
“Jadi apa benar itu adalah foto kalian?” Kembali wartawan menanyakan hal yang sama.
“Kami akan mengadakan konferensi pers. Jadi kami akan menjawabnya nanti,” jawab Kafa. Membalikkan tubuhnya, membawa kembali Flo dalam pelukannya. Melindunginya dari kejaran wartawan yang terus bertanya.
Flo hanya pasrah begitu saja saat Kafa memeluknya. Aroma parfum menggelitik indera penciumannya saat kepalanya menempel di dada Kafa. Untuk sesaat Flo terlena dengan pesona supermodel itu. Sambil menyembunyikan wajahnya, dia terus merasakan sensasi berdebar-debar. Tangannya yang berada di dada Kafa, dapat merasakan betapa keras perut Kafa. Di tambah lagi, lekukan di perutnya. Itu adalah wujud nyata dari perut kotak-kotak yang dilihatnya tadi.
Kafa membawa Flo ke mobilnya. Diikuti oleh Gala dibelakang. Saat pintu dibuka oleh Gala, Kafa buru-buru masuk ke mobil. Wartawan di luar masih terus membidik foto saat Kafa di dalam mobil. Masih mengejar juga ketika mobil perlahan meninggalkan ruko.
“Sepertinya kamu menikmati berada di pelukan tubuh kurus kering ini, sampai-sampai kamu tidak mau lepas,” sindir Kafa. Mobil sudah jauh meninggalkan ruko. Wartawan yang tadi mengejar pun sudah tidak ada.
Mendengar suara sindiran itu, Flo bergegas melepaskannya diri. “Siapa yang menikmati?” jawabnya ketus.
Kafa tampak santai saat Flo kesal. Saat Flo berada di dalam pelukannya, rasanya tubuh kecil itu pas sekali. Sebenarnya, dialah yang terbuai. Namun, tak mau terlihat oleh Flo.
“Jelaskan padaku, kenapa kamu mengatakan jika aku tunanganmu?” Flo dengan berapi-api bertanya. Dia merasa tidak terima ketika Kafa mengatakan hal itu.
“Hai, Nona. Harusnya kamu berterima kasih padaku, karena aku menyelamatkan nama baikmu. Coba bayangkan jika orang tahu, kita tidak ada hubungan. Wartawan akan membuat narasi berita tentang betapa murahannya kamu . Apa kamu tidak takut jika orang tuamu tahu? Apa kamu tega melihat mereka malu?” Kafa tak kalah berapi-api. Kesal juga dengan gadis di depannya itu.
Flo menundukkan kepalanya.
“Apa? Merasa jika yang aku katakan benar?” tanya Kafa ketus.
“Aku tidak punya orang tua,” ucap Flo lirih. Malu. Rasanya Flo membenarkan ucapan Kata, jika ada keluarganya tahu jika fotonya tersebar. Namun, sayang tidak akan ada yang merasakan hal itu, karena Flo tidak punya siapa-siapa.
Seketika Kafa langsung terdiam. Merasa sangat bersalah ketika gadis yang bersamanya dalam foto itu tidak punya orang tua. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa hidup tanpa orang tua. “Maaf,” ucapnya.
“Kita ke mana, Fa?” tanya Gala seraya melihat Kafa dari pantulan kaca di atas dashboard. Menghentikan pembicaraan antara Kafa dan Flo.
“Kita ke apartemen saja. Agar tidak ada media yang tahu pertemuan kita.”
Apartemen? Insting pertahanan Flo mulai bekerja. Sebagai gadis yang masih suci pergi dengan dua pria sangat berbahaya. Apalagi ke apartemen. “Aku turun di depan saja,” ucapnya pada Kafa dan Gala.
Kafa yang sedang menatap Gala langsung beralih ketika mendengar ucapan Flo. Merasa heran kenapa gadis itu harus turun. Padahal banyak hal yang harus dia tanyakan. “Kita harus bicara, jadi kamu harus ikut.”
“Aku tidak mau!” Dengan tegas, Flo menolak.
Berhadapan dengan gadis di depannya, Kafa benar-benar diuji. “Kamu ….”
“Fa, sebaiknya kita ke kantor saja. Bicarakan di kantor. Mungkin dia takut jika di apartemen.” Gala yang mendengar perdebatan di kursi belakang, memberikan solusinya.
“Nah, itu ide bagus.” Flo langsung setuju. Karena di kantor pastinya banyak orang.
“Baiklah-baiklah. Kita ke kantor.” Akhirnya, Kafa pun setuju.
Gala melajukan mobilnya menuju kantor. Jarak ruko yang berada di tengah kota dan kantornya yang di pinggiran kota, membuat perjalanan menjadi sangat panjang. Beruntung hari ini tol ramai lancar. Jadi tidak butuh waktu lama.
Sepanjang perjalanan Flo memilih menutup rapat mulutnya. Dia memikirkan banyak hal. Solusi dari masalah yang sedang dihadapinya. Seperti halnya Flo, Kafa pun menutup rapat mulutnya. Sambil melihat jalanan yang dilalui, dia juga memikirkan apa yang harus diperbuatnya setelah jawaban pada media jika Flo adalah tunangannya.