
Tok ... tok ....
Tok ... tok ....
Suara pintu diketuk tak henti-hentinya terdengar. Agas yang baru saja menikmati waktu tidurnya merasa sangat terganggu. Karena suara ketukan pintu tak kunjung berhenti, akhirnya Agas bangun dan membuka pintu.
“Antar Mama ke rumah Nora.”
Ketika pintu dibuka, permintaan Aina terdengar. Membuat Agas langsung berbalik.
“Gas,” panggil Aina seraya menarik tangan Agas dan membuatnya kembali berbalik.
“Aku mengantuk. Mama, pergi saja sendiri.”
“Mama tidak tahu alamat rumahnya.”
“Aku akan berikan.” Agas masuk ke kamar, kemudian keluar dengan secarik kertas. “Ini.”
“Ma—”
Belum selesai Aina bicara Agas sudah menutup pintunya. Dia pasrah ketika Agas tidak bisa mengantarnya. Lagi pula jika Agas mengantarnya, anaknya itu akan tahu rencananya.
Dengan secarik kertas, Aina pergi ke rumah Nora.
Berbekal alamat yang diberikan oleh Agas, akhirnya Aina dapat menemukan rumah Nora. Dengan sopan Aina mengetuk pintu, menunggu seseorang di balik pintu membukanya.
Seorang nenek yang mungkin usianya sekitar enam puluh tahun membuka pintu. Aina sudah menebak jika itu pasti Nenek Nora yang pernah diceritakan.
“Selamat pagi, Bu.”
Rahmi memerhatikan wanita paruh baya yang mungkin usainya seusia mendiang menantunya. “Pagi. Cari siapa ya?” tanyanya karena tidak kenal.
“Saya Aina-mamanya Agas.” Aina mengulurkan tangannya.
Mendapati nama Agas disebut, Rahmi baru tahu. Dia sudah terlalu sering mendengar nama Agas dari bibir Nora, jadi dia sudah hafal siapa pria itu.
“Rahmi,” ucapnya seraya menerima uluran tangan Aina. “Ayo, silakan masuk.”
Aina masuk ke dalam rumah. Rumah cukup nyaman walaupun ukurannya tak sebesar rumahnya. Kursi kuno menjadi pemandangan indah di ruang tamu. Beberapa pajangan tepo dulu pun menghiasi rumah. Terlihat klasik.
Rahmi berlalu ke dapur. Menyiapkan minuman untuk tamunya. Sesaat kemudian, dia kembali dengan nampan yang berisi dua cangkir teh.
“Silakan diminum,” ucapnya seraya meletakkan cangkir di atas meja.
“Terima kasih.” Aina tersenyum.
“Mohon maaf Nora sedang ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan.” Rahmi menebak jika kedatangan Aina adalah untuk bertemu dengan cucunya.
“Kebetulan saya tidak hanya ingin bertemu dengan Nora. Saya juga ingin berkenalan dengan Ibu.”
Rahmi tertawa. “Senang sekali bisa bertemu dengan ibu dari pria yang selalu di ceritakan Nora.”
Mereka saling mengobrol. Aina menanyakan tentang Nora pada neneknya. Sesekali juga memuji gadis cantik itu. Obrolan pun tak lepas dari Agas. Rahmi yang mendapati cerita tentang Agas juga merasa sedih. Merasakan apa yang dirasakan oleh Aina sebagai orang tua.
Saat asyik mengobrol Nora datang. Dia terkejut dengan kedatangan Aina ke rumahnya.
“Apa Tante sudah lama?” tanya Nora.
“Sudah sekitar tiga puluh menit. Karena asyik mengobrol dengan nenekmu jadi tidak terasa.”
“Syukurlah,” ucap Nora menatap Aina dan neneknya. “Ada apa Tante Aina datang ke sini? Jika perlu dengan Nora, bisa minta Nora datang saja ke toko kue.”
“Kebetulan tidak hanya perlu dengan kamu, Ra, tetapi dengan nenek kamu juga.”
“Nenek?” Nora terkejut dengan alasan kedatangan Aina.
Nora yang bingung menatap Aina dan neneknya secara bergantian.
“Bu Aina melamar kamu untuk Agas, Ra.” Rahmi yang melihat kebingungan pada cucunya langsung menjelaskan maksud kedatangan Aina.
Nora terkejut dengan ucapan neneknya. Netranya menatap Aina dengan bingung. Seolah dari sorot manik coklatnya menyiratkan berbagai pertanyaan.
“Iya, saya datang ke sini untuk melamar kamu.”
“Tante baru kenal saya beberapa hari, tetapi ingin melamar, apa Tante tidak takut saya ada niat jahat?” Dengan tenang Nora bertanya. Harusnya Aina was-was saat akan menikahkan anaknya dengan orang yang baru dia kenal. Namun, dengan percayanya Aina melamar Nora.
“Jika kamu orang jahat pastinya kamu tidak akan bersusah payah membuat Agas keluar dari rumah.” Aina tersenyum.
Nora terdiam. Merasakan perasaan cintanya yang berada di sudut hatinya. Sebenarnya Nora menyukai Agas sejak pertama kali bertemu Agas di Rumah sakit. Namun, karena dia tidak pernah berbicara sama sekali dengan Agas, perasaan itu sirna begitu saja.
Hingga akhirnya perasaan itu muncul kembali ketika Agas berada di panti rehabilitasi.
Berawal dari rasa iba, perasaan itu berubah.
Sayangnya perasaan itu datang ketika hidup Nora sudah diisi pria lain. Secara tidak langsung Nora mendua dalam hatinya.
Namun, seolah Tuhan berkata lain. Setelah bertahun-tahun menjalin cinta. Tepat sebulan yang lalu jalinan cintanya kandas. Nora yang ingin menjauh dari kekasihnya memutuskan mengajukan kepindahan ke Solo. Selain alasan itu, satu alasan utama adalah karena rasa tidak teganya melihat Agas yang baru saja keluar dari panti rehabilitasi. Dia ingin menolong Agas keluar dari masa lalu.
“Kata orang jika seseorang menikah kehidupannya akan berubah. Karena hal itu, aku yakin Agas akan bangkit dan melupakan masa lalunya.”
Masa lalu? Pertanyaan itu mengusik Nora. Agas tidak akan mudah melupakan masa lalu yang sudah terpatri. Apalagi menempatkan dirinya di sudut hatinya.
Nora memikirkan kembali niatnya datang ke Solo. Dia jauh-jauh ke kota batik itu untuk membantu Agas. Memantau Agas dari dekat. Dan kini, ketika jarak semakin didekatkan, rasanya justru ada ketakutan di hati Nora.
“Apa Agas setuju?” Pertanyaan itu terlontar seolah mengisyaratkan jika Nora bersedia.
“Dia akan setuju.”
Nora mengangguk. “Baiklah, saya mau.”
Aina tersenyum. Merasa lega langkahnya berjalan mulus. Tinggal memberitahu anaknya saja tentang semua ini.
“Kami akan datang untuk melamar secara khusus, Bu,” ucap Aina pada Rahmi.
“Silakan, kabari saja agar kami menyiapkan semuanya. Nora sudah tidak punya orang tua, jadi paman-pamannya yang akan menjadi walinya.”
“Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu.” Aina berdiri dan berpamitan.
Selepas Aina pergi, Nora membersihkan cangkir sisa minum. Membawanya ke dapur untuk dicuci.
“Apa kamu yakin menerimanya?” Rahmi yang duduk di kursi meja makan bertanya. Melihat punggung cucunya yang sedang asyik mencuci gelas.
“Aku berniat membantunya keluar dari masa lalu yang membelenggunya, Nek. Aku rasa ini adalah pilihan tepat.”
“Tapi dia tidak mencintaimu. Apa kamu akan menikah dengan orang yang tidak mencintaimu?”
Seketika Nora menghentikan gerakan tangannya. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya. Entah akan seperti apa pernikahan tanpa cinta. Lebih tepatnya tanpa cinta Agas. Dia belum sampai sejauh itu membayangkan.
“Jika dia terluka karena cinta, aku akan mengobatinya dengan cinta. Mengusir perlahan nama gadis itu dihatinya dan menggantinya dengan namaku.”
“Apa itu tidak akan menyakitkan untukmu?” Sebagai orang tua, Rahmi berpikir realistis. Memang hal itu yang akan terjadi ketika sebuah hubungan hanya satu hati.
“Pasti akan sakit, dan aku akan
menyembuhkan sakitnya sendiri nanti.”
Rahmi sudah tidak bisa berkata apa-apa. Niat cucunya tampak sudah bulat. Sehingga merestui dan mendukung adalah satu hal yang bisa dia lakukan.