
“Nona ini sudah malam dan mungkin nona Zenia juga sudah istirahat, beristirahatlah di kamar tamu, kami selalu membersihakan semua kamar tanpa pernah absen jadi pasti bersih” Jelas Rani
“Mbak panggil saja saya Alisa gakpapa, oh iya maaf sebelumnya mbak suami nenek kemana dan mbak sudah…” Ucap Alisa Ragu
Rani mengerti semuanya dan menjelaskan kepada Alisa bahwa ayahnya sudah meninggal 10 tahun yang lalu dan yah dia sudah berumah tangga tetapi tidak langgeng dan memutuskan untuk berpisah saja, Rani belum menemukan pengganti yang cocok.
“Iya sudah kalau begitu saya kekamar Zen dulu ya mbak, dan tolong kalau sahabat saya bangun langsung kasih makan aja kasian dia kurus kerempeng” Kekeh Alisa
“Baik non, eh Al” Rani tersenyum kikuk
Alisa membuka pintu kamar Zen, Zen masih tertidur pulas, dia duduk ditepi ranjang Zen.
“Sebenarnya lo kenapa sih Zen? Gue khawatir tau” Ucap Alisa
“Oh iya gue juga harus cari pekerjaan secepatnya, lusa besok beasiswa guekan gak berguna lagi” Alisa hampir putus asa
“Oh iya gue lupa si Rara pasti nyariin gue, kok gue ngedadak b*go sih” Ujar Alisa
Tapi setelah Alisa akan menghubungi Rara, Zen malah mencegahnya.
“Lo udah bangun Zen?” Tanya Alisa
“Iya iya lah kalau mata gue kebuka berarti udah bangun dasar b*go” Ledek Zen
( Apa dia denger gue ngomong gak ya? ) batin Alisa
“Eh em gue kangen tau Zeen” Alisa memeluk sahabatnya.
“Iya elah gue belum mati Al” Kekeh Zen
“Kok lo gitu sih, bener nih gue kangen” Alisa merajuk seperti anak kecil
“Eh iya-iya maafin gue ya, gue udah ngerepotin sahabat-sahabat gue” Ujar Zen
“Gakpapa asalkan lo juga gakpapa, oh iya lo makan dulu ya? gue ambilin” Ujar Alisa
“Gue gak nafsu Al, lo temenin gue tidur aja ya disini” Pinta Zen
“Oke gue temenin” Ujar Alisa
Sebenarnya Zen hanya ingin menceritakan semuanya pada Alisa, dari sebelum kenapa dia pingsan sampai dia bermimpi kedatangan alm ayahnya yang meminta tolong padanya.
( loh kok kaya mimpi gue sih waktu alm ibu gue meninggal sebenarnya dibalik ini semua apa ) Batin Alisa terus bertanya-tanya
Di rumah sakit.
“Tuh kan gak ada gimana dong Dam?” Tanya Rara
“Lo tenang aja Ra, mungkin udah ke kosan kita kesana lagi aja” Ajak Adam
“Iya udah ayo buruan” Ujar Rara
Mereka mencari Alisa ke kosan tetapi tidak ada, Rara juga sudah menghubungi teman-temannya tapi satupun tidak ada yang tahu bahkan menurut teman sekelasnya gak ada kerja kelompok untuk hari ini.
“Gue khawatir nih sahabat kita dua-duanya gak ada, mana ini udah malem Dam” Ujar Rara
“Eh tunggu Dam itu bukannya Raka?” Tanya Rara
“Bener deh tapi katanya dia juga pulang kan tadi?” Adam memberhentikan mobilnya didepan Raka
“Ka lo ngapain masih disini?” Tanya Adam
“Eh iya nih gue abis ada perlu dulu tadi sebentar” Jelas Raka bohong
“Iya udah naik, gue anterin” Tawar Adam
“Gakpapa thanks ya bro, gue nungguin taksi aja” Raka molak tawaran Adam
“Iya elah kita udah sahabatan ini kaya kesiapa aja” Ujar Adam kembali
“Oke deh, sekali lagi thanks” Raka sudah naik ke mobil Adam
“Oh iya Kalian kok balik lagi sih bukannya udah pulang ya?” Tanya Raka
“Iya Ka kita lagi cari si Alisa nih dia ikut-ikutan kabur segala lagi” Jelas Rara kesal
“Yakin kabur? Lo udah cari dia dengan bener?” Tanya Raka
“Udah Raka, gue juga udah tanyain ke temen-temenya tapi gak ada yang liat satu orangpun” Jelas Rara
Adam hanya fokus mengemudikan mobilnya, dan melihat satu mobil yang sangat familiar bagi Adam
“Bentar deh Ra itu bukannya mobil Pak Adit?” Tanya Adam
Raka dan Rara memincingkan matanya, apa yang dikatakan Adam memang benar itu mobil Adit.
“Tapi Ka itu orang yang berpengaruh di kampus kita, gue gak mau gegabah dan ngegganggu kuliah gue” Jelas Adam
“Turutin aja perintah gue Dam gue akan tanggung jawab jika ada masalah” Ujar Raka
Akhirnya Adam menuruti perintah Raka, Adit menuju sebuah bandara A untuk menumpangi pesawat pribadi yang akan mengantarkan dirinya pada sang adik.
“Ka apa gunanya sih ngikutin dia, kita cari masalah tau harus berurusan denganya” Jelas Adam
“Lo tenang aja Adam, gini deh gue tanya sama kalian Rara, Adam lo mau bantuin gue atau ngga?” Tanya Raka
"Masalahnya tentang apa Ka?” Tanya Rara
“Lo tinggal jawab aja iya apa ngga” Ucap Raka sedikit tegas
“Oke kita ikut lo aja, dan sebagai gantinya lo harus bantuin kita cari Alisa gimana?” Tanya Adam Balik
“Oke” Ujar Raka mantap
Aditya bukan tidak tahu perihal ada seseorang yang membuntutinya, tetapi yang terpenting sekarang hanyalah adiknya.
Tidak kalah dengan Raka dia menghubungi sang pilot pribadinya untuk mengejar Aditya, Rara dan Adam hanya melongo melihat kelakukan sahabat barunya. Raka hanya memastikan bahwa yang didengarnya tidak salah bahwa Zen ada dikampung halamannya, makannya dia nyuruh Adam mengikuti Adit.
Raka tidak sengaja mendengar pembicaraan Ken dan Adit setelah Ken menyuruhnya pulang.
DI rumah Sanjaya
Akhirnya Zen bisa tertidur dengan pulas setelah banyak yang diceritakan pada sahabatnya Alisa.
Alisa memutuskan beristirahat di kamar tamu, setelah menutupkan pintu kamar Zen ada seseorang yang mencekal tangan Alisa.
“Oh jadi kamu yang bawa adik saya kabur” Ucap Adit geram
“Ma maaf pak bu bukan sa…” Ucap Alisa terbata
“Jangan banyak alasan anda, dasar anak kampung, gak tau diri” Adit mendorong Alisa
Alisa sangat ketakutan air matanya meleleh begitu saja.
Adit mencengkram dagu Alisa dengan sangat kuat dan menghempaskannya dengan kasar
“Jangan sekali-kali deketin adik saya, atau kamu akan tahu akibatnya bahkan dari kampuspun saya bisa saja mengeluarkanmu dengan mudah” Ancam Adit
( Apa dia juga yang mencabut beasiswa tapi kenapa? ) Batin Alisa sedikit terguncang
Rara, Adam dan Raka menyaksikan itu semua, Rara bahkan sangat tidak percaya kelakuan orang yang berpengaruh dikampusnya itu jika dikehidupan nyatanya sangat kejam dan bengis.
“Adityyaaa” Teriakan Raka sangat menggema di ruang tamu.
Alisa langsung berlari kepada Rara, Alisa terlalu takut untuk melihat Adit.
Zen sampai terbangun karena teriakan Raka dia melihat kedua orang yang disayanginya sedang adu jotos.
“Hentikaaaan” Suara Zen tidak kalah dengan Raka sangat bergema
Nenek dan Rani kaget dan terbangun kenapa ada rame-rame dirumah tuannya.
“Kakak tolong hentikan” Rengek Zen dan langsung ambruk dilantai Zen sangat lemah karena belum makan sejak pertama dia pingsan.
“Zen kamu gakpapa?” Tanya sang kakak
“Lepaskan kak, aku benci kakak” Teriak Zen
“Raka” Ucap Zen, Raka mengerti sepupunya membutuhkan pertolongannya.
Tetapi Adit mendahului Raka dan langsung menggendong adiknya kekamar.
“Urus mereka Ken” Titah Adit
Ken mengangguk, dan memerintahkan mereka untuk beristirahat saja di ruang tamu, yap karena memang rumahnya sangat besar tuan Sanjaya memiliki kamar tamu sampai 10 kamar sekaligus.
Raka membantah Ken dia nekat untuk pulang kembali ke Kota A.
-
-
-
-
-
-Salam