My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Regan & Selly Bab 9



Dari pantulan cermin Selly melihat wajahnya. Baru saja penata rias menyelesaikan merias wajahnya. Sapuan make up yang diberikan oleh penata rias membuat Selly terpukau. Wajahnya tampak berbeda dengan make up, terlihat begitu cerah dan bersinar. 


“Cantik sekali anak Mama,” ucap Melisa melihat anaknya. Sebagai orang tua, pasti bahagia anaknya akan segera menikah. Pertunangan ini adalah awal dari kebahagiaan putrinya. 


“Terima kasih, Ma.” Senyum Selly mengembang sempurna di wajahnya saat merasakan bahagia. 


Pertunangan adalah gerbang awal untuk sampai pada tujuannya. Tujuan menikah dengan teman masa kecilnya dan pria yang begitu dicintainya.


Saat sedang bersiap, suara ketukan pintu terdengar. Dari balik pintu terlihat Bryan menyembulkan kepalanya. “Apa sudah siap?” tanyanya seraya melebarkan pintu dan masuk ke kamar hotel yang di tempati Selly.  Menghampiri kakak dan mamanya. 


“Sudah.” 


“Lihat, wajahmu,” ucap Bryan. 


Senyum Selly sudah mulai surut, dia sudah menebak jika adiknya akan meledeknya. 


“Apa?” tanyanya ketus.  


“Wajahmu cantik sekali.” Dengan polosnya Bryan memuji kakaknya. 


Selly merona. Dipikirnya Bryan akan meledeknya seperti biasa, tetapi ternyata tidak. 


 


“Sudah, jangan menggoda Kakakmu,” tegur Melisa. 


Bryan menutup mulutnya rapat-rapat. Tak mau jadi sasaran mamanya. 


Melisa dan Bryan mengantarkan Selly ke tempat acara. Acara lamaran diadakan di sebuah hotel milik rekan orang tua Selly. Semua sudah disiapkan dengan baik oleh kedua orang tua Selly dan Regan. Memberikan semua yang terbaik untuk anak pertama dan anak semata wajah mereka.


Di  sana  sudah ada Regan yang menanti Selly. Dengan setelah jas yang dipilih Selly kemarin, dia tampak gagah. Walaupun tak banyak senyuman, tetapi wajah tampannya tetap terlihat begitu memesona. Hingga Selly yang baru datang sangat terpesona.


Acara lamaran dimulai. Pembawa acara mengarahkan Selly dan Regan untuk menjalani setiap prosesnya.  Cincin yang dibeli mereka pun tersemat di jari manis masing-masing-tanda jika mereka mengikat hubungan mereka lebih serius. 


Semua tamu undangan larut dengan kebahagiaan yang tersaji. Merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan muda yang bulan depan akan menikah itu. 


“Apa kamu bahagia?” tanya Selly berbisik pada Regan. 


Jika ditanya bahagia, dia pastinya sangat bahagia. Namun, semua terasa begitu cepat dan membuatnya belum siap. “Iya.” Regan menjawab untuk menenangkan Selly. 


Semua orang memberikan selamat dari orang tua dan kerabat. 


“Selamat Kak,” ucap Felix dan Erix-sepupu Regan memberikan selamat. 


“Terima kasih.” Senyum Selly tak surut dari wajahnya.  


“Wah ... aku tak sabar menunggu kalian menikah dan setelah itu malam pertama,” ucap Felix berbinar. Dia yang kemarin mendapat cerita dari Bryan tak kuasa untuk meledek pasangan yang akan menikah bulan depan itu. 


Regan memutar bola matanya. Dua pria perusuh itu membuatnya sakit kepala. Entah apa yang akan terjadi dengan otak Selly yang sudah tercemar itu.


“Jangan berisik!” seru Regan kesal. Dia kemudian beralih pada Selly, mengajaknya untuk menghindari pembicaraan dengan Felix. 


Felix tertawa saat mengerti jika Regan sengaja menghindari pembicaraan itu. 


Malam itu Regan dan Selly tampak bahagia. Menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang terdiri dari kerabat dan keluarga. Dua keluarga yang berteman sejak lama kini akhirnya menjadi satu. Memperkuat ikatan persahabatan dan ikatan bisnis tentunya. 


...🌺🌺🌺...


Seminggu berlalu. Regan dan Selly sudah kembali beraktivitas kembali. Selama ini Selly selalu membantu papanya menjadi asisten CEO di Adion Company. Jabatan yang sama  dengan Regan yang juga menjabat asisten CEO di Maxton Company. 


Di tengah persiapan pernikahan, Selly masih terus bekerja. Selama seminggu setelah acara pertunangan, Selly belum bertemu dengan Regan selain saling berkirim pesan.


Kekasihnya itu begitu sibuk hingga tak punya waktu sedikit pun untuk berdua dengan Selly. 


Beberapa keluarga seperti papa dan mamanya juga ikut hadir melakukan food test, makanan yang akan dihidangkan di acara pesta. 


Beberapa hidangan tersaji di meja, siap untuk diicip dan dipilih mana yang layak dihidangkan di pesta. 


Selly, Mama Melisa dan Mama Lana memilih beberapa makanan, membuat Regan heran karena banyak sekali makanan yang dipesan. 


“Apa orang akan datang hanya untuk makan,” sindir Regan.


“Iya, sebagian mereka datang untuk makan,” jawab Selly sambil mengunyah makanan. Dia kemudian menyodorkan makan ke mulut Regan. 


Regan mengunyah makanannya dan kembali berbicara, “Kalau mereka datang hanya untuk makan, sebaiknya kita buka saja restoran, kenapa kita harus dipajang di pelaminan,” jawab Regan


Selly memutar bola matanya malas. Sungguh Regan begitu menyebalkan. Pria yang tak mau repot itu terus memprotes acara pesta yang menurutnya tidak penting itu. “Anggap saja kita hiburan mereka.” 


“Kamu pikir kita badut-hiburan mereka,” jawab Regan kesal. 


Selly tertawa. Merasa gemas sekali dengan ucapan Regan. Walaupun jarang bicara, kadang baginya kalimat yang keluar dari mulut pria dua puluh tiga tahun itu begitu lucu. Hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Selly. 


...🌺🌺🌺...


Usai mencicip makanan, semua keluarga pulang. Regan dan Selly memisahkan diri karena mereka akan memesan suvenir terlebih dahulu. 


Selly benar-benar memanfaatkan waktu Regan yang tersedia karena memang sangat susah sekali membuat Regan ikut andil dalam persiapan pernikahan. 


Di mobil saat perjalanan pulang, Selly terus mengoceh apa saja yang akan mereka lakukan setelah mereka menikah. Satu yang diinginkan Selly adalah tinggal di rumah yang sudah disiapkan oleh papanya. Rumah yang didesainnya dulu sewaktu kuliah. 


Regan hanya bisa pasrah, baginya tinggal di mana saja tidak masalah. Lagi pula rumah itu memang diimpikan oleh Selly sejak lama. 


Mobil melaju ke rumah Selly dan berhenti tepat di depan rumah. 


“Besok minggu depan kita akan fitting gaun dan jas pernikahan, jadi aku harap kamu bisa datang.” Selly yang hendak turun dari mobil mengingatkan Regan. 


Mata Regan memutar. Memikirkan ada jadwal apa di minggu depan. “Iya, aku akan usahakan.” 


“Memang harus diusahakan,” ucap Selly, “jika tidak aku akan membunuhmu,” jawabnya kembali seraya mengerakkan tangannya seperti hendak mencekik. 


“Jika kamu membunuhku, aku rasa kamu akan jadi janda sebelum menikah,” ucap datar Regan. 


“Astaga, aku belum menikmati malam pertama, kenapa harus jadi janda,” keluh Selly berdrama. Wajahnya dibuat menghayati sekali saat berbicara, menujukan kesedihannya jika hal itu benar terjadi. 


“Sudah, sana turun.” Regan malas tak mau melihat Selly mulai beraksi. 


“Baiklah.” Selly membuka pintu mobil, tetapi dia kembali berbalik dan mendaratkan kecupan di pipi Regan, membuat Regan terkejut. Walaupun Selly sering melakukannya, tetap saja baginya begitu mendebarkan. 


Selama ini Regan memang tidak pernah menyentuh Selly. Ibarat porselen, dia menjaga gadis itu dengan baik-baik agar tidak pecah. 


Selly melambaikan tangan saat  Regan melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Senyumnya belum surut dari wajahnya. Merasakan bahagia menantikan hari pernikahan tiba. 


“Kenapa aku tidak pernah melihat Kak Regan memberikan kecupan lebih dulu?” 


Suara yang tiba-tiba terdengar membuat Selly menoleh. Suara siapa lagi yang begitu menyebalkan jika bukan suara Regan. 


“Jangan berisik,” jawab Selly kesal. 


“Apa dia tidak pernah memulai lebih dulu?” tanya Bryan menggoda kakaknya. 


“Aku rasa jika dia tidak memulai dulu, bisa jadi ada kelainan,” ucap Bryan, “bisa jadi dia gay,” imbuhnya. 


Mata Selly membulat. Tasnya langsung melayang ke tubuh Bryan. “Kurang ajar ya kamu mengatai Regan gay.” 


Bryan yang kesakitan langsung lari. Menghindar dari kakaknya. Melihat Bryan lari, Selly tak mau melepaskan begitu saja. Dia mengejar Bryan untuk memberikan pelajaran bagi adiknya itu.