My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Nora Bab 9



“Apa masih terasa sakit?” tanya Nora di sela-sela makan. 


Agas menghentikan tangannya yang sedang menyuap makanan. Netranya menatap Nora. Pertanyaan itu memang menggelitiknya. Jika ditanya sakit, pastinya sakit sekali. Melepas wanita yang dicintai karena dia tak bisa dimiliki. 


“Masih dan seakan hidupku sudah tidak berarti lagi.” Agas meletakkan sendoknya. Tiba-tiba tidak berselera makan. 


Nora meraih sendok milik Agas dan menyuapkan makanan pada Agas. “Terkadang di saat kita menganggap hidup kita tidak berarti, ada beberapa orang yang merasa hidup kita berarti untuk mereka.” Netranya menatap Agas, mengisyaratkan untuk membuka mulutnya. 


Agas terpaku dengan Nora yang menyuapinya. Namun, Entah magnet apa yang membuat Agas luluh. Tatapan Nora yang teduh membuatnya menurut untuk membuka mulutnya. Memakan makanan yang disodorkan Nora. 


“Orang tua dan sahabat-sahabatmu masih merasa jika hidupmu sangat berarti untuk mereka. Menganggap kehadiranmu sangat dinanti. Kebahagiaanmu pun juga diharapkan.”


“Apa sekarang aku dapat konsultasi gratis?” sindir Agas mengalihkan pembicaraan. 


“Iya, karena jika kamu datang ke Rumah sakit. Kamu harus membayar.” Nora tertawa. Tangannya menyendok makanan miliknya. Mengarahkan ke mulutnya dan mengunyahnya. 


Agas mengabaikan Nora. Melanjutkan makannya yang tadi sempat dia hentikan. Ada Nora di depannya sedikit mengalihkan dunianya. Dunia kesendirian yang selama ini dia dekap erat. 


Mencari keperluan Nora seolah hanya kedok untuk mengajak Agas keluar dari rumah. Namun, semua terbayar dengan Agas yang mau. Tidak hanya mencari kebutuhan Nora. Nora justru membuat Agas memangkas rambutnya. Kini pria tampan itu tampak lebih segar. Berbeda dengan kemarin-kemarin. 


Agas yang selesai mengantar Nora, langsung melajukan motornya untuk pulang. Tepat saat dia sampai di rumah, tampak mamanya yang menunggunya. Agas memang pulang ketika jam makan siang, jadi tepat saat mamanya berada di rumah. 


“Maaf, Ma, aku sudah makan di luar.” Agas merasa tidak enak dengan mamanya.


Aina tersenyum. Tadi pagi melihat putranya keluar saja sudah seperti mendapat undian berhadiah. Apalagi anaknya mau makan di luar sana. Menegaskan jika putranya sudah mulai mau beraktivitas. Belum juga kebahagiaan melihat putranya yang keluar rumah berakhir, Aina justru melihat anaknya yang tampak rapi dengan potongan rambut baru. Seperti melihat putranya dua tahu lalu. Tampan dan rapi. 


“Tidak masalah,” jawab Aina tersenyum.


“Memangnya kamu pergi ke mana?” tanyanya memastikan. 


“Mengantar Nora ke toko buku mencari keperluan untuk bekerja.” 


Aina berbinar. Merasa jika Nora membawa dampak baik untuk putranya. Terbukti baru dua hari bertemu putranya sudah mau keluar rumah dan mengubah penampilannya. 


“Aku mengantuk, Ma. Mau tidur dulu.” Sejak semalam Agas tidak tidur. Waktunya tidur dia pakai untuk pergi bersama Nora. Dan kini rasa kantuknya tak bisa tertahan lagi. 


Mendapati anggukan dari mamanya, Agas menuju ke kamarnya. Melanjutkan tidurnya yang harus dia bayar dengan segera. 


...🌺🌺🌺...


“Apa Papa ingat dengan gadis cantik teman Agas yang aku ceritakan kemarin?” tanya Aina seraya menghampiri suaminya ke atas tempat tidur. 


“Yang kamu bilang dia dokter di tempat Agas bekerja dulu?” Raditya memastikan. 


“Iya, yang sekarang dipindahkan ke Solo.” 


Raditya mengingat. Sejak dua hari yang lalu istrinya tak berhenti menceritakan teman anaknya itu. Jadi sudah pasti dia ingat. 


“Ternyata Agas pergi untuk mengantarkan Nora ke toko buku.” Aina dengan semangat menceritakan ke mana putranya pergi. 


“Sepertinya dia bisa membantu Agas untuk bangkit.” 


“Bagus kalau Agas bisa melupakan Mara.” 


“Dia tidak akan bisa lupa,” jawab Aina. Wajahnya yang tadi bersemangat seketika berubah sedih, ketika mengingat sebesar apa cinta anaknya untuk gadis yang memilih darah yang sama dengannya itu. “Tapi, dia bisa dipaksa untuk melupakan.” 


“Dipaksa?” tanya Raditya bingung. 


“Iya, kita bisa dekatkan Agas dengan Nora. Dengan begitu Agas bisa bangkit.” 


“Terserah Mama saja. Aku ikut saja.” 


...🌺🌺🌺...


Dari semalam Aina memikirkan bagaimana cara mendekatkan Agas dan Nora. Namun, sejauh ini dia sendiri tidak tahu apakah Nora punya pacar atau belum. Sambil sibuk di toko kue miliknya, Aina terus memikirkan agar anaknya bisa dekat dengan Nora, tetapi tidak membuat sakit hati. 


“Iya, bisanya jika sudah menikah memang beberapa pria berubah,” ucap Nina-karyawan toko kue Aina. 


“Iya, seperti tetanggaku juga seperti itu. Dulu dia suka mabuk-mabukan. Setelah menikah dia tobat. Apalagi sekarang sudah punya anak, dia sudah tidak pernah lagi minum minuman beralkohol lagi.” Santi yang tak kalah antusias bergosip menceritakan kisah tentang hanya. 


Aina yang kebetulan lewat mendengar percakapan itu. “Ehem ... kerja jangan menggosip!” serunya memperingatkan para karyawan. 


“Iya, Bu. Maaf.” Karyawan-karyawan itu kembali bekerja. Tak mau cari masalah dipecat karena keasyikan mengobrol.


Aina masuk ke ruangannya. Melanjutkan mengecek data produk bahan kue yang datang. Saat tangannya terus mengecek data. Pikirannya tertuju pada omongan dua karyawannya. 


Jika hanya pacaran bisa saja mereka putus dan membuat Agas sakit hari, tetapi jika menikah mungkin akan sedikit peluang untuk Agas sakit hati.  


Memikirkan sebuah ide, Aina justru berpikir jika akan menikahkan Agas dan Nora. Jalan satu-satunya untuk Agas bangkit. Memikirkan hal itu, Aina menutup laporan toko. Beralih mengambil ponselnya menghubungi Nora. 


Beberapa saat kemudian Nora datang ke toko. Sebelum ke Rumah sakit, dia menyempatkan diri untuk mampir sesuai dengan permintaan Aina. Di toko kue, Nora di ajak duduk dan menikmati kue. 


“Apa ada yang bisa saya bantu, Tante?” tanya Nora. Tidak mungkin tanpa alasan Aina memanggilnya datang ke toko. 


“Iya, aku hanya ingin mengenal kamu lebih dekat,” jawab Aina. 


Nora mengangguk. 


“Apa kamu punya pacar?” Aina sudah tidak sabar untuk bertanya. 


“Punya.”


Seketika Aina terkesiap. Merasa harapannya pupus sudah. Niatnya untuk menjodohkan Nora seketika lenyap. 


“Tapi kami sudah putus.” 


Seperti mendapatkan angin segar, Aina seketika langsung tersenyum. Merasa jika ternyata kesempatan masih berpihak padanya. 


“Kalau boleh tahu kenapa?”


“Kami hampir menikah, tetapi ada masalah dan kami memutuskan untuk berpisah.” 


“Apa kamu tidak patah hati?” Berkaca pada anaknya yang patah hati dan terpuruk, Aina justru mendapati Nora tenang dan tidak sama sekali sedih. 


Nora tersenyum. “Patah hati adalah bagian dari sebuah perjalanan cinta. Kenapa harus patah hati karena untuk kita belajar lagi untuk memilih orang yang tepat di masa depan.” 


Mendapati jawaban Nora membuat Aina semakin yakin jika pilihannya tidak salah. Dia yakin jika Nora adalah wanita yang pada untuk Agas. Semangat Nora yang tinggi bisa tersalur pada Agas yang rapuh. 


...🌺🌺🌺...


“Apa kamu yakin dengan idemu itu?” Raditya yang mendengarkan semua ide gila istrinya merasa ragu. 


“Iya, aku yakin. Mereka berdua tidak memiliki pasangan dan aku yakin mereka akan cocok. Lagi pula Nora gadis yang baik. Dia juga mempunyai semangat yang tinggi. Aku yakin dia akan memberikan dukungan untuk Agas.” 


“Apa Nora mau?” 


“Aku belum bicara sejauh itu. Aku baru menanyakan persoalan pribadinya. Nanti aku akan cari waktu pas untuk bicara lagi masalah ini.” 


“Terserah padamu saja.” Raditya pasrah dengan semua ide istrinya. Mencoba mendukung jika memang itu untuk kebaikan anaknya. Selama dua tahun dia sudah sangat tersiksa melihat anaknya. Seolah melihat karma atas perbuatannya pada anaknya.