My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Al & Shera Bab 10



Hari ini Al akan bersiap untuk pergi mengunjungi proyek. Dia akan di sana untuk mengecek pembangunan. Bersama dengan Daddy Bryan dan Papa Felix, mereka akan berangkat ke Bali. 


Pagi-pagi sekali Al sudah datang ke rumah Daddy Bryan. Menghampiri adik dari mommy-nya itu, untuk sama-sama berangkat ke Bandara. Dengan diantar oleh supir, Al bersama Daddy Bryan dan Papa Felix menuju ke Bandara. 


“Kita tunggu Shera dulu,” ucap Daddy Bryan saat menarik kopernya masuk ke Bandara. 


Al membulatkan matanya. Tak tahu jika Shera juga ikut mengecek proyek. Dia memang tidak pernah membahas pekerjaan dengan tunangannya itu. Jadi tidak tahu kegiatan apa yang dilakukan oleh Shera. 


Entah kebetulan atau tidak, tetapi hotel milik Shera berada tepat di sebelah hotel milik Al. Hotel mereka sama-sama menghadap ke laut. Mengingat celoteh Papa Felix kemarin, dia mengatakan jika bisa jadi Al dan Shera bersaing, mengingat hotel berjajar. 


“Itu dia.” Daddy Bryan menunjuk ke arah di mana Shera. 


Al yang masih dengan pikirannya, menoleh ke arah Shera. Tampak Shera menarik koper berjalan ke arahnya. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, kontras sekali dengan kulitnya yang putih. Namun, tetap memberikan tampilan cantik untuk wanita dua puluh lima tahun itu. 


“Maaf, Pak, saya terlambat,” ucap Shera saat sampai di depan Daddy Bryan. 


“Tidak masalah, kami juga baru saja datang.” 


Shera mengangguk. Namun, netranya beralih ke arah pria yang berdiri di samping Daddy Bryan. Matanya membulat di balik kacamata hitam yang dipakainya. Tak menyangka jika tunangannya pun juga sedang akan ke Bali. 


“Ayo,” ajak Daddy Bryan. 


Dalam kebingungannya, Shera mengikuti semua pria untuk melakukan boarding pass. Di dalam pesawat, ternyata dia duduk bersebelahan dengan Al. Walaupun bukan hal baru untuk Shera dekat dengan Al, ada perasaan lain yang dirasakan oleh Shera. Apalagi beberapa hari ini Al mengiriminya makanan. Membuatnya merasakan perasaan senang.


“Kenapa tidak bilang jika kamu juga mengunjungi proyek?” Al melepas kacamatanya dan menatap Shera. 


Ditatap Al, membuat Shera berdebar-debar, apalagi warna biru dari mata El begitu menghipnotisnya. Membuatnya justru salah tingkah. 


“Aku lupa,” elak Shera. Untung kacamata Shera masih bertengger. Paling tidak, Al tidak melihat matanya yang terpesona dengan Al. 


Al hanya mengangguk. 


Mereka berdua menikmati perjalanan yang memakan waktu dua jam. Al memilih untuk tidur karena beberapa hari ini dia sangat sibuk, sedangkan Shera memilih untuk memainkan tablet-nya. Mengecek beberapa email yang masuk beberapa hari belakangan ini. 


Sepanjang perjalanan, Shera melirik Al yang tampak tertidur pulas. Entah apa yang dilakukan pria di sebelahnya itu semalam, hingga membuatnya begitu mengantuk.


Saat pramugari memberitahu jika penerbangan mereka akan segera berakhir, Shera membangunkan Al. Menggoyang-goyangkan tubuh Al, dia memanggil nama tunangannya itu. 


“Apa sudah sampai?” tanya polos Al. 


“Iya, dan sepertinya kamu benar-benar menikmati perjalanan.” 


“Aku mengantuk. Semalam aku harus pulang malam.” 


“Tidak baik jika terlalu memforsir tenaga. Pekerjaan tidak akan pernah selesai.” 


“Iya, nanti aku tidak akan memforsir kerjaku. Aku akan teratur saat pulang karena ada yang menungguku di rumah.” Al berdiri dan mengambil tasnya. 


Shera terpaku. Kalimat itu mengisyaratkan jika dia akan segera menjadi istri dari Al. Seolah itu tak terbantahkan. 


“Ayo,” ajak Al. 


Shera yang tersadar langsung bersiap untuk keluar dari pesawat. Mengekor di belakang Al. Bersama dengan Daddy Bryan dan Papa Felix, mereka pergi langsung pergi ke proyek. Daddy Bryan bersama dengan Shera menuju ke proyek milik Shera, sedangkan Papa Felix bersama dengan Al, pergi ke proyek milik Al. 


“Sepertinya akan jauh lebih cepat dari perkiraan, Pak.” Shera yang melihat proses pembangunan yang sudah cukup cepat merasa akan jauh dari perkiraannya. 


“Iya, karena kamu minta dikerjakan lebih cepat, perusahaan mengerahkan banyak pegawai. Pembangunan ini ada beberapa sift dan menggunakan banyak pekerja.” 


“Baiklah. Paling tidak, hotel bisa segera dibuka.” Shera tersenyum. 


“Tapi, sepertinya akan berat jika hotel bersaing dengan hotel sebelah.” Daddy Bryan tertawa. Calon sepasang suami istri itu akan bersaing dalam bisnis. 


“Saya rasa suami istri tidak ada persaingan, Pak.” Shera tersenyum. Kalimat itu lolos begitu saja. Seolah menegaskan jika hal itu akan terjadi. 


“Kamu benar.” Daddy Bryan tersenyum. 


Di proyek sebelah, Al mengecek proyek bersama dengan Felix. Al memerhatikan degan jelas jika proyek sudah berjalan cukup baik. 


“Lebih cepat mana proyek milik Wijaya atau milik Maxton yang jadi lebih dulu, Pa?” Al menoleh pada pria paruh baya yang masih terlihat bugar itu. 


“Apa kamu mau ambil start lebih dulu meresmikan?” goda Papa Felix. 


“Memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.” 


Papa Felix tersenyum. Sudah hapal jika Al selalu memperhitungkan banyak hal. “Sepertinya akan lebih cepat hotel milikmu, dibanding hotel milik Shera, mengingat jika proyek Maxton lebih dulu dikerjakan.” 


...🌺🌺🌺...


Setelah tadi mengecek proyek, mereka semua bergegas menuju ke vila yang sudah disiapkan oleh Adion. Rencananya mereka akan menginap di vila belum besok akan kembali. 


Villa yang tidak jauh dari pantai itu memudahkan mereka untuk jalan-jalan ke pantai. Papa Felix sengaja memilih vila itu agar para anak muda bisa mudah untuk menikmati pantai. 


“Pilihlah satu kamar yang kalian mau,” ucap Daddy Bryan. 


“Ingat, masing-masing satu, bukan satu untuk berdua,” goda Papa Felix. 


“Iya, kalian belum menikah, jadi jangan satu kamar.” Daddy Bryan tertawa. Mengingatkan dua anak muda di depannya. 


Al dan Shera merona malu. Mereka saling melirik malu satu dengan yang lain. 


“Aku akan pilih kamar di sana,” ucap Al seraya menunjuk satu kamar. 


“Aku akan pilih sebelahnya saja,” timpal Shera. 


Tanpa berlama-lama, mereka langsung menarik koper dan menuju ke kamar masing-masing. Daddy Bryan dan Papa Felix saling menatap, kemudian tertawa.


“Beda sekali dengan kita,” ucap Papa Felix dan mendapati anggukan dari Daddy Bryan. 


Daddy Bryan menyadari, anak-anaknya tumbuh dengan baik. Mereka tidak seperti dirinya yang selalu mencuri kesempatan. 


...🌺🌺🌺...


Shera duduk di pinggir kolam renang. Memasukkan kakinya ke dalam kolam renang. Tadi saat keluar dari kamarnya, terlihat sepi. Shera menduga jika semua sedang beristirahat, mengingat jika seharian tadi mereka mengecek proyek. 


“Sedang apa kamu?” tanya Al yang melihat Shera. 


“Kamu pikir sedang apa.” Shera heran, karena jelas-jelas dia sedang bermain air. 


“Bermain air itu di pantai, bukan di sini.” 


“Ini sudah malam. Sudah tidak bisa bermain di pantai.” 


“Tapi, malam hari tidak menghalangi untuk menikmati pantai.” Al berbalik dan mengayunkan langkahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Shera tak ada pergerakan. “Apa kamu akan tetap di situ dan tidak mau menikmati malam di pantai?” tanyanya dengan nada menyindir. 


Shera menekuk bibirnya. EL mengajaknya, tetapi tidak terus terang mengajaknya. Namun, karena Shera bosan, akhirnya dia bangkit dan mengikuti Al. Tak mau kehilangan kesempatan menikmati indahnya malam 


...🌺🌺🌺...


Semilir angin pantai, begitu menenangkan. Deburan ombak yang saling berkejaran menerpa kaki mereka yang sedang berjalan di pinggir pantai. Shera tersenyum saat air laut menerpa kakinya. Paling tidak kakinya bermain air pantai, tidak seperti tadi hanya air kolam. 


Langit malam yang bertabur bintang juga tak kalah indah. Mengiringi mereka yang menikmati suasana pantai di malam hari. 


“Pemandangan malam hari ternyata tak kalah indah,” ucap Shera. 


“Setiap waktu menyuguhkan keindahannya tersendiri. Walaupun malam dipenuhi kegelapan, tetapi ada cahaya bulan dan sinar bintang yang menyinari.” 


“Apa termasuk dengan waktu saat kita bersedih?” tanya Shera menoleh pada Al. 


“Bisa jadi. Karena pasti akan ada keindahan yang tercipta setelah kesedihan.” 


“Contoh?” tanya Shera yang penasaran dengan jawaban Al. 


“Seperti saat kita kalah dalam sebuah pertandingan. Mungkin bagi kita tidak indah, tetapi ada hal lain yang pasti membuat indah. Dari kekalahan itu kita belajar lebih keras lagi. Dari kekalahan kita belajar ikhlas dan tentunya tidak menyerah.” Al menoleh pada Shera, menjelaskan.


Shera tampak berpikir, kapan kesedihan menyapanya dan keindahan menggantikannya. 


“Apa kamu pernah merasakan itu?” tanya Al penasaran. 


“Em … entah.” Shera menaikan bahunya, tanda tidak tahu. 


Al hanya bisa mengangguk mendapati jawaban dari Shera. 


Mereka melanjutkan jalan-jalan. Angin laut yang semakin kencang membuat Freya kedinginan. Al yang melihat itu, melepas jaketnya dan memberikan pada Shera. Seketika Shera terkesiap mendapati perhatian Al. Al memang tidak banyak bicara seperti pria lain, tetapi dia menyimpan perhatian yang begitu banyak. 


Jika dia seperhatian ini, aku rasa aku pun akan luluh. 


Entah getaran apa di hati Shera. Namun, dia merasa hatinya selalu berdebar-debar saat berada di dekat Al. Terlebih lagi dalam sikap dingin Al menyimpan kehangatan.