
Di tempat berbeda.
Suara kamera yang membidik objek terdengar mengisi ruangan. Seorang model berpose di depan kamera dengan berbagai gaya yang diarahkan oleh sang fotografer. Sorot lampu yang mengarah pada sang model menjadi elemen penting. Pencahayaan yang bagus akan membuat hasil foto yang sempurna.
“Iya bagus-bagus, tetap tahan!” Sang fotografer mengarahkan sang model untuk tetap pada posisinya ketika menemukan angle yang pas.
Sang model wanita terus berpose di depan kamera. Seolah dirinya adalah model paling cantik yang ada. Tangannya dengan gemulai bergerak ke sana ke mari sesuai arahan fotografer. Sesekali bergerak sesuai nalurinya sebagai seorang model.
“Coba letakkan tangan di bibir,” ucap fotografer memberikan arahan.
Dengan sensual sang model melakukan apa yang diperintahkannya. Bibirnya yang dipoles lipstik merah begitu terlihat sangat menggoda. Pas sekali ketika jari-jari indahnya itu berada di atas bibir. Kuku-kuku lentik dengan cat kuku berwarna merah pun, tampak indah sekali.
“Bagus, tahan-tahan.” Fotografer membidik foto dengan hati-hati, agar dapat menghasilkan foto yang bagus. “Oke, selesai.” Akhirnya suara sang fotografer terdengar mengakhiri sesi foto hari ini.
Sang model tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya sedikit. Kemudian turun dari kursi yang didudukinya sedari tadi. Sedikit bernapas lega karena akhirnya pemotretan selesai.
“Coba lihat hasilnya bagus sekali,” ucap make up artis yang melihat foto di layar kamera sang fotografer.
Dengan malas sang model mendekat. Melihat hasil kerjanya yang baru saja dia kerjakan. Saat melihat foto di layar kamera sang fotografer, netranya menatap jengah. Malas sekali melihat penampakan jari jemarinya saja yang ada di layar kamera.
Danica Florencia-gadis dua puluh empat tahun itu baru saja melakukan pemotretan untuk produk jam tangan salah satu online shop yang menjual beberapa aneka jam tangan.
Sebulan yang lalu, Flo melamar ke salah satu agensi model yang menaungi model-model kelas bawah. Agensinya biasanya bekerja sama dengan beberapa brand lokal di Indonesia untuk membuat katalog-katalog produk.
“Wajah kamu itu pas-pasan. Tidak menjual sama sekali! Tinggi badan kamu juga kurang proporsional. Jadi kamu tidak bisa menjadi model di sini,”
Kalimat itu begitu menyakitkan bagi Flo. Padahal di kampusnya, dia termasuk salah satu gadis cantik. Sayangnya, di dunia permodelan, tidak. Entah apa yang salah dengan wajahnya. Apa mungkin dulu orang tuanya saat membuat Flo, tidak berdoa dulu agar anaknya menjadi cantik atau mungkin ibunya tidak berdoa saat hamil Flo. Dan lagi untuk tinggi badannya, Flo juga bingung kenapa dia tidak bisa tinggi. Padahal tiap hari sewaktu sekolah, orang tuanya memberikan susu merk jerapah. Berharap dia akan setinggi jerapah.
Terlepas mana yang menjadi penyebabnya, yang terpenting di matanya, wajahnya masih cantik. Tinggi badannya sudah cukup, karena tidak kesulitan ketika tangannya meraih handle grib di dalam bus yang ditumpanginya tanpa berjinjit. Flo selalu membesarkan hatinya ketika orang menghinanya. Siapa lagi yang mau memuji, jika bukan dirinya sendiri.
Kembali pada nasib permodalan Flo, akhirnya dia tidak diterima. Dengan segala keikhlasan yang sudah ditanamnya sebelum berangkat, Flo memilih berpamitan. Sekali pun disakiti karena wajah pas-pasannya, dia tetap bersikap sopan. Menjabat tangan untuk terakhir kalinya, sebelum keluar dari ruangan audisi ala-ala.
Sepertinya, nasib baik memang sedang berpihak padanya. Mungkin Tuhan melihat kegigihannya, hingga akhirnya para model senior dan beberapa orang yang entah Flo tidak tahu jabatannya apa, melihat tangannya.
“Jari jemrimu bagus.” Kalimat itu menjadi awal mula yang akhirnya mengantarkan Flo menjadi model. Katanya, jari jemarinya bisa menjadi nilai jual dari Flo. Dia hanya tinggal berpose memperlihatkan tangannya yang mulus dengan jari jemari yang lentik.
Beberapa produk yang sering menjadi ladang kerjanya adalah perhiasan dan jam tangan. Itu pun hanya tangannya saja yang difoto.
Wajahnya tidak sama sekali difoto. Jadi, jika ditanya pekerjaan Flo apa? Sulit untuk Flo menjawab jika dia seorang model. Karena orang tidak akan percaya. Bagaimana bisa percaya jika wajahnya tidak pernah terpampang di katalog mana pun.
Satu lagi yang hampir saja dilupakan. Kata beberapa orang di agensi model tempatnya bernaung, bibir Flo sangat cantik. Saat dipoles dengan lipstik begitu tampak menggoda. Hingga akhirnya, belakangan ini, dia menjadi model untuk katalog lipstik. Ingat, hanya bibirnya saja yang difoto.