My Struggle

My Struggle
Saling Menguatkan



Zen sudah agak tenang dia berhenti menangis dan Alisa mengambilkan air untuk Zen supaya lebih tenang lagi. Alisa terus menenangkan Zen dengan berbagai cara agar sahabatnya itu ceria kembali.


“Sudah lah zen jangan berlarut-larut, yang sedih bukan lo aja” Alisa memandang Zen dengan pandangan kosong


“Maksud lo apa Al?” Tanya Zen


Alisa mengalihkan pandangannya dan beranjak keluar kamar Zen dan berdiri di balkon dengan memandangi senja yang akan segera tenggelam.


“ Saat gue umur 3 tahun, ayah gue juga udah gak ada Zen, dia pergi ninggalin gue dan ibu gue untuk selamanya , tapi gue bersyukur masih punya ibu yang sangat setia dan sayang sama gue, semenjak ayah meninggal ibu gak menikah lagi dia janji sama ayah bakalan ngebesarin dan ngerawat gue” Alisa terus memandangi senja yang cantik sore itu.


“Lo yang kuat ya Al, lo beruntung masih punya ibu sedangkan gue cuman punya lo dan rara” Zen merangkul pundak Alisa


“Oh ya, memang ayah loh kenapa bisa sampai meninggal, maaf ya Al kalo gue lancang” ujar Zen


“Gue juga gak terlalu yakin Zen gue lupa, tapi ibu gue cerita kalau ayah meninggal karena kecelakaan, ayah gue seorang dokter pribadi yang khusus menangani organ dalam di sebuah keluarga yang sangat kaya raya, waktu itu ayah gue pulang dari kota untuk menengok kami karena sudah enam bulan gak pulang, ayah gue terlalu sibuk pada waktu itu jadi sangat jarang pulang ke rumah, dan belum juga satu hari keluarga tersebut sudah manggil ayah lagi karena ada salah satu anggota keluarganya yang memiliki riwayat penyakit jantung, jadi mau gak mau tengah malam ayah gue berangkat tanpa sepengetahuan gue karena gue waktu itu sudah tidur, hanya itu yang gue tau Zen dan paginya gue mendengar ayah gue meninggal karena kecelakaan” satu tetes air mata Alisa jatuh, Alisa buru-buru menyekanya dia terlalu lelah untu manangis dan dia juga sudah berjanji akan bahagia.


“Gue bersyukur punya kalian Zen” Alisa memeluk Zen


“Jadi ini alesan lo ingin jadi dokter Al” tanya Zen


“Hm gak juga sih Zen, memang dari kecil gue pengen jadi dokter bisa bantuin orang dan gue juga pengen jadi orang yang bermanfaat untuk orang sekitar” jawab Alisa


( Lo memang baik Al gue salut sama lo masih ada orang yang kaya lo) pikir Zen


“Aduh gue kesorean nih, gue duluan ya” khawatir Alisa


“Biasa aja kali Al ini kan masih jam 17.15 belum juga gelap” ujar Zen


“Aduh gak bisa Zen kata ibu gue sebelum jam 17.00 sore anak perempuan harus sudah di rumah” keluh Alisa


“Gimana kalo lo nginep disini al?, gue pengen ada temen disini” rengek Zen


(Pantesan waktu kecil dia manja banget, sampai sekarang pun sikapnya belum berubah” pikir Alisa


“Gue sih gakpapa, tapi kasian rara disana sendirian” ujar Alisa


“ Ya lo telfon aja Alisa kan gampang” kesal Zen


“Oh iya gue lupa” ucap Alisa


Alisa menelepon rara dan dia tidak masalah harus sendirian dikosannya. Alisa khawatir karena dikosan itu penghuninya hanya dirinya dan Rara, penghuni lainnya belum pulang karena waktu masuk kuliah dua minggu lagi dari sekarang.


“Gimana lo nginep kan?” tanya Zen


“iya-iya gue nginep ini juga si rara ngijinin?” ujar Alisa


“Iya elah si rara udah gede Al dia pasti berani sendiri” ujar Zen


“Iya sudah ayo kita kedalam sudah mau gelap nih” ajak Zen


Mereka siap-siap makan malam, ada dapur mini juga dikosannya Zen jadi mereka memutuskan untuk masak bersama.


“Oh yah Zen kakak lo kayanya nyebelin ya?" celetuk Alisa


“Eh lo kok tiba-tiba nanyain kakak gue sih awas nanti suka” ledek Zen


“Idih suka? gak akan” sewot Alisa


“Asal lo tahu ya Zen kakak lo itu nabrak gue waktu di bandara itu kejadian yang sangat menjengkelkan buat gue jadi kesan pertama gue ke kota ini tuh buruk cuman gara-gara kakak lo” Jelas Alisa


Zen tetawa terbahak-bahak dan berpikir, buruk sekali harinya Alisa.


“Lo malah ketawa sih Zen” kesal Alisa


“Memang kakak gue gitu Al, mau menang sendiri, ceroboh,” Zen tertawa dan sedetik kemudian Zen terlihat sedih


“Eh lo kenapa Zen maaf ya kalo gue salah bicara” Sesal alisa


“Gue gakpapa Al sorry ya akhir-akhir ini gue agak cengeng” cengir Zen


“Sudah lah ayo kita makan” ajak Alisa


Mereka sudah selesai makan dan mereka berbaring di kasur empuk milik Zen.


“Gue sakit Al, melihat kakak gue seperti orang gila raganya ada tapi nyawanya seperti melayang-layang entah kemana” Zen terus memandangi langit-langit kamar


( Mungin ini sebabnya Zen memintanya menginap ia ingin cerita banyak kepadanya) pikir alisa


“Sekarang dia seperti tidak peduli lagi pada tubuhnya Al, dia siang malam kerja,kerja, dan kerja tanpa memikirkan dirinya sendiri, waktu itu sebenernya gue berat ninggalin kakak gue yang kurang perhatian itu Al, tapi mau bagaimana lagi gue harus buktiin sama kakak gue, gue bisa tanpanya” Zen sangat merindukan kakanya


“Untuk itu gue sekarang kuliah di universitas yang sama dengan kakak gue, waktu kakak gue wisudapun, orang tua kita gak datang, tapi gue datang tanpa sepengetahuan dia karena gue sayang banget sama kakak gue” sambung Zen


(Oh itu alesan Zen sudah tidak seperti asing lagi melihat tempat itu) pikir Alisa, Alisa terus mendengarkan sahabatnya itu


“Dan gue sangat beruntung, gue denger kakak gue ketika kuliah di inggris dapet sahabat yang sangat mengerti dirinya dia juga sama kaya kakak gue seorang dokter, kakak gue gak beda jauh umurnya kok Al sama kita, hanya berjarak 5 tahun, kakak gue orangnya rajin dan pintar jadi cukup 5 tahun dia menyelesaikan S1 dan S2nya” jelas Zen


“Wah mana ada yang mau temenan sama dia” upss Alisa sala bicara


(Aduh nih mulut gak bisa di rem apa) sesal alisa


Zen malah tertawa dengan tingkah konyol sahabatnya itu,


“Iya juga sih, sejak orang tua kami berpisah kakak gue jadi pendiam, pemarah makannya gak ada teman nah baru waktu kuliah di Inggris kakak gue punya temen yang namanya Alex atau siapa ya gue lupa lagi” kekeh zen


( Hm alex? Kaya pamiliar tuh orang) pikir Alisa


“Zen lo kan sekarang gak bergantung lagi sama kakak lo, terus lo dapet uang dari mana, kosan juga mahal dan isi kosan lo juga pada bagus-bagus” ragu alisa


Zen tertawa dan menjelaskan semuanya pada Alisa.


“Gue seorang gamers dan penulis Al, dari sana gue dapet penghasilan dan gue juga gak terlalu suka sama yang namanya boros dan juga dari waktu gue masuk SMP gue udah dapet beasiswa + uang saku lumaya lah al, sedikit demi sedikit gue tabungin deh” jelas Zen


Alisa kagum seorang Zenia yang tomboy dan bodo amatan ternyata seorang pejuang sejati


Mereka akhirnya tertidur setelah sekian lama mengobrol, Zen memeluk Alisa seperti layaknya seorang kakak.