anak. Miris sekali nasib Dean. Sekali mencintai, dia harus patah hati. 


Dean menyingkirkan pikiran itu dalam kepalanya. Tak mau terus mengingat wanita yang sudah menjadi istri orang itu. Yang dia pikirkan adalah besok harus pulang. Tentu saja pekerjaannya akan sangat banyak, karena itu adalah Rumah sakit milik keluarganya. 


Perlahan Dean memejamkan matanya. Berharap esok akan menjadi hari baru untuknya.