
Ucapan salam mengakhiri kelas hari ini. Dosen keluar dan mahasiswa mulai merapikan buku, bersiap untuk pulang.
“Kamu meminjamkan buku genetika pada Mara?” tanya Tara yang sedang sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya.
Agas yang juga sedang memasukkan bukunya, menghentikan gerakan tangannya dan menoleh pada Tara. “Iya,” jawabnya tersenyum lebar dan membuat Tara hanya bisa menggeleng. “Tahu dari mana kamu jika aku meminjamkan pada Mara?” tanyanya kembali.
“Semalam aku mengantarkan Lili dan aku bertemu Mara.”
“Kamu tidak mengatakan jika itu bukumu 'kan?” tanya Agas cepat. Pastinya dia akan sangat malu jika sampai Mara tahu jika buku itu bukan miliknya.
“Tenanglah, aku tidak sekejam itu.” Tara tertawa melihat wajah panik Agas.
Sebenarnya Tara hanya ingin memastikan saja karena bukunya itu Agas yang pinjam. Baru kali ini Tara melihat Agas berusaha keras mendapatkan wanita. Seperti kali ini, dia meminjamkan buku pada Mara. Padahal biasanya Agas tidak mau repot dengan para wanita yang sedang membutuhkan sesuatu.
“Baguslah.” Agas merasa lega mendengar jawaban Tara.
“Apa kalian belum jadian?” Tara yang selesai memasukkan bukunya beralih menggendong tasnya.
“Belum, aku takut dia menolakku.“ Mata Agas menatap kosong. Sampai detik ini, dia masih sangat takut mengungkapkan perasaannya. Banyak hal yang sudah Agas ceritakan pada Mara dan catatan hitamnya seolah sudah diketahui oleh Mara, sehingga membuatnya tidak berani.
“Aku berharap dia menolakmu,” ucap Tara tertawa. Melihat wajah Agas yang serius begitu sangat menggelikan.
“Sial, kamu senang sekali melihat aku menderita.” Agas membuang tasnya ke arah Tara dan ditangkap oleh Tara. Tara semakin terkekeh mendengar kekesalan Agas.
Mereka keluar dari kelas, menuju lapangan basket. Hari ini final basket antar kampus. Suasana lapangan sudah mulai ramai. Beberapa orang duduk di kursi penonton. Memastikan dapat kursi paling depan, agar dapat menonton dengan jelas
Tara bersiap untuk pertandingan, bergabung dengan teman-temannya. Final pertandingan basket diadakan lebih awal, agar banyak penonton yang bisa datang dan membuat semarak pertandingan.
Agas menuju ke kursi penonton, menghampiri beberapa teman kampus sekaligus teman kosnya yang sudah datang . Sebagian teman Agas memang hobi basket, dan sebagian hobi game seperti dirinya, jadi lengkap sudah perkumpulan mereka.
Sambil menunggu pertandingan dimulai, Agas dan teman-temannya bermain game, karena masih ada sekitar setengah jam lagi pertandingan dimulai.
“Aku menang,” teriak Agas setelah setengah jam asyik bermain game.
Semua mata memandangi Agas. Pertandingan basket belum dimulai, tetapi sudah ada kemenangan. Hingga membuat mereka semua tertawa. Karena yang berteriak adalah pria tampan, mereka semua hanya bisa tidak mempermasalahkan. Agas yang mengedarkan pandangan pada semua orang yang melihatnya. Dengan wajah polosnya, dia tersenyum.
Saat pandangan terus melihat ke sekeliling, matanya berhenti pada satu titik di mana dia menemukan seseorang di sana. Mara, dialah yang dilihat Agas. Gadis itu duduk di kursi berseberangan dengannya, duduk bersama dengan Lili-temannya. Entah sejak kapan dia datang, Agas tidak tahu.
Wajah Agas seketika kesal melihat Mara menonton final pertandingan basket. Kemarin, dia sengaja tidak mengatakan jika Tara bermain basket. Dia terlalu takut jika sampai Mara menaruh hati pada pria-pria pemain basket yang tak kalah tampan dengannya. Namun, karena Mara sudah berada di sini sekarang, tidak ada pilihan selain mengawasi dengan lebih, agar gadis yang disukainya itu tidak lepas dari genggamannya.
Agas menghampiri Mara dan duduk di sampingnya.
“Gas, kenapa pindah ke sini?” tanya Mara. Mara melihat ke arah sekitar. Dia tidak enak jika harus duduk dengan Agas. Tadi saat datang dia melihat Agas yang duduk dengan teman-temannya yang sedang bermain game. Jadi dia memilih duduk berseberangan dengan Agas.
“Kenapa tidak bilang kamu akan ke sini?” Wajah Agas terlihat sekali tidak suka.
“Kamu kenapa kemarin tidak bilang jika ke sini?” Mara dengan wajah kesal balik bertanya pada Agas.
Agas menutup mulutnya rapat. Tidak mungkin, dia mengatakan jika alasannya adalah karena tidak mau Mara melihat para pria tampan lainnya. “Aku lupa.” Alasan itu yang dipakai Agas.
“Untung Tara dan Lili mengatakan kemarin,” ucap Mara seraya menoleh pada Lili.
“Hai … Gas,” sapa Lili tersenyum polos.
“Sejak kapan kamu di sini?” tanya Agas.
“Sejak kamu asyik main game.”
Benar dugaan Agas. “Kenapa tidak memanggilku?”
“Untuk apa?”
“ Ya ....” Belum selesai Agas berbicara para pemain masuk ke dalam lapangan basket.
Agas dan Mara menghentikan perdebatan saat pertandingan dimulai. Mereka fokus melihat pertandingan. Riuh penonton bersorak saat pertandingan dimulai. Beberapa pria tampan dan tinggi masuk ke lapangan dan memulai pertandingan. Teriakan dukungan terdengar saat bola masuk ke keranjang.
“Lihat, Tara tampan sekali.” Suara wanita di depan Mara, Lili dan Tara. Mara dan Lili pun mengarahkan pandangan pada Tara yang jadi objek pembicaraan. Tara yang memang tidak kalah tampan dari Agas memang menjadi magnet bagi para wanita di kampus. Hobinya main basket jadi nilai tambah untuknya karena semakin terlihat keren.
“Ternyata banyak yang suka dengan Tara. Kamu tidak suka dengannya?” goda Mara pada Lili.
“Terima kasih, sepertinya tidak. Aku lebih nyaman berteman dengannya.”
Mara mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dia kembali melihat pertandingan basket.
Agas yang melihat mata Mara memperhatikan sedikit cemburu. Tidak rela mata indah Mara melihat pria lain. Namun, melihat Mara bersorak senang, dia tidak bisa mengajak Mara pergi secara tiba-tiba.
Pertandingan dimenangkan oleh team Tara. Sorak-sorai terdengar mengakhiri pertandingan. Agas, Mara dan Lili menghampiri Tara dan mengucapkan selamat.
“Besok jangan lupa kita rayakan di kafe,” ucap teman Tara seraya menepuk bahu Tara. “Ajak teman-temanmu sekalian.” Teman Tara melihat Mara dan Lili memberi kode Tara untuk mengajak mereka. Kemudian pergi.
“Aku mau ikut,” ucap Lili semangat. “Nanti 'kan di sana akan ada semua pemain.” Lili membayangkan bertemu teman-teman Tara.
“Kamu tidak bisa melihat pria tampan sedikit,” sindir Mara.
Tara ikut tertawa mendengar dua gadis berdebat, sedangkan Agas hanya bisa diam, karena tidak bisa melarang Mara.
Selesai pertandingan, Agas, Mara, Tara dan Lili pulang. Mara pulang dengan Lili karena dia berangkat dengan Lili, sedangkan Agas dan Tara memakai motornya kembali ke kos mereka.
***
Mara mengusap rambut basahnya. Mengeringkannya dengan handuk. Sesampainya pulang Mara langsung bergegas mandi, menyegarkan tubuhnya yang seharian beraktivitas.
Suara dering telepon terdengar, membuat Mara mencari tasnya. Meraih tasnya yang berada di atas tempat tidur, dia mengambil ponselnya. Senyumnya tertarik saat nama Agas tertera di layar ponselnya. Mengangkat sambungan telepon Mara menyapa Agas.
“Aku baru saja selesai mandi.” Mara yang ditanya Agas menjelaskan apa yang dilakukannya. Tangannya terus saja mengusap rambut basahnya.
Mereka berdua menceritakan tentang pertandingan basket tadi. Lebih tepatnya Mara yang bercerita.
“Ay, ayo kita pacaran.” Suara Agas terdengar saat Mara sibuk bercerita. Ini yang sedari tadi Agas pikirkan, mengungkapkan perasaannya, sebelum Mara jatuh pada pria lain. Namun, yang keluar justru hanya kalimat singkat dari mulutnya.
Mara terkesiap. Dia menganggap Agas sedang bercanda dengannya. Seingatnya, Agas pernah menceritakan jika dia sering mengungkapkan cinta pada mantannya dengan romantis. “Ayo,” jawab Mara menyelipkan tawanya.
Agas yang mendengar merasa lega. Karena Mara menerimanya. Kemudian mereka berdua membahas besok untuk datang ke acara perayaan kemenangan team basket. Agas berniat untuk menjemput Mara, tetapi gadis itu menolak karena tidak sudah.