My Struggle

My Struggle
Kota A



Alisa dan Rara sudah sampai dikota A, Rara sangat takjub tapi tidak dengan Alisa sebenernya Alisa waktu kelas 10 sudah pernah mungunjungi kota ini untuk perlombaan tingkat nasional, hanya waktu itu Alisa menggunakan kereta untuk sampai di sana dan kebetulan perlombaannya diadakan di universitas yang menjadi tempat menuntut ilmu Alisa dan Rara sekarng ini.


“Udah bengongnya?” ujar Alisa


“Apaan sih al gue kan pertama kali ke sini ya wajar aja gue takjub , ini kotaa aaal” Rara terus berlari, dan terus merentangkan tangannya.


Walaupun kota tetapi suasnanya masih asri dan ramah lingkungan, kendaraanpun masih jarang-jarang tergantung waktu, jika pagi dan sore kendaraan pasti banyak karena orang-orang baru pulang kerja, pulang sekolah, atau pulang dari berbagai aktivitas yang mereka lakukan, berbeda jika siang hari dikota itu kendaraan selalu jarang berlalu lalang karena semua orang masih sibuk dengan aktivitasnya.


“Rara, jangan malu-maluin gue kita masih di sekitar bandara” ucap Alisa


“gakpapa kali al kita nikmatin aja gak sering ini juga kok” ujar Rara


“Rara ayo ikut gue, kita kan harus cari kontrakan buat tempat tinggal kita sekarang” Alisa setengah berteriak, da nada seseorang yang menyenggolnya dari belakang


“Eh maaf-maaf mbak, saya buru-buru” ujar seseorang


“dasar orang kaya, gak liat-liat lagi, emang gue kaya anak semut apa” oceh alisa


Orang yang menyenggol Alisa memanglah orang kaya dari gaya dan stylishnya sudah menunjukan orang berada, dan memang orang itu sangat berpengaruh di kota A, pemilik perusaahaan sekaligus dokter yang terkenal di kotanya itu


“Eh kok gue peranah liat dia deh tapi siapa dan dimana ya? Aduh sakit kan nih pundak” Alisa terus mengelus pundaknya.


“Al lo kenapa kayanya tadi gue liat seseorang deh disini, siapa al?” tanya Rara


“Itu orang sinting, gak liat apa gue segede gini main senggol-senggol aja” omel Alisa


“tapi lo gakpapakan?” tanya Rara dan terus memutar-muutar badan sahabatnya itu.


“Iya iya gue gakpapa ayo kita cari kontrakan sebelum keburu sore” ujar Alisa


“Oke ayo” seru Rara


Seteleh mutar-mutar mereka belum juga menemukan kontarakannya, hari sudah mulai sore.


"Ya Tuhan permudahkanlah urusan kami, kami sangat khawatir sudah sesore ini kami beum mendapatkan kontrakannya" Pinta Alisa pada tuhannya


“Al kita kok dari tadi muter-muter terus, gimana kalau kita istirahat dulu?” pinta Rara


“Iya sudah kita makan dulu di warteg sebrang sana, setelah itu kita cari lagi kontarakannya” tutur Alisa


“Waahh ayo cepet dong al gue udah laper juga nih, hauus lagi” ujar Rara


" kasian anak orang" pikir Alisa, memang dari tadi mereka belum makan siang hanya waktu pagi saja sarapan itupun sedikit.


Setelah sampai diwarteg Rara langsung memesan hampir semua lauk-pauknya , piringnyapun langsung penuh dengan makanan.


“ Rara lo boros banget sih, lo udah gede harus bisa berhemat” titah Alisa


“Gue laper al, dari siang kitakan belum makan, oh ya lo pesen aja biar gue yang traktir kok” pinta Rara


Alisa hanya geleng-geleng kenapa sahabatnya jadi seperti itu, padahal waktu dulu tidak terlalu begitu.


“ gakpapa Rara makasih gue mau makan bekel gue aja ini ibu gue yang siapinnya, lo mau?" Tanya Alisa


“Gak lah emang gue kebo” ucap asal Rara


"Nah lo ngaku kan" pikir Alisa


Setelah mereka selesai makan, Rara memanggil ibu yang punya warteg tersebut.


“Bu ini berapa semuanya?” tanya Rara


“semuanya 54rb neng” jawabnya


“lah kok mahal amat sih bu, dikapung saya ini cuman paling 20rb” omel Rara


“ Kata gue juga apa Rara, jangan boros-boros udah bayar aja” Alisa menimbrung


“iya udah nih bu maksih” omel rara


Rara, beranjak dan keluar dari warteg itu.


“ Nah gitu dong neng jangan protes, mana ada jaman sekarang semurah itu kan saya juga bisa rugi” omel ibu warteg


“hmm maafin temen saya ya bu sebenernya dia gak gitu kok bu mungkin temen saya lagi cape saja, oh ya bu saya mu tanya , mungkin ibu tau kosan atau kontrakan yang deket universitas A itu?" Tanya Alisa


“ Oh neng mahasiswa baru ya?, Hm mungkin ibu bisa bantu, dari sini kalian menyebrangi dulu jalan raya, belok kirii masuk gang, lurus saja pokonya kontrakan itu tepat di belakang univnya, kontrakannya sih agak sempit tampi ibu menyarankannya mending kesana biar deket, giamana neng?" Tanyanya


“Wah gakpapa bu asalkan kita mendapatkan tempat tinggal sementara dulu, sekali lagi terima kasih ya bu, atas bantuan ibu” ujar Alisa


“gakpap nak, kebanyakan mahasiswa baru memang suka mampir dan menanyakan hal sama” ucap ibu warteg


“Alisa cepetaan takut kesorean”Rara setengah berteriak


“aduh dasar nih anak, bu saya permisi dulu” ujar Alisa


Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore


“ Al lo lama banget sih, gimana kalau udah gelap, kita belum nemuin kontrakannya dan kita tersesat” ujar Rara


“husstt lo kalo ngomong dijaga rara, harusnya lo berterima kasih sama ibu tadi, gue nanyain kontrakan dulu, ayo ikut gue” titah Alisa


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka menemukan kontrakan berlantai 2, dengan gaya yang sangat sederhana.


“Al lo bener ini kontrakannya?” tanya Rara


“Kata ibu tadi yang di warteg sih memang ini kayanya” ujar Alisa


“iya udah kita panggil dulu aja” ucap Alisa lagi


“permisi buu, permisii” teriak Alisa


“Bukan kali al gak ada yang nyaut ini” ujar rara


Saat itu kontrakannya memang lagi sepi mungkin ditinggal sang punya kamar, pulang kerumahnya masing-masing


“Neng cari siapa” tanya seseorang


“ini bu kami cari kontrakan yang deket univeristas A, apa betul ini kontrakannya bu?” tanya Rara


“iya neng ini kosan milik ibu, dan kebetulan di kosan ini masih ada dua kamar yang kosong, jika kalian berminat, saya akan meberikan kuncinya sekarang juga.” Jelas ibu kos


“Terima kasih bu, kami sangat berminat dan untuk pembayarannya bagaimana ya bu?” tanya Alisa


“ya sudah ini kunci kalian, dan untuk pembayaran 750rb/bln karena kamar mandi sudah di dalam, dan untu memasak ada dapur kecil di lantai bawah apakah kalian paham?” jelas sang ibu kos


“Kami mengerti bu sekali lagi terima kasih” ucap Alisa


“ Ya sudah ayo ikut dengan saya, saya akan menunjukan kamar kalian”


Di lantai bawah ada 7 kamar dan ada sebuah dapur kecil yang diceritakan ibu kosnya dan mereka menempati lantai dua yang terdiri dari 10 kamar yang berjejer.


"mahal amat sih, dari luar aja keliatan kecil nih kosan, apalagi kamarnya" pikir Rara


Mereka telah sampai di kamar masing-masing yang telah di tunjukan tadi


Dugaan Rara agak meleset karena kamarnyapun tidak terlalu sempit dan cukup lumayan untuk ukuran kosan.


Alisa dan Rara langsung membersihkan ruangan tersebut karena mungkin bekas kakak mahasiswa yang kos disana juga, sehingga tampak banyak debu dimana-mana. Akhirnya setelah waktu menunjukan pukul 20.00 mereka telah selesai membereskannya.