My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Ghea & Rowan Bab 9



Ghea masih menatap tajam pada Rowan. Bisa-bisanya pria itu membohongi anaknya seperti itu. Hal ini jelas akan membuat keruh masalah yang ada. Akan melukai perasaan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. 


“Mommy.” Gemma memeluk Ghea. 


Ghea tak bisa menolak sama sekali. Tak mau melukai anak kecil yang bersamanya itu. Posisi Gemma yang menghadap ke belakang membuat Ghea dapat menatap Rowan dengan tajam. Dia benar-benar akan membuat perhitungan dengan laki-laki itu. 


Rowan dengan tenangnya ketika Ghea menatapnya. Merasa jika tak bersalah sama sekali. 


“Mommy, jangan pergi.” Gemma yang memeluk merasa begitu sedih karena takut kehilangan mommy-nya lagi. 


“Mommy tidak akan meninggalkanmu.” Ghea membelai lembut punggung Gemma. “Jadi anak cantik jangan menangis.” Ghea melepaskan pelukannya. Kemudian menghapus air mata yang mengalir di wajah Gemma. 


“Gemma tidak akan menangis.” Gemma ikut menghapus air matanya. 


Ghea tersenyum. Tangannya membelai lembut pipi Gemma. 


“Mommy, ayo katanya Mommy mau kepang.” Gemma langsung menarik tangan Ghea begitu saja. 


Ghea yang dalam posisi berjongkok langsung berdiri. Dia hanya pasrah ketika Gemma menariknya. Melewati Rowan yang masih berjongkok. Pria itu tidak sama sekali memberikan pertolongan. Seolah membiarkan begitu saja dirinya. 


Rowan tak banyak menunjukkan reaksi apa-apa. Wajahnya datar saja ketika melihat anaknya menarik tangan Ghea. Dengan tenangnya dia berdiri. Mengekor anak dan mantan kekasihnya itu. 


Gemma mengajak Ghea ke kamarnya. Kamar dengan dominasi warna pink itu terlihat begitu cantik. Boneka yang di susun rapi di sudut kamar pun menarik perhatian Ghea. Kamar Gemma benar-benar disusun dengan rapi. 


Gemma memberikan sisir pada Ghea. Meminta Ghea untuk mengepangnya. Seperti yang direncanakannya.


Ghea tersenyum. Kemudian meminta Gemma untuk duduk di tempat tidur. Dia duduk tepat di belakang Gemma. Berjajar depan-belakang dengan Gemma. 


Rambut Gemma yang panjang dan lurus membuat Ghea benar-benar gemas. Dia dengan lembut merapikan rambut Gemma. Mengambil beberapa bagian untuk dikepang. 


Gemma yang dikepang merasa senang sekali. Dia berceloteh ria saat merasakan bahagianya. 


“Daddy juga bisa kepang, tapi Gemma tidak mau.” Gemma berceloteh menceritakan daddy-nya. 


“Kenapa?” Ghea begitu penasaran. Tangannya masih bergerak mengepang rambut Gema. 


“Daddy laaammmaaaaa .... sekali kepang.”


Sejenak Ghea teringat. Pria dingin itu memang suka sekali mengepang. Sayangnya, karena begitu detail, dia melakukannya dengan lama sekali. Tak membiarkan sehelai rambut pun terlepas. 


“Tapi, Daddy lebih rapi kepangnya.” Rowan yang sejak tadi di depan pintu tak terima ketika dibicarakan. Dia masuk ke kamar anaknya dan menghampiri dua perempuan yang sedang sibuk membicarakannya. 


Ghea yang melihat Rowan ke kamar, melirik malas. Sebenarnya dia malas sekali melihat pria itu. Terlebih lagi, pria itu yang menjerumuskannya pada kehidupannya dan anaknya. 


Rowan langsung naik ke atas tempat tidur. Menggelitik tubuh Gemma. “Gemma senang sekali membicarakan Daddy.” Rowan gemas sekali ketika anaknya bergosip tentangnya. 


Gemma langsung tertawa. Merasa geli saat digelitik. Tawanya benar-benar mengisi ruangan. 


Melihat interaksi dari anak dan daddy-nya merasa senang. Rowan yang dulu adalah tipe diam, berubah sekali ketika bersama Gemma. Dia tertawa dan tersenyum manis. Bercanda ria dengan Gemma. 


Sejenak Ghea menghilangkan pikirannya tentang sang mantan. Rowan adalah milik orang lain. Jadi tidak berhak dirinya untuk memikirkannya lagi. 


“Jika kamu menggodanya, kepangnya tidak akan rapi!” Ghea yang merasa kesulitan ketika Rowan menggoda anaknya. 


“Shutt ....” Rowan menempelkan jari telunjuknya untuk memberikan isyarat pada anaknya. Kemudian beralih melihat Ghea yang tampak begitu kesal. Dia tak kalah gemas melihat Ghea yang sedang marah. 


Seketika Gemma diam saja. Diam ketika mommy-nya sudah bereaksi. Ghea merasa kesal, tetapi berusaha untuk membuat Gemma senang. Akhirnya setelah Gemma diam, rambut gadis kecil itu selesai dikepang.


Gemma yang merasa kepangan rapi langsung berlari mengambil gaun yang kemarin dibelikan oleh Ghea. 


Saat Gemma mengambil gaun, di atas tempat tidur tinggallah Ghea dan Rowan. Ghea memilih mengalihkan pandangan pada Gemma, sedangkan Rowan tak hentinya memandanginya. 


Sejujurnya Ghea merasa berdebar-debar ketika berada dekat dengan Rowan. Tidak dipungkiri jika di hatinya masih ada rasa cinta dan itu tak bisa dipungkirinya. 


Rowan yang berada di dekat Ghea merasa tenang saja. Dia justru merebahkan tubuhnya tempat tidur. Sambil melipat tangannya dan membuatnya sandaran. Dengan asyiknya, memerhatikan dua perempuan yang sedang berinteraksi. 


Rowan yang mengerti pun menutup matanya begitu saja. Memberikan ruang pada anak perempuannya berganti baju. 


“Jangan mengintip, Daddy!” Gemma memberikan peringatan. 


“Iya,” ucap Rowan. Matanya benar-benar terpejam dan tak mengintip sedikit pun. 


Gemma tersenyum pada Ghea. Aksi Gemma itu pun membuat Ghea ikut tersenyum. Dengan telaten Ghea memakaikan gaun pada Gemma. Ghea benar-benar gemas. Karena Gemma terlihat begitu cantik sekali. 


Melihat gaun sudah melekat di tubuhnya, Gemma bergegas untuk melihatnya dari pantulan cermin. 


“Cantik,” ucapnya memuji dirinya sendiri. 


Mendengar jika Gemma sudah selesai, Rowan membuka matanya. Dilihatnya anaknya sudah sibuk di depan cermin. Memang benar adanya jika anaknya begitu cantik. 


“Aku cantik, Daddy?” tanyanya berbalik menatap daddy-nya.


“Iya, cantik.” Rowan mengangguk. 


“Cantik seperti Mommy?” Gemma mendekat pada Ghea. Memeluk erat wanita yang dianggap mommy itu. 


“Iya, cantik seperti Mommy.” Rowan tersenyum. 


Entah kenapa Ghea merasa senyuman itu meledeknya sekali. Dia benar-benar geram dengan apa yang dilakukan oleh Rowan. 


Gemma langsung menarik tangan Ghea untuk keluar. Mengajaknya bermain ‘tuan putri-tuan Putrian’. Karena tidak bisa menolak, akhirnya Ghe menuruti keinginan Gemma. Bermain bersama. 


Ghea menemani Gemma kurang lebih satu jam. Hingga akhirnya, dia teringat jika sore ini ada jadwal praktik. 


“Sayang, Mommy harus pergi ke Klinik. Jadi kamu bermain dengan Daddy dulu.” Ghea membelai lembut rambut Gemma. 


“Nanti, Mommy pulang ‘kan?” tanya Gemma polos. 


Pulang? Rasanya Ghea aneh mendengar kata itu. Dia tidak akan pernah pulang ke rumah Gemma, dan tidak mungkin. Namun, anak itu sudah terlalu berharap banyak padanya. Hal itu membuatnya semakin kesal dengan Rowan. 


“Sayang, di Klinik banyak sekali orang sakit sampai malam. Jadi Mommy harus berjaga di Klinik sampai malam. Jadi kita bertemu besok lagi.” Ghea dengan lembut memberikan pengertian. 


“Tapi—“ Gemma sudah mencebikkan bibirnya, bersiap untuk menangis. 


“Sayang, Mommy adalah pahlawan yang menolong orang-orang yang sakit. Jadi Mommy sangat sibuk. Jika Mommy tidak ada di Klinik, orang-orang yang sakit akan meninggal. Apa Gemma tidak kasihan?” Rowan pun turun tangan. Menjelaskan dengan lembut pada anaknya. 


“Tapi, Mommy akan ke sini ‘kan, Daddy?” 


Rowan mengalihkan pandangan pada Ghea. “Iya, Mommy akan ke sini besok.” 


Ghea benar-benar kesal dengan Rowan. Pria itu seenaknya saja menjanjikan pada anaknya. Padahal jelas-jelas ini akan memberikan dampak buruk. 


“Baiklah, Mommy boleh pergi.” Gemma tersenyum.


“Ayo, kita antar Mommy ke depan.” Rowan mengulurkan tangan pada anaknya. Mengajaknya untuk keluar. 


Ghea pasrah ketika Gemma ikut keluar. Dia ingin sekali mencecar pria itu, tetapi tidak mungkin di depan Gemma juga. Pastinya pertengkaran mereka akan sangat melukai Gemma. 


Ghea benar-benar berada dalam dilema. Kesal dengan keadaan yang menghampirinya. 


Saat Rowan dan Ghea sudah berdiri. Mau tidak mau Ghea ikut berdiri. Sebelum masuk ke mobilnya, dia berpamitan pada Gemma. Mendaratkan kecupan di pipi halus Gemma.  


Ghea yang masuk ke mobilnya, langsung melakukan mobilnya. Tak lupa dia membalas lambaian tangan Gemma yang masih menunggunya di depan rumah. 


“Kenapa aku harus terjebak di dalamnya.” Ghea benar-benar merutuki kesalahannya. Dia pikir mengizinkan Gemma memanggilnya mommy tidak akan jadi masalah. Namun, kini masalah justru datang. Dia justru terjebak pada drama yang dibuat oleh Rowan. 


Sekali pun Ghea masih mencintai Rowan. Dia tidak akan bisa bersama pria itu. Ghea terus melajukan mobilnya. Tepat di depan Klinik. Ghea menyandarkan lebih dulu tubuhnya di kursi. Melihat langit-langit mobilnya. Sejenak Ghea mengingat kejadian enam tahun lalu. Kejadian di mana Rowan meninggalkannya tanpa memberikan alasan padanya.