
Agas keluar dari toko kue milik mamanya. Menuju ke motor sport miliknya. Yang terparkir di depan toko. Sesuai dengan ucapan mamanya, dia mengambil helm bogo yang terdapat di motor matic yang terparkir di sampingnya. Kemudian memberikan pada Nora. Tak butuh waktu lama, Agas melajukan motornya setelah Nora naik ke motor. Agas masih tidak pikir kenapa Nora datang ke tempatnya.
“Untuk apa kamu datang?” tanya Agas yang begitu penasaran.
Suara Agas yang tak terdengar membuat Nora maju sedikit untuk mendengarkan apa yang diucapkan Agas. “Apa?”
“Untuk apa kamu ke sini?” Agas mengulang kembali pertanyaannya.
“Untuk mengajakmu keluar, bukankah itu yang kamu katakan kemarin?”
Dahi Agas berkerut dalam. Dia pikir kemarin Nora bercanda dengannya, tetapi dengan kenyataan dia datang membuat yakin jika memang Nora datang untuk menemaninya keluar rumah atau mungkin lebih tepatnya memaksanya.
Rumah Agas yang tidak terlalu jauh dari toko kue membuat Agas dengan cepat sampai di rumah. Hanya butuh lima menit untuk mencapai rumah.
Nora dibuat tercengang melihat kawasan rumah Agas yang termasuk kawasan mewah. Terlihat rumah mewah dua lantai berjajar sepanjang motor melaju. Satpam yang berjaga di depan perumahan pun menujukan jika perumahan dijaga ketat.
Motor berhenti di rumah dua lantai yang cukup mewah. Penampakan rumah membuat Nora tersenyum. Agas memang tidak pernah cerita jika keluarganya cukup berada. Dia selalu tampil sederhana. Ke mana-mana hanya menggunakan motor.
“Ayo masuk,” ajak Agas seraya melepas helmnya.
Nora turun dan melepas helmnya. Mengekor di belakang Agas yang masuk ke rumah. Sepanjang masuk, Nora mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu di rumah Agas.
“Gas, apa kamu pelihara burung?” tanya Nora.
Agas yang berjalan, berhenti dan membuat Nora yang fokus melihat-lihat sekitar menabarak tubuh kekar Agas.
“Auch ... kenapa berhenti tiba?” protes Nora. Dia memegangi dahinya yang terbentur punggung Agas.
“Iya, maaf,” ucap Agas berbalik. “Pertanyaanmu membuatku terkejut,” ucapnya menjelaskan alasannya berhenti.
“Kenapa kamu tadi bertanya seperti itu?”
“Aku mencari burung karena sarangnya di sini,” ucap Nora seraya menunjuk arah rambut Agas.
Di sisi kiri tempat Agas berdiri terdapat kaca besar. Dari pantulan cermin, dia melihat pantulan dirinya. Terlihat rambut Agas yang begitu berantakan mirip sarang burung. Maklum, dia sudah sebulan tidak mencukur rambutnya. Jadi wajar jika tampilannya berantakan.
Namun, bukan berarti dia rela rambutnya dibilang rambut sarang burung. Dia pun melayangkan tatapan tajam, menatap tidak suka.
Nora dengan tenangnya menanggapi tatapan Agas.
“Aku heran bagaimana bisa kamu jadi dokter psikiater?” Agas memandangi Nora dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memerhatikan Nora dengan saksama.
Nora melihat Agas yang memerhatikannya. Merasa sedikit takut dengan tatapan Agas.
“Memangnya kenapa?” tanyanya memberanikan diri.
“Apa kamu tidak sadar itu adalah bagian bullying?”
“Iya, juga.” Nora memikirkan apa yang dikatakan Agas.
Agas mendengus kesal. Wajah Nora tampak menyebalkan sekali. Padahal jelas-jelas dia adalah dokter psikiater yang harusnya menjauhi hal-hal itu karena dapat merusak mental. Namun, dia sendiri melakukannya.
“Sudah lupakan,” ucap Agas. Dia malas membahas hal tidak penting. Agas menuju ke ruang keluarga, mempersilakan Nora untuk duduk, menunggu mamanya yang akan pulang sebentar lagi.
Sesaat tidak ada suara antara Agas dan Nora di ruang tamu. Sampai akhirnya Mbok Yah datang membawa minuman untuk Nora. Wanita paruh baya itu mempersilakan Nora untuk minum.
Saat Agas dan Nora sedang menikmati minuman, Aina datang. Dia langsung mengajak Nora untuk makan siang bersama.
“Apa kamu masih kerja di Rumah sakit tempat Agas bekerja?” tanya Aina saat saling berbincang di sela-sela makan.
“Tempat Agas dulu bekerja, Ma.” Agas membenarkan ucapan mamanya dengan penuh penekanan.
Aina mengabaikan Agas. Kemudian kembali lagi pada Nora.
“Saya dipindah tugaskan di sini, Tante.”
Agas terkejut. Tidak menyangka jika Nora dipindah tugaskan. Walaupun dia masih tidak percaya, pemindahan tugas bisa saja terjadi. Apalagi jika rumah sakit memang ada di daerah tersebut.
“Wah ... bagus sekali, kamu berarti aku tinggal di Solo?” tanya Aina memastikan dan mendapati anggukan dari Nora. “Lalu kamu tinggal di mana?”
“Kebetulan saya tinggal di rumah nenek. Nenek saya tinggal di sini.”
“Ajaklah nenekmu ke toko kapan-kapan untuk mencicipi kue.” Aina tersenyum.
“Iya, Tante.”
Agas sudah bagai nyamuk di antara dua wanita yang sedang asyik mengobrol itu. Karena Agas malas, dia memilih diam saja.
Setelah selesai makan, Nora membantu Mama Agas membereskan sisa makan, sedangkan Agas memilih untuk menunggu di ruang keluarga. Sebenarnya, dia ingin ke kamar dan menikmati tidurnya, tetapi mamanya melarang karena alasan tidak menghargai kedatangan tamu.
Di dapur, Aina dan Nora saling bercerita.
“Agas belum mau keluar rumah sejak keluar dari panti rehabilitasi. Tante sampai bingung. Tapi, tadi dia mau keluar dari rumah karena kedatangan kamu membuat Tante senang.” Aina mengungkapkan bagaimana senangnya.
“Saya beberapa kali menghubungi Agas, dan mendapati jika dia hanya di kamar.”
“Iya, bener dia hanya di kamar terus. Apa dia mengangkat sambungan telepon darimu?” Aina sedikit terkejut. Karena Agas selalu di kamar, dia tak tahu apa saja yang dilakukan anaknya.
“Iya, tetapi hanya beberapa kali.”
“Beberapa kali juga sangat berarti. Artinya dia mau berkomunikasi dengan yang lain,” ucap Aina, “di rumah ini dia jarang berbicara,” imbuh Aina.
Nora melihat jelas guratan kesedihan di wajah yang sudah mulai menua dari Aina. Dia tahu pasti bagaimana perjalanan Agas yang bolak-balik masuk ke panti rehabilitasi dan itu pastinya adalah hal sulit bagi orang tua.
“Percayalah, Tante, dia akan segera bangkit. Dia hanya butuh dukungan.” Sebagai dokter, dia biasa menenangkan keluarga pasien.
“Seringlah main ke sini, siapa tahu kedatanganmu bisa membuat Agas bangkit.”
Nora mengangguk.
Nora dan Aina keluar setelah selesai merapikan meja makan. Menuju ke ruang keluarga untuk menyusul Agas. Namun, mereka melihat Agas yang tidur di sofa. Terlihat Agas begitu pulas sekali.
Nora yang melihat Agas tersenyum. Melihat penampilan Agas sekarang membuatnya sedikit miris. Dulu di Rumah sakit, Agas adalah dokter tampan idola para suster. Dia selalu tampil rapi dan memesona hingga membuat semua mata yang melihat tak henti mengagumi. Namun, sekarang yang ada hanya seorang pria lusuh yang tak pernah mengurus dirinya sendiri.
“Kadang aku rindu dengan putraku yang dulu,” ucap Aina berkaca-kaca.
Tangan Nora membelai punggung Aina. Menenangkan ibu satu anak itu. “Suatu saat itu akan terjadi.” Sebuah ucapan yang terdengar seperti janji.
Aina dan Nora masih melanjutkan mengobrol di samping Agas. Terlihat Agas tak terusik sama sekali dengan suara mereka. Puas bercerita, Nora meminta izin untuk pulang.
Tadinya Aina ingin membangunkan Agas. Namun, Nora menolak. Dia memilih untuk naik ojek online saja. Aina tidak bisa mencegah, karena anaknya juga tidak bisa diandalkan.
Aina melambaikan tangan ketika Nora pergi dari rumahnya. “Sampai jumpa besok,” gumam Aina melihat motor yang mulai menghilang dari pandangannya.