My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Cia & Noah Bab 8



Cia masih sangat terpukul dengan apa yang terjadi padanya. Freya yang ingin mengorek lebih dalam, kesulitan dalam hal ini. El hanya bisa pasrah menunggu karena dia tidak akan dapat memulai usaha pencarian jika Cia tidak mengatakannya.


“Aku akan pergi ke tempat Noah. Kabari jika kamu sudah dapatkan hotel mana yang ditempati Cia waktu itu.” El mendaratkan kecupan di dahi Freya. Dari sejak datang ke London, El belum bertemu dengan Noah. Dia pun sama ingin sekali memukul temannya itu karena tidak menjaga adiknya dengan baik. 


“Baiklah, aku kabari jika Cia mau menceritakan di mana hotel tempatnya dulu menginap.” Sejauh ini Freya masih mengali informasi pelan-pelan. Tak mau terlalu memaksakan karena takut Cia kembali terpuruk. Untuk saat ini Cia sudah mau makan dan mulai


mendengarkannya. Jadi tidak mau Freya kembali membangkitkan ingatan Cia yang buruk.


El pergi dengan menaiki bus menuju ke kantor Noah. Sepanjang jalan, dia memikirkan bagaimana menemukan pria itu. Bus berhenti di halte dekat kantor Noah. El harus berjalan sedikit untuk mencapai kantor. El merupakan pemegang saham di perusahaan Noah, jadi wajar saja saat dia datang semua orang menyapa dengan ramah. 


“Justin,” ucap Noah yang terkejut melihat kedatangan temannya tiba-tiba. Dia yang sedang duduk di kursi kebesarannya-berdiri. Mengancingkan jas seraya mengayunkan langkah menghampiri El.


El menatap tajam pada Noah. Satu bogem melayang ke perut Noah. Tubuh Noah yang limbung terjatuh. 


“Justin, kenapa kamu memukulku?” tanya Noah. 


“Karena kamu pantas untuk dipukul.” El menatap tajam pada Noah. Perasaannya kesal sekali dengan temannya satu itu.  


“Bisakah kamu bertanya dengan baik. Bukan langsung pukul.” Noah mendengus kesal. 


“Jangan berlebihan. Aku memukulmu tidak kencang.” El mengulurkan tangan-membantu Noah untuk bangun.


Noah tertawa. Memang sebenarnya temannya itu tidak benar-benar memukul. Dia yang terkejut dan membuatnya terjatuh ke lantai.


“Ayo duduk dan jelaskan apa yang terjadi!” ajaknya mengarahkan El untuk ke sofa. 


Noah langsung menghubungi sekretarisnya untuk membuatkan dua cangkir teh. Sambil mengayunkan langkahnya menghampiri El, dia bertanya, “sejak kapan kamu datang?”


“Aku datang baru tadi pagi.” 


“Kenapa tidak mengabari aku jika kamu ke sini?” 


“Aku terburu-buru. Jadi lupa mengabari.” 


Obrolan mereka harus terhenti ketika sekretaris Noah datang membawa dua cangkir teh. El dan Noah menikmati teh hangat terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali bercerita. Teh memang selalu bisa membuat hati menjadi tenang. Itulah yang dirasakan El ketika menyesap teh hangat. 


El menarik napas dan mengembuskan perlahan. “Cia hamil,” ucapnya bersamaan dengan embusan napas yang keluar dari rongga hidungnya. 


Noah yang sedang menyesap teh langsung tersedak ketika mendapati ucapan El. 


Apa yang diucapkan El benar-benar membuatnya terkejut. 


“Kamu tidak apa-apa?” tanya El. 


“Tidak-tidak.” Noah meraih tisu dan mengusap bibirnya yang basah. 


“Itulah kenapa aku memukulmu. Karena kamu tidak bisa menjaga adikku dengan benar.” El akhirnya menceritakan kenapa tadi dia memukul Noah tiba-tiba. 


“Coba ceritakan. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Cia hamil?” Noah begitu penasaran.


“Kamu yang di sini selama ini. Harusnya aku yang bertanya kenapa bisa Cia hamil? Harusnya kamu menjaganya.” El mendengus kesal mengingat jika Cia. 


El mengembuskan napasnya. Dia membenarkan ucapan Noah. Bian dan Noah sudah menjaga Cia dengan baik selama hampir tiga tahun. Jadi kejadian ini bukan murni kesalahan dari Noah dan Bian. Lagi pula sudah menjelang kepulangan dan wajar mereka sudah merasa tenang melepas pengawasan Cia. 


“Maafkan aku,” ucap El. 


Noah menepuk bahu El. “Aku tahu Justin kamu pasti terpukul. Aku bisa merasakannya.” 


“Iya, aku merasa gagal sekali karena tidak bisa menjaga adikku. Apa yang harus aku katakan pada papa jika tahu putrinya hamil tanpa suami.” El mengusap wajahnya kasar. Ketakutan terbesarnya adalah tentang rasa kecewa sang papa mertua. Pastinya hal itu akan membuat hubungan mereka renggang. 


“Kamu tidak berusaha mencari pria itu untuk bertanggung jawab?” tanya Noah. 


“Masalahnya, kami tidak tahu siapa pria itu.” Rasanya El benar-benar berada dalam dilema. Tidak tahu harus berbuat apa lagi. 


“Tidak tahu?” tanya Noah memastikan. 


“Iya, Cia sendiri bilang tidak tahu siapa pria yang bersamanya.” El menceritakan apa yang diketahuinya. 


“Apa kejadian itu sewaktu aku dan Bian mencoba mengenghubungi Cia?” tanya Noah memastikan. Kala itu Bian menghubunginya karena Cia belum kunjung pulang. Akhirnya, Noah berusaha menghubungi Cia, tetapi gadis itu tidak bisa dihubungi. Noah ingin mencari rumah teman Cia, tetapi sayangnya dia tidak tahu di mana rumah teman Cia. Saat pagi, Bian menghubunginya kalau Cia sudah pulang. Bian mengatakan jika Cia tampak biasa saja. Justru marah ketika ditanya ke mana perginya semalam. 


“Iya, sewaktu Bian menghubungimu mengatakan jika Cia tidak pulang.” El yang sudah mendengar cerita Bian pun membenarkan kapan kejadian itu terjadi. 


“Apa yang terjadi sebenarnya? Maksud aku bagaimana detailnya?” 


“Cia bilang waktu itu dia ke acara perpisahan bersama temannya. Lalu dia mabuk. Saat mabuk dia tidak sadar sama sekali. Saat sadar ternyata dia berada di hotel dan semua itu terjadi. Baru beberapa hari ini dia tahu jika dia hamil. Bian yang mendapati Cia tak kunjung keluar kamar akhirnya mendobrak pintu. Ternyata keadaan Cia begitu kacau. Maka itu Bian menghubungi Freya dan aku, karena dia tidak tahu harus berbuat apa.” El mengepalkan tangannya ketika mengingat cerita dari Cia. 


Noah terdiam. Mendengarkan dengan baik cerita El. “Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Noah memastikan. 


“Aku akan mencari pria itu.”


“Apa kamu akan meminta pertanggungjawabannya?” Rasa penasaran Noah, menggelitiknya untuk bertanya. 


“Aku akan membunuhnya.” El mengepalkan tangannya. Sorot matanya dipenuhi dengan kebencian. Merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh pria yang menghancurkan hidup adiknya. 


Noah tidak menyangka jika temannya itu akan bisa semarah itu. Alih-alih meminta sang pria untuk bertanggungjawab, El justru akan membunuhnya. Baru kali ini dia melihat El yang dipenuhi amarah. Padahal biasanya, dia adalah orang yang paling sabar yang dikenalnya. 


“Apa kamu bisa membantuku?” El menatap Noah lekat. Sorot matanya penuh pengharapan. 


Noah yang sedari tadi memerhatikan El, tersadar. “Membantu apa?” tanyanya. 


“Aku mau kamu membantuku mengecek CCTV di hotel tempat Cia menginap waktu itu. Kamu adalah penduduk asli di sini. Jadi kamu pasti dengan mudah mendapatkannya karena banyak kenalan di sini.” 


“Baiklah, aku akan membantumu.” 


“Terima kasih. Aku akan kabari jika nanti sudah mendapatkan informasi.” El bersyukur karena temannya mau membantu. 


“Bagaimana keadaan Cia sekarang?” Noah merasa sangat penasaran dengan gadis cantik itu. Bayangannya wajah ceria Cia pasti sangat menyedihkan karena terlalu banyak menangis. 


“Dia benar-benar terpukul. Tidak mau makan dan hanya menangis.” Mengingat adik iparnya benar-benar membuat El tersiksa. “Aku harap kita bisa segera menemukan pria itu,” ucap El menatap Noah. 


“I-iya, kita akan temukan pria itu.”