My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Double D Bab 10



Dearra melihat wajahnya dari pantulan cermin. Dia melihat wajahnya. Tangannya bergerak memutar wajahnya ke kanan dan kiri. Memastikan apa yang berubah hingga Dean tidak mengenalinya. 


“Sepertinya aku masih sama saja.” Dearra merasa jika wajahnya tidak ada perubahan. 


Rasa penasaran akhirnya membuatnya segera mencari foto di ponselnya. Dia mencari foto di mana dia datang ke pesta pernikahan Ghea. Dia ingin memastikan apa yang berbeda. 


Saat mendapatkan foto, Dearra melihat foto dan wajahnya dari pantulan cermin secara bergantian. Akhirnya dia mendapatkan jawaban jika ada banyak perubahan dirinya. 


“Dulu aku benar-benar seperti anak kecil. Berantakan sekali.” Dearra memicingkan matanya melihat foto dirinya. “Pantas Kak Dean tidak bisa mengenali aku. Aku benar-benar berbeda sekali.” Akhirnya Dearra tahu kenapa Dean tidak mengenalinya. 


“Em ... tapi aku akan membuatnya mengenali aku.” Dearra semakin bersemangat ketika Dean tidak mengenalinya. 


Dearra meletakkan kembali ponselnya. Melanjutkan kembali kegiatannya untuk memoles wajahnya. Dia begitu riang sekali. Bernyanyi selama memoles wajahnya. 


Suara Dearra yang sampai keluar karena pintu kamar terbuka sedikit, membuat sang kakak mengintip. Raya melihat jelas sang adik yang begitu riang. Dia tidak menyangka jika sang adik begitu riang sekali ketika bersiap untuk bekerja. Raya benar-benar merasa tidak suka akan hal itu. Padahal jelas-jelas dia ingin membuat sang adik tidak betah bekerja. Dia ingin sang adik kembali kuliah saja. 


“Sepertinya aku harus lebih berusaha keras agar di kembali kuliah saja.” Raya mengembuskan napasnya. Rasanya dia tak rela jika adiknya harus merelakan kuliah hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah. 


...***...


Dean bersiap untuk berangkat bekerja. Kali ini dia bersemangat sekali. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Jadi wajar saja jika begitu bersemangat. 


Setelah bersiap, dia bergabung dengan sang mama dan papanya. Menikmati sarapannya. Dean berangkat lebih awal. Dia memberitahu jika akan berangkat sendiri. Jadi tidak berangkat dengan sang papa dan mama. Papa Erix dan Mama Lyra pun mempersilakan anaknya berangkat sendiri. Merasa jika tidak ada masalah jika sang anak berangkat sendiri. 


Dean berangkat dengan mengendarai mobilnya. Sepanjang perjalanan dia mendengarkan lagi dan sambil bernyanyi. Hal ini membuatnya semakin bersemangat. 


Mobil sampai di Rumah sakit. Dengan segera Dean turun dari mobil. Kemudian dia segera masuk ke Rumah sakit. Sepanjang jalan ke ruangannya, dia melihat banyak mata memandanginya. Tentu saja hal itu tentu saja membuatnya canggung. 


“Pagi.” Dean dengan ramah menyapa mereka yang menatapnya. Berusaha menghilangkan rasa canggungnya. 


“Pagi, Dok.” Salah satu perawat menjawab. Dia tidak menyangka jika anak pemilik Rumah sakit akan menyapa lebih dulu. Tentu saja hal ini menjadi hal menakjubkan untuk mereka. 


Dean melanjutkan langkahnya ketika selesai menyapa perawat. Dean merasa kini harus terbiasa.


“Ehem ....” Suara berdeham terdengar dari belakang Dean. 


Dean yang mendengar akan hal itu langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik untuk melihat siapa gerangan. Saat berbalik, ternyata Dean melihat jika itu adalah Ghea. Ibu muda itu tersenyum ketika melihatnya. 


“Pagi.” Dean menyapa dengan senyumnya. 


“Pagi.” Ghea menjawab sapaan Dean. “Ternyata dokter ini yang membuat para perawat senyum-senyum.” Dia menggoda Dean. Saat datang tadi, Ghea melihat para perawat yang menatap Dean. Wajah mereka begitu semringah. Hingga membuat Ghea heran. 


Dean langsung tertawa. “Satu Rumah sakit ini sepertinya terpesona padaku.” Dean membanggakan dirinya.


“Kecuali aku,” ledek Ghea. 


Dean semakin tertawa. “Jika kamu sampai terpesona, aku yakin akan jadi amukan Rowan.” 


Ghea tersenyum. 


“Kamu sudah sampai saja pagi-pagi.” Dean melihat Ghea yang datang pagi sepertinya. Padahal bisa saja dia berangkat sedikit siang. 


“Anak-anak sedang di rumah mama. Jadi aku bisa berangkat lebih awal. Dan ternyata aku disuguhkan pesona dokter muda.” Ghea menggoda Dean. 


Dean dan Ghea berjalan bersama menuju ke ruangannya. Walaupun sudah bertemu Dean di rumah, Ghea belum sempat mengobrol banyak. 


“Bagaimana perasaanmu akan akhirnya bekerja juga?” Ghea menoleh ke arah Dean. 


“Senang, karena akhirnya aku bekerja juga. Karena aku akan bertemu dengan pasien.” Dean memang bersemangat sekali ketika bisa melayani pasien. 


“Sepertinya pasien apa yang akan datang padamu pertama kali?” Ghea menatap Dean. 


“Tentu saja dengan keluhan jantung. Jika dengan keluhan kehamilan, dia akan pergi pada mama.” Dean tertawa. Sungguh pertanyaan temannya itu menggelitik sekali.


“Dasar.” Ghea bukan bermaksud bertanya seperti itu. Ini adalah hari pertama Dean kerja. Jadi pastinya akan ada pasien baru yang dilayaninya. Dia hanya membayangkan siapa yang akan menjadi pasiennya. Dulu pertama kali bekerja dia juga menunggu sekali siapa yang akan menjadi pasiennya. Dan siapa yang menjadi pasien Ghea pertama? Pasien pertama sang daddy. Daddy Bryan yang makan udang akhirnya harus ke dokter dan Ghealah yang mengobati sang daddy. Sebenarnya Ghea tahu jika sang daddy sengaja makan udang. Karena dia ingin menjadi orang pertama di periksa. 


Langkah mereka terhenti ketika Ghea sampai di ruangannya. Terpaksa Ghea harus menghentikan obrolannya. 


“Aku tunggu makan siang bersama.” Ghea menatap Dean. 


“Baiklah. Bertemu nanti makan siang.” Dean tersenyum. Dia kemudian melanjutkan kembali untuk melanjutkan langkahnya ke ruangannya.


Dean membuka pintu ruangannya. Ruangannya begitu luas. Dean yakin sang papa menyiapkan ruangan ini spesial untuknya. Sejujurnya Dean tidak suka dengan hal ini. Dia ingin diperlakukan sama dengan dokter lain. Namun, dia sadar, papanya pasti mau anaknya dapat yang terbaik. 


Dengan segera Dean mengayunkan langkahnya ke mejanya. Tangannya meraih jas dokter yang dibawanya. Kemudian memakainya. Jas kebanggaannya ini akan menemaninya memeriksa pasien. Memberikan mereka pengobatan terbaik. Sambil merapikan jas dokternya, Dean berharap, hari ini akan menjadi  hari baik untuknya. Bisa membantu pasien yang membutuhkannya. 


Sesaat kemudian suara pintu terdengar. Seorang perawat masuk ke ruangannya. 


“Pagi, Dok.” 


“Masuklah,” pinta Dean. 


Perawat masuk. “Saya Bona, Dok. Saya yang akan membantu dokter di bagian spesialis jantung.” Perawat itu mengenalkan dirinya. 


Dean tersenyum. “Hai, Bona. Terima kasih sudah memperkenalkan diri. Semoga kita bisa bekerja sama.” 


“Tentu, Dok.” Bona menganggukkan kepalanya. 


“Kamu siapkan semua. Jika ada pasien bisa kamu suruh dia langsung masuk saja.” Dean memberikan perintahnya.”


“Baik, Dok.” Bona menganggukkan kepalanya. 


Bona keluar dari ruangan Dean. Meninggalkan Dean sendiri. Dia akan menyiapkan data pasien yang akan diperiksa oleh Dean. 


Beberapa saat kemudian, suara ketukan terdengar. Dean mengalihkan pandangannya pada pintu. Dia yakin Bona yang mengetuk pintu.


“Silakan.” Bona mempersilakan pasien untuk masuk. 


Benar dugaan Dean jika Bona membawa pasien. Ini adalah pasien pertamanya. Tentu saja, dia akan mengingat dengan baik orang itu.


Dipersilakan Bona masuk, pasien itu pun masuk. Dean memerhatikan pasien pertamanya itu dengan saksama. 


“Kamu ....”