
“Apa kalian dengar tadi dr. Erix menolong pasien di depan Rumah sakit?” Seorang perawat membicarakan aksi Dean tadi.
“Apa dr. Erix sudah mulai bekerja?” Salah satu perawat melayangkan pertanyaan itu. Dia begitu penasaran sekali.
“Dia belum mulai bekerja, mungkin tadi dia hanya berniat untuk datang ke Rumah sakit, jadi tanpa sengaja dia bertemu dengan orang yang tiba-tiba pingsan di depan Rumah sakit.” Perawat itu menceritakan bagaimana Dean bisa membantu pasien.
Para perawat mendengarkan dengan saksama cerita temannya.
“Rasanya tidak sabar untuk melihat dr. Dean di Rumah sakit ini. Pasti akan sangat seru sekali bekerja sambil melihat pria tampan.
“Awas, nanti kamu kena omel dr. Lyra.” Salah satu teman menimpali.
Tawa mereka terdengar. Mereka tak sabar melihat dr. Dean mulai bekerja.
Obrolan itu terdengar oleh Dearra yang sedang mengantarkan makan siang. Ternyata begitu banyak yang mengagumi Dean. Hal itu membuatnya merasa ternyata saingannya begitu banyak. Rasa Dearra harus banyak berusaha.
“Olin, kamu tadi sempat lihat dr. Dean ‘kan?” tanya Merry.
Dearra menatap temannya. “Iya.” Dia mengangguk.
“Bagaimana aksi dr. Dean? Apa mengagumkan seperti yang para perawat bilang?” tanyanya ingin tahu.
Dearra tampak berpikir. Memutar memorinya tentang bagaimana aksi Dean. Walaupun hanya sebentar melihatnya, tetapi itu begitu mengesankan. “Ya, begitulah.” Dearra mengangkat bahunya. Dia tidak bisa menjelaskan pada temannya. Biarkan saja dirinya yang menikmati.
“Kamu, aku padahal ingin sekali menikmati cerita.”
“Sudah ayo. Kita harus segera selesaikan pekerjaan kita.” Dearra pun menarik tangan Merry mengajaknya untuk kembali bekerja.
Merry hanya menekuk bibirnya ketika temannya mengajak kembali bekerja. Padahal, baru saja dia ingin menikmati ketampanan dr. Dean dari cerita Dearra.
Dearra kembali lagi bekerja. Dia ingin menyelesaikan pekerjaanya dan segera pulang. Dia berharap nanti saat selesai bekerja, dia masih bisa bertemu dengan Dean.
...***...
Dean menyelesaikan prosedur untuk bekerja. Dia juga sempat mengobrol sebentar dengan sang papa. Menceritakan perkembangan Rumah sakit. Setelah puas mengobrol dengan sang papa dia pun segera menemui sang mama. Walaupun malas, tetapi Dean tetap melakukannya.
Saat berjalan menuju ke ruangan sang mama, semua mata tertuju padanya. Mereka memberikan salam dengan menganggukkan kepalanya sedikit pada Dean. Mendapatkan perlakukan seperti itu memang bukan hal baru untuk Dean, tetapi jika setiap hari, rasanya Dean tidak bisa membayangkan hal itu.
“Dr. Dean mau bertemu dr. Lyra?” tanya seorang perawat pada Dean.
“Iya.” Dean menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Silakan.” Perawat itu mempersilakan Dean untuk masuk ke ruangan pemeriksaan. Kebetulan sedang tidak ada pasien, jadi Dean bisa masuk.
“Terima kasih.” Dean segera masuk ke ruang pemeriksaan sang mama.
Perawat yang bicara dengan Dean merasa begitu senang sekali. Kapan lagi bisa bertegur sapa dengan Dean.
Dean yang masuk melihat sang mama sedang sibuk di meja kerjanya. Saat pintu terbuka, sang mama langsung mengalihkan pandangan pada sang anak.
“Kamu sudah ke sini.” Mama Lyra menyambut sang anak.
“Kenapa juga aku harus ke sini, Ma? Lihatlah mereka para perawat melihat ke arahku.” Dean menekuk bibirnya kesal. Sungguh menyebalkan sekali menjadi pusat perhatian.
Mama Lyra tertawa. Dia merasa lucu dengan kekesalan sang anak. “Kamu harus terbiasa. Apalagi kamu akan bekerja di sini.” Mama Lyra tersenyum menenangkan sang anak.
Dean hanya bisa mendengus mamanya benar-benar akan membuatnya menjadi tontonan dari para perawat. Di dalam ruangan, sang mama menceritakan beberapa dokter di Rumah sakit. Dia meminta Dean untuk mencoba mendekati satu dari mereka. Sungguh hal itu membuat hanya bisa menggeleng heran. Benar-benar sang mama ingin sekali dirinya menikah.
“Iya, Ma. Jika nanti ada yang membuatku tertarik di sini aku akan langsung menikahinya. Jika perlu hari itu juga aku akan membawa ke penghulu.” Dean yang kesal dengan sang mama justru menggoda sang mama.
“Bukan begitu juga.” Mama Lyra menepuk dahinya. Sungguh anaknya tidak peka sekali.
Dean tertawa. “Mama tenang saja. Aku pasti akan menemukan wanita yang akan membuat aku jatuh cinta.”
Mama Lyra tersenyum. Merasa senang akhirnya anaknya mengerti juga maksudnya.
Usai bertemu dengan sang mama, Dean memilih untuk segera pulang. Apalagi tadi dia meninggalkan mobilnya asal saja di depan Rumah sakit, tentu saja dia harus segera mengambil mobilnya itu.
...***...
Dearra yang mengantarkan berkas, melihat Dean yang berjalan dari kejauhan. Jantungnya begitu berdebar ketika melihat pria yang disukainya itu. Dean benar-benar semakin tampan. Walaupun beberapa tahun yang lalu dia tetap tampan.
“Dr. Dean.” Merry yang berjalan di samping Dearra menyenggol. Memberikan isyarat jika ada pria tampan di depannya.
Dearra terlalu asyik mengagumi wajah tampan Dean. Tubuhnya yang kekar serta tegap membuatnya terlihat keren sekali ketika berjalan. Semakin langkah Dean dekat, tubuh Dearra semakin gemetar. Sungguh Dearra tak kuasa melihat pesona sang idola tercinta.
Dean yang melihat dua wanita di depannya tampak tenang saja. Sejak tadi dia sudah menjadi pusat perhatian orang-orang. Tentu saja hal itu membuatnya terbiasa. Dia pun berjalan dengan tenang melewati dua wanita di depannya tadi.
Dearra yang melihat Dean melintas begitu saja merasa terkejut. Artinya, Dean tidak mengenalinya sama sekali. Hal itu membuatnya sedikit kecewa. Namun, bukan Dearra jika larut dalam kekecewaannya. Dia pun segera berbalik pada Dean yang melintas di sebelahnya.
“Dokter,” panggil Dearra.
Dean yang mendengar suara menghentikan langkahnya. Dia berbalik melihat orang yang memanggilnya itu. “Iya,” ucapnya.
“Ada yang jatuh.” Dearra memberitahu pada pria yang sedari tadi menarik perhatiannya itu.
Dean mengedarkan pandangan ke lantai. Mencari benda apa yang dijatuhkannya hingga wanita yang berada di depannya itu memberitahu. Namun, saat melihat ke sekitar, dia tidak mendapatkan apa-apa. Tak ada benda apa pun di sekitarnya.
“Apa yang jatuh?” Dean mengalihkan pandangan pada Dearra.
“Hatiku.” Dearra memegangi dadanya. Menunjukan di mana letak hatinya berada.
Dean terkejut dengan yang didengarnya. Dia mengerti maksud dari yang dimaksud wanita di depannya. Karena tidak tahu harus menanggapi apa, dia hanya menarik senyum tipis di bibirnya. Tanpa menjawab apa-apa, dia pun berbalik. Kembali melanjutkan langkahnya. Saat berbalik, Dean tertawa tanpa mengeluarkan suara. Sungguh wanita itu membuatnya salah tingkah.
Dearra tersenyum. Ketika melihat punggung Dean yang bergerak, dia yakin Dean sedang tertawa.
Aku akan buat kamu mengenali aku. Sengaja Dearra menarik perhatian Dean. Dia ingin Dean menyadari siapa dirinya, tanpa harus dirinya mengatakan apa-apa.
Dearra masih memandangi punggung Dean yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Dia harap, pertemuannya dengan Dean tidak akan berhenti hari ini.
“Wah … kamu pintar sekali menggombal.” Merry yang mendengar gombalan Dearra hanya bisa menggeleng.
Dearra tersenyum. “Setelah ini, dia akan ingat aku.” Dengan percaya dirinya Dearra membanggakan aksinya.
“Aku tidak yakin.” Merry sadar banyaknya perawat dan karyawan akan sulit untuk Dean mengingat mereka satu per satu.
“Kita lihat saja nanti.” Dearra tersenyum. Dia yakin Dean akan ingat padanya.
...***...
Dean yang masuk mobil langsung tertawa. Sungguh baru kali ini dia goda oleh seorang wanita. Jika dia yang menggoda, itu sudah hal biasa, tetapi ketika dirinya yang digoda, rasanya terdengar lucu.
“Sepertinya aku akan betah di Rumah sakit.” Dean memasukkan kunci mobil dan memutarnya. Menghidupkan mobilnya dan segera melajukan mobilnya. Sepanjang jalan dia tersenyum manis. Sungguh hari ini adalah hari yang indah baginya. Hal indah bagi Dean adalah bisa menyelamatkan pasien. Namun, keindahan harinya ini bertambah ketika mendapatkan gombalan receh dari karyawan di Rumah sakit.