
RS Permata
“Kita akan melakukan rapat secepatnya, atur saja Ken” Jelas Aditya mereka masih di dalam perjalanan menuju RS
“Maaf tuan kalau boleh tahu perihal apa?” Tanya Ken, kenapa dia bisa menanyakan hal yang bodoh ketika ia tahu tuannnya sedang tidak-baik-baik saja.
“Maaf tuan saya akan menjalankan perintah secepatnya”
Ken menghubungi Tomi untuk mempercepat tugasnya namun ponselnya tidak aktif.
“Maaf tuan, dokter Tomi mungkin sedang sibuk, bolehkah saya meminta waktu untuk menghubungi dokter Jorg" Jelas ken
“Tidak ada gunanya Ken mereka sudah resign dari RS kita, kita akan mengadakan rapat dan menyelesaikan masalah ini” Adit kembali menatap layar ponselnya
“Mereka? Tuan Jorg dan tuan Tomi?” Batin Ken dia masih belum peka dan terus focus mengemudi
**
Alisa langsung berlari ke kamar kecil di RS itu dia menangis, bagaimana jadinya anak tanpa ayah? Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar dikepalanya dan belum lagi ketika ayahnya Tyo menanyakan perihal itu
Cepat-cepat Alisa menguasai dirinya kembali dia pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti, di langsung menemui ayahnya di ruang 234.
Terlihat Parjo Dini dan Alex setia menunggu Tyo yang telah diberi bius agar bisa beristirahat dengan tenang.
“Bagaimana keadaan ayah paman?” Tanya Alisa
“Tuan sekarang baik-baik saja nona tadi dokter sudah memberi tahukan bahwa sebentar lagi ayah nona akan cepat siuman dan dalam beberapa hari ini jika memungkinkan bisa pulang” Jelas Parjo
“Alhamdulilah paman, Alisa sangat bersyukur dia terus mengelus punggung tangan ayahnya.
“Maaf nona tapi ada kabar buruk,” Parjo sangat ragu menceritakannya
Sementara Dini dan Alex masih menyimak pembicaraan mereka, mereka belum tega meninggalkan Alisa.
“Katakan saja paman, Alisa akan mencoba mendengarkan” Jawab Alisa
“Itu nona wanita itu dia sudah mengetahui yang sebenarnya, paman teledor ada satu CCTV yang belum di bereskan” Parjo menunduk
Alisa menarik nafas beratnya, sampai kapan penderitaan ini akan terus menimpa dirinya.
“Tidak masalah paman, tenanglah sekarang giliran Alisa yang akan membereskannya”
“Dan oh iya kita kan ada disini mana mungkin bibi Rumini mengetahui keberadan kita, dan juga bukannya dia senang ya dia tidak lagi merawat ayah?”
“Entahlah nona perasaan saya kita harus cepat pergi dari sini, ada sesuatu yang buruk terjadi pada tuan jika tidak segera pergi” Jelas Parjo kembali.
Alisa masih kekeh dengan pendiriannya menurutnya ayahnya akan kelelahan jika terus dibawa-bawa tanpa jelas tujuannya.
“Gimana ini by” Dini merajuk pada Alex untuk membantu sahabatnya Alisa
Alex maju beberapa langkah dengan menghampiri Parjo dan Alisa.
“Maaf semuanya, kami memang tidak mengerti dengan ini semua, tetapi jika memang tuan Tyo harus dipindahkan kami akan siap membantu” Jelas Alex
“Al keselamatan ayah lo sedang terancam, kalau lo mau lo bisa pindah ke Inggris tempat gue dan Dini dulu, gue rasa tempatnya sangat aman dan banyak para dokter yang ahli di sana”
Semenjak hari itu Alisa meng-iyakan tawaran Alex dia juga khawatir perihal ayahnya yang bisa saja bibi Rumini melakukan apa saja jika itu kehendaknya.
“Ayah ini Alisa gak mungkin ayah lupa” Alisa mengelus punggung tanga ayahnya mereka sedang berjemur di halaman rumah milik Alex menggunakan kursi roda.
Alex dan Dini belum bisa ke Inggris karena Dini masih menyusun skripsinya dan melakukan program kehamilan tentunya Alex masih belum puas.
“Ayah gak nyangka bakal ketemu lagi sama kamu nak” Tyo mengelus pucuk kepala Alisa membuat Alisa sangat menikmatinya.
“Alisa terus mencari ayah setelah ibu Lusi meninggal” Pandangannya menerawang
“Lusi?” Tanya Tyo
“Iya ibu lusi dan ayah Surya yang menjaga Alisa selama ini, mereka meninggal karena bibi Rumini Alisa yakin itu ayah, ayah Surya dan ibu Lusi pernah mendatangi Alisa di mimpi dan ayah tahu siapa lagi yang mendatangi Alisa kala itu?” dia tak kuasa menahan air matanya namun buru-buru ia menyekanya.
“Ibu Alisa, Ibu Lia yang mendatangi Alisa ayah” Alisa malah sesenggukan
Tyo teringat kembali masa-masa kebahagiaan sekalugus hari kehancurannya miris memang namun memang terjadi padaya.
“Maaf nona saya mengganggu saya hanya membawakan syal, obat dan teh untuk tuan Tyo” Uhuk-uhuk
Parjo memang sudah tidak kuat lagi menahan hawa yang masih berubah-ubah. Alisa bangkit dan membawa nampan yang di bawa Parjo kemudian meletakannya di rerumputan hias.
“Paman masuklah beristirahat, untuk saat ini biar Alisa yang menjaga ayah terima kasih juga telah menjaga Alisa paman” Senyum simpul terlukis dibibirnya
Parjo mengerti tujuannya telah tercapai dia langsung memasuki rumah kembali.
“Nak siapakah itu?” Tyo memang belum mengenali Parjo
“Ayah ternyata bukan Alisa saja yang ayah lupakan” Alisa cemberut namun sang ayah langsung menghiburnya kembali.
“Maklum ayah sudah tua” Senyum lebarnya membuat Alisa kembali ceria.
“Itu paman Parjo ayah, supir pribadi yang ayah usir dahulu” Alisa membuka satu-persatu bungkusan obat ayahnya
“Tunggu nak apakah benar Parjo yang…-“ Raut wajahnya berubah sedikit amarah yang masih bersarang pada dirinya.
“Ayah dengerin penjelasan Alisa ayah salah paham, bibi Mariyam dan paman Parjo yang telah menyelamatkan Alisa, tanpa mereka Alisa juga sudah tidak ada di dunia ini” Jelas Alisa
“Bibi Mariam adalah kepala pelayan dahulu dan beliau juga telah meninggal yang pasti karena bibi Rumini lagi”
“Dan ayah tahu keluarga Paman Parjo meninggal karena Alisa pernah menyambangi kediaman paman yang diketahui anak buanya bibi Rumini”
Begitu peliknya kehidupan yang dihadapi anakanya, karena nya banyak orang yang menjadi korbannya Tyo sangat-sangat terpukul mendengar penjelasan dari anaknya sendiri.
-
-
-
-
-Salam❤
- Jan lupa dukung novel 7 Misi Hana terima kasih😽😽