My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Retta & Rylan Bab 6



“Bagaimana jika pernikahan tetap dilaksanakan?” Al pun memberikan ide. Dia berpikir mungkin akan jauh lebih baik jika pernikahan tetap dilanjutkan. 


“Dilanjutkan bagaimana maksud kamu?” Shera yang mendengar ide sang suami pun menyanggahnya. “Kamu tahu sendiri jika calon suami Retta tidak ada.” 


“Kita cari calon pengantin pria saja.” 


“Jangan bercanda, Al. Kita mau cari di mana dalam waktu sehari? Kamu pikir ini sulap.” Mama Stella pun tak kalah kesal dengan cucunya. Bisa-bisanya menantunya memberikan ide konyol.


Al menelan salivanya, dia tahu memang itu sesuatu yang mustahil. Dia bukan sedang mencari barang dan bisa ditemui begitu saja di supermarket dalam waktu singkat. 


“Mungkin ide kamu bisa juga. Lebih baik kita carikan saja pria untuk Retta menikah.” Papa Sean pun setuju dengan ide yang diberikan Al. 


“Pa, jangan memaksakan jika pada akhirnya kita justru salah pilih menantu.” Shera pun memberikan peringatan pada sang papa. Sudah cukup adiknya yang salah pilih, jangan sampai salah pilih lagi. Kebahagiaan Retta yang akan dipertaruhkan. 


“Ach … Papa jadi pusing.” Papa Sean memegangi kepalanya. Merasa jika sangat pusing dengan apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan semuanya. Ini bukan perkara kecil. 


Tepat saat mereka sedang asyik sedang memikirkan solusi dari masalah yang dihadapi, suara ketukan pintu terdengar. Semua mengalihkan pandangan pada pintu. Shera langsung bergerak berdiri.  Menuju ke pintu untuk mengetahui siapa yang berada di balik pintu. Saat membuka pintu, dia melihat Rylan di sana. 


“Hai, Kak, anak-anak meminta untuk diantarkan pulang.” Rylan yang sedari tadi menjaga anak-anak mengantarkan Anka dan Rigel. 


“Terima kasih.” Shera tersenyum. Dia mengulurkan tangan pada anak-anaknya yang kini sudah berusia enam tahun itu. Mengajak mereka untuk masuk ke kamar. “Aku harap mereka tidak merepotkanmu.” 


“Tentu saja tidak, mereka anak-anak yang pintar jadi tidak merepotkan.” Rylan yang sudah terbiasa dengan anak-anak dari kakaknya sudah tidak bingung ketika harus menjaga anak kecil. 


“Siapa Shera?” Suara Papa Sean terdengar dari dalam. 


Shera memiringkan tubuhnya. Memperlihatkan tubuh Rylan yang terhalang oleh tubuhnya. Papa Sean melihat Rylan, walaupun baru beberapa kali bertemu dengan Rylan, dia cukup hapal dengan pria itu. Terlebih lagi, tadi Papa Sean sempat melihat Rylan yang membantu Retta yang sedang bertarung dengan istri Gerald. 


 Rylan yang melihat keluarga Retta menganggukkan kepalanya. Menyapa mereka semua dengan sopan. Senyum manis miliknya tersimpul di sudut bibirnya. 


Papa Sean langsung menatap Al. Kedua pria itu saling menatap. Keduanya pun memikirkan hal yang sama. Yaitu tentang calon suami Retta. Mungkin Rylan bisa memberikan solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi. 


“Masuklah, Nak. Bergabung dengan kami yang sedang mengobrol.” Papa Sean pun memberikan kode pada Rylan dengan tangannya. 


Rylan terkesiap. Mengobrol? Rasanya aneh jika keluarga Retta sedang asyik mengobrol setelah kejadian besar tadi. Apa mungkin mereka tidak sedang marah dan mencari solusi masalah yang terjadi? Pikiran Rylan dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan itu. 


“Ayo, masuk.” Shera tidak mengerti kenapa papanya justru membiarkan Rylan masuk. Padahal mereka sedang dalam pembahasan yang sangat penting. Apa pun alasannya, mereka sudah terlanjut mengundang Rylan masuk, itu artinya mau tidak mau Shera mempersilakan.


Rylan masuk dan duduk di sofa bersama dengan Papa Sean dan Al. Dia merasa canggung sekali ketika tahu jika sebenarnya situasi tidak senyaman itu, karena keluarga di depannya sedang tertimpa musibah. 


“Terima kasih sudah membantu Retta tadi.” Papa Sean memulai pembicaraan. 


“Tidak apa-apa, Pak. Sama-sama.” Rylan menganggukkan sedikit kepalanya.


“Iya, tadinya aku ingin menyusul Kak Noah, tetapi dia ternyata ke sini.” Rylan mengatakan apa adanya. “Maaf, jika aku jadi tamu tidak diundang.” Rylan tersenyum, merasa tidak enak. 


“Kamu adalah adik menantu Felix, jadi kamu masih bagian dari kelurga kami. Mungkin kami yang minta maaf karena tidak menungundangmu secara langsung.” Papa Sean merasa melihat Rylan mendapatkan peluang untuk menyelamatkan masalah yang dihadapi keluarganya. 


Rylan hanya mengangguk saja. 


“Kamu bekerja di mana?” Papa Sean ingin tahu banyak tentang Rylan siapa tahu bisa untuk bahan pertimbangan. 


Shera yang mengambilkan minum dan meletakkan di atas meja merasa bingung untuk apa papanya itu menanyakan hal-hal itu pada Rylan. Padahal mereka sedang membahas hal penting.


“Saya, kerja di perusahaan keluarga. Kebetulan bergerak di bidang properti.” 


Papa Sean menganggukkan kepala. Mengerti dengan yang dijelaskan oleh Rylan. 


“Keluarga Asher pemilik beberapa hotel dan apartemen juga di London, Pa.” Al pun menambahi. “Rencananya, Rylan akan membuat apartemen juga di sini bekerja sama dengan Noah dan El.” Al cukup mengenal sepak terjang Rylan dalam bisnis.


Papa Sean pun memerhatikan penjelasan Al dengan saksama. “Apa kamu punya kekasih?” tanyanya tanpa berbasa-basi. 


“Pa.” Shera memperingatkan papanya. 


“Tidak apa-apa, Kak.” Rylan tersenyum canggung. “Terakhir punya kekasih dua tahun yang lalu. Kak Noah juga meminta untuk fokus meneruskan bisnis.” Rylan tersenyum. 


“Tapi, di luar negeri bukannya **** bebas sering terjadi. Apa kamu juga melakukan hal itu?”


Semua orang menatap Papa Sean yang menanyakan hal frontal seperti itu. Mereka semua merasa tidak enak dengan pertanyaan itu. 


Rylan tersenyum. “Tidak dipingkiri jika hal itu sering terjadi di luar negeri. Bersyukur papa mengajarkan saya untuk menghargai wanita. Jadi untuk melakukan **** bebas, saya belum pernah, tetapi jika sekadar ciuman, aku rasa itu hal wajar dilakukan sepasang kekasih.” Rylan tidak memungkiri jika kehidupan di luar negeri begitu bebas. Dia juga sering melihat kakaknya-Noah bersama para wanita di jamannya. Kakaknya itu pernah berpesan. Jangan mencobanya jika kamu tidak ingin berakhir kecanduan. 


Ada perasaan lega melingkupi perasaan Papa Sean. Entah kenapa dia suka dengan Rylan. Tidak masalah jika hanya sekadar ciuman. Itu masih batasan wajar.


“Sudah sejauh mana perencanaan apartemen?” Al pun mengalihkan pembicaraan agar tidak terpatok pada hal pribadi. 


Rylan menjelaskan secara detail prosesnya. Dari apa yang dijelaskan Papa Sean dan Al mengerti. Cara Rylan menjelaskan cukup mengganggumkan bagi Papa Sean. Hal itu membuat Rylan punya poin lebih di matanya. 


Usai mengobrol sebentar, Rylan berpamitan. Papa Sean mengatakan jika dia senang bertemu dengan Rylan. Rylan pun juga senang bertemu dengan Papa Retta. 


“Al, panggil Noah ke sini. Aku ingin bicara.” Papa Sean menatap sang menantu. Dia ingin bertemu dengan kakak dari Rylan. Menanyakan hal-hal terkait dengan Rylan, sebelum akhirnya mengambil keputusan. 


“Baik, Pa.” Al mengangguk mengerti dan bergegas ke kamar Noah yang berada di satu lantai dengannya.