My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Cia & Noah Bab 9



Belum banyak yang berubah dari Cia. Dia masih diam dan sesekali menangis. Freya berusaha keras menenangkan. Sesekali menyelipkan dukungan jika kini Cia akan memiliki anak. Bujuk rayu Freya pun berhasil membuat Cia mau makan. Namun, tidak mengubah kesedihan yang dirasakannya. 


“Menjadi ibu adalah hal yang paling membahagiakan. Terlepas apa yang terjadi pada orang tua mereka. Mereka lahir dengan keadaan suci. Tanpa dosa sama sekali,” ucap Freya di sela-sela Cia makan. 


“Jika mereka bisa memilih, mereka akan memilih dilahirkan di rahim ibu yang mau menerima mereka dengan suka cita. Bukan mereka yang menolak kehadiran mereka.” 


Cia terdiam sambil menunduk. Kalimat itu terdengar seperti kalimat sindiran yang dilontarkan sang kakak. Karena selama ini, dia tidak mau anak yang dikandungnya.


“Jika semua calon ibu menerima dengan lapang anak yang dikandungnya, terlepas apa yang terjadi. Aku rasa tidak akan ada wanita yang menggugurkan anaknya.” 


Cia langsung menatap kakaknya lekat. Terkejut dengan apa yang diucapkan kakaknya. 


“Aku harap kamu bukan bagian calon ibu yang menolak kehadiran anak.” 


Tak ada kata yang keluar dari mulut Cia. Pikirannya melayang, memikirkan apa yang dikatakan kakaknya. Sampai makan selesai pun dia masih bungkam. 


Freya keluar setelah menyuapi adiknya. Menemui suaminya yang sedang menikmati sarapannya. 


“Apa kamu sudah dapat info di mana hotel itu berada?” tanya El. 


“Fitz Land Hotel. Semalam dia sempat menyebut nama itu.” Freya yang tidur dengan Cia mencoba mengorek informasi seperti yang diminta suaminya. 


“Baiklah. Aku akan hubungi Noah untuk membantuku ke sana.” 


...🌺🌺🌺...


Dari informasi yang didapat dari Freya, pagi ini El pergi untuk mengecek CCTV. Hal yang pertama dilakukannya adalah menunggu Noah terlebih dahulu. El sadar akan sangat susah untuk menembus akses keamanan tanpa bantuan orang dalam. Karena kemarin Noah sudah berjanji akan membantunya, pasti akan sangat mudah untuk mencari tahu semuanya nanti. 


El menunggu Noah di depan hotel di mana sebulan yang lalu Cia menghubunginya. Selang beberapa saat Noah datang dengan berlari menghampiri. 


“Maaf aku terlambat. Tadi aku ada rapat.” 


“Tidak apa-apa. Aku juga baru sekali datang.” 


“Ayo, masuk aku akan bicara pada Albert.” Tadi pagi El mengabari jika dia sudah menemukan hotel di mana Cia menginap sebulan yang lalu. Secara kebetulan, hotel itu adalah milik teman Noah. Jadi dengan mudah, Noah akan mendapat informasi tentang malam di mana Cia ke hotel. 


Mereka masuk ke hotel. Meminta untuk bertemu dengan Albert. Berharap ada titik terang dari pertemuan ini. Berharap CCTV dapat menujukan siapa pria yang bersama dengan Cia. 


“Jadi aku ingin meminta tolong padamu. Sebulan yang lalu ada gadis yang datang ke sini. Dia mengatakan jika ada seorang pria yang membawanya ke sini. Aku ingin kamu mengizinkan melihat CCTV di sini.” Noah menjelaskan niatnya menemui teman sekolah menenang atasnya itu. 


“Noah, kamu tahu, akses CCTV tidak semudah itu dibagikan orang luar.” Albert tak bisa memberikan akses semudah itu, mengingat itu urusan pribadi para pengunjung hotel. 


“Ayolah, aku mohon. Ini demi kebaikan.” Noah berusaha untuk membujuk temannya itu. “Aku memohon sebagai temanmu.” Tak henti Noah membuat Albert yakin. 


Albert menimbang apa yang dikatakan oleh Noah. “Baiklah. Aku akan membuka akses CCTV.” 


El yang mendengar merasa sangat lega. Akhirnya sebentar lagi dia akan mendapatkan siapa pria yang melakukan semua itu pada adiknya. 


El dan Noah melihat dengan saksama. Karena tak ada waktu spesifik dari kedatangan Cia, mereka harus menunggu sampai detik di mana Cia datang. Namun, sayangnya tiba-tiba CCTV mati di bagian lobi. 


“Kenapa mati?” tanya El yang melihat hanya tampilan hitam di layar. 


“Kami selalu melakukan pemeliharaan CCTV secara berkala. Dan di hari itu kami melakukannya. Hanya beberapa saat saja,” jelas karyawan hotel yang bertugas di bagian CCTV. 


El mengembuskan napas. Kembali melihat CCTV. Namun, secara bergantian CCTV menujukan layar hitam yang artinya CCTV mati. Itu berada secara bergantian dari lobi menuju lift, di dalam lift, dan di lorong menuju kamar. 


“Kenapa tidak ada penampakan Cia di sini?” tanya El yang penasaran karena sedari tadi dia tidak melihat Cia masuk ke kamar hotel. 


“Apa bisa jadi Cia datang saat terjadi pemeliharaan CCTV?” tanya Noah yang menebak. 


“Sial!” El kesal sekali karena ternyata Cia datang di saat yang tidak tepat. Karena tidak tahu dengan siapa Cia datang ke hotel. “Bagaimana jika saat pulangnya? Bisa kita lihat tidak?” tanya El. 


Petugas CCTV membuka rekaman di hari berikutnya. Mereka mempercepat rekaman untuk segera mendapatkan sosok pria yang keluar dari kamar Cia. Terlihat layar kamera buram. Seolah kamera memang rusak. Dari layar terlihat pria yang keluar dari kamar Cia, tetapi kamera buram, tidak terlihat pria itu seperti apa. 


“Apa seburuk ini hotelmu?” sindir Noah pada temannya. 


“CCTV sudah lama dan memang harus diganti. Jadi wajar saja jika dia hasil yang diciptakan tidak sempurna.” Albert tidak dapat berbuat apa-apa. “Cek lagi CCTV mana saja yang perlu diganti, aku akan menggantinya,” ucapnya pada karyawannya. 


“Baik, Pak.” 


“Sial! Kalau seperti ini caranya. Jelas tidak akan bisa melihat siapa pria itu,” ucap El. Rasanya, dia kesal sekali karena tidak bisa menemukan pria yang menghamili adiknya. 


“Ayo, Justin. Sepertinya kita tidak bisa menemukan jawaban di sini.” Noah pun mengajak El untuk pulang. “Terima kasih sudah membantu kami,” ucap Noah pada Albert. 


“Maaf, jika semua jadi seperti ini dan aku tidak bisa membantu.” 


“Tidak apa-apa. Kami akan mencari jalan lain.” Noah keluar bersama dengan El. Wajah temannya itu begitu frustrasi. Membuat Noah tidak tega. Dia hapal betul jika El butuh secangkir teh untuk menenangkan dirinya. Noah pun mengajak El untuk ke salah satu tea house di dekat hotel. 


Dua cangkir early tea tersaji di atas meja. El langsung merasakan aroma teh yang begitu selalu disukainya. Perasaan tenang kembali melingkupi hatinya. Walaupun tidak sepenuhnya. 


“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Noah. 


“Entahlah, aku tidak tahu harus berbuat apa.” Sejujurnya El benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Banyak hal yang harus dihadapinya, terutama kemarahan papa mertuanya. Belum lagi melihat Cia, batinnya ikut tersiksa. 


“Bersabarlah.” Noah mencoba meyakinkan temannya. 


“Iya.”  Hanya dirinya yang bisa membantu adiknya. Jadi dalam hal ini, El harus kuat. “Aku mau pulang saja,” ucap El berdiri. “Apa kamu mau ikut?” tanyanya pada Noah. 


“Ba-baiklah. Aku akan ikut.” Noah pun ikut berdiri. 


Mereka berdua ke rumah kediaman Maxton dengan menaiki bus. Tak ada obrolan antara dua teman itu. Noah membiarkan El yang sedang dalam pikirannya, sedangkan dirinya memikirkan bagaimana keadaan Cia saat ini.