My Struggle

My Struggle
Bekerja



Mereka telah berada di pesawat pribadinya Raka, iya memang Raka dan Adit masih keturunan Sanjaya yang memiliki kekayaan sampai tujuh turunan.


“Al ceritain ke gue kenapa lo sampai ada disana” Ujar Rara


Alisa masih sesenggukan kaget dengan semua peristiwa yang menimpanya hari ini.


“Rara lo gak ngerti banget sih biarin si Alisa tenang dulu” Ujar Adam


“Gakpapa Dam, maafin gue ya terutama lo Ra gue udah bohong sama lo”


Alisa menceritakan semua kenapa dia sampai berbohong pada sahabatnya itu dan sampai berada di tanah kelahirannya Zen.


“Alisa lo kan selalu bilang sahabat selalu ada dalam suka maupun duka” Ujar Rara memeluk Alisa


“Oh iya jadi memang lo bener anaknya Pak tyo, orang yang pernah Zen bicarakan?” Tanya Rara


“Gak tau deh Ra, kenapa ayah gue gak cari gue dari dulu” Ujar Alisa terisak kembali


Raka hanya menyimak dari tadi dan dia serasa familiar dengan seseorang yang disebutkan Rara.


“Tyo? Hm nama itu gak asing deh” Ujar Raka


“Lo tahu Ka?”Tanya Adam


“Ah iya pantesan gak asing Pak Tyo pemilik perusahaan Angkasa Group bukan?” Tanya Raka


“Lo tau juga Ka?” Tanya Rara


“Rara Rara, ya seluruh kota A bahkan se Indonesia juga tau kali Angkasa group sehebat gimana, dari dulu paman gue ayah Zen dan Adit, selalu bersaing tetapi paman gue selalu kalah nah setelah perusahaan paman dipegang anaknya si Adit jadi tambah berkembang pesat, sebaliknya Angkasa group sekarang seperti ditelan bumi eksistensinya sekarang menghilang tetapi belum sepenuhnya juga sih” Jelas Raka


“Kenapa bisa begitu” Tanya Alisa


“Oh iya Alisa kan? Jadi lo anaknya Pak tyo waaaw hebat dong” Ujar Raka, Raka dan Alisa memang belum perkenalan karena Alisa yang waktu itu pergi ke kosannya terlebih dulu.


“hebat dari mana seorang ayah yang nelantarkan anaknya” Alisa mendelik kesal


“Jangan gitu lo Al, jangan ngomong yang belum tentu kebenarannya, bisa jadi ada sesuatu yang membuat ayah lo gak cari lo selama ini” Ujar Raka


“Bener apa kata Raka, kita harus mencari kebenarannya dulu” Ujar Adam


“Gue gak tau sekarang harus gimana, tapi yang terpenting gue harus cari kerja dulu buat biayain kuliah gue” Ujar Alisa


“Alisa sekarang lokan tahu siapa keluarga lo, kenapa gak langsung temuin aja” Usul Rara


“Biar dia nyari gue aja Ra dan belum tentu Pak Tyo itu langsung percaya begitu aja” Ujar Alisa kembali


“Oh iya gue denger lo nyari kerja Al?” Tanya Raka


“Iya, beasiswa gue dicabut tanpa alasan jadi terpaksa gue harus biayain kuliah gue sendiri” Jelas Alisa


“Kebetulan nih, restoran punya nyokap gue lagi ngebutuhin karyawan, kalo lo mau disana aja gajinya lumayan kok, itu juga kalo lo mau sih “ Tawar Raka


Adam merasa cemburu pada sahabat barunya itu, karena belum saja bersahabat lama tapi Raka sudah begitu baik pada mereka.


“Gakpapa nanti gue cariin deh Al” Adam mendahului Raka


“Iya Ka gakpapa lagian gak enak kalian sudah sering bantu gue” Ujar Alisa


“Iya gue fine fine aja sih gimana keputusan lo aja, tapikan lo sangat butuh banget pekerjaan ini kan?” Tanya Raka dengan senyum sinisnya sebenarnya Raka sudah memiliki perasaan sejak pertama bertemu dengan Alisa.


“Gue pikirin lagi deh Ka” Jawab Alisa


Di Rumah Sanjaya.


“Kakak lepasiin Zen,” Zen berontak tapi sang kakak lebih kuat dan langsung membaringkan sang adik di kasur.


Aditya keluar dan menemui nenek untu memberi sang adik makanan.


“Maaf tuan nona tadi istirahat jadi saya tidak bisa memebrinya makan, saya tidak mau nona terganggu” Ucap Nenek


“Baik lah bi terima kasih sudah menjaga adik saya, sekarang saya minta satu piring nasi dan segelas air” Pinta Adit


“Berterima kasihlah pada nona Alisa tuan dia anak yang sangat baik, dia membantu nona Zen yang pingsan dimakam ayahnya, tanpa nona Alisa saya sudah tidak tau lagi” Ujar nenek dan meninggalkan Aditya


( Ternyata cuman salah paham ) Aditya menghembuskan nafas beratnya.


Aditya kembali kemar Zen dengan membawa nasi dan air yang ada dinampannya.


“Gak, apa pedulinya?” Ujar Zen dingin dengan mencoba untuk menghubungi seseorang


“Zen kamu selalu membantah perintah kakak” Ujar Adit tegas


“kakak ku hanya Alisa, kak Adit udah mati dan gak akan pernah bangun” Teriak Zen dan membantingkan ponselnya ke lantai dia beranjak untuk pergi tetapi kepalanya terasa pusing.


Aditya serasa tersambar petir sebegitu bencinya dengan kakanya sendiri.


Adit berniat membantu adiknya, tapi Zen malah menepis tangan sang kakak.


“Lepasin, Zen bisa sendiri” Zenia bangkit dan terus berjalan dengan sempoyongan akhirnya Zen pingsan.


Adit kembali menggendong sang adik ke kasur dan membaringkannya, Aditya keluar mencari Ken tidak lupa dia juga menyelimuti tubuh kurus itu dengan selimut tebal.


“Ken” Panggil Adit


“Iya tuan” Ujar Ken


“Kita kembali besok persiapkan semuanya, dan untuk pekerjaan saya cuti satu minggu dari sekarang” Ujar Adit


“Baik tuan, apakah tuan akan kembali ke inggris?” Tanya Ken


Sebenarnya Adit harus ke inggris tiga hari lagi untuk rapat antar dokter spesialis disana.


“Atur aja Ken” Titah Adit


“Baik tuan” Jawab Ken


Adit kembali Ke Kamar Zen, Zen masih tidak ada perubahan dia tidak bergerak sama sekali.


“Ayaaah, ayah” Gumam Zen badanya tidak bisa diam, Zen seperti seperti orang yang kesurupan


Aditya langsung menghampiri Zen dan memeluknya, dia sangat terluka melihat sang adik tersikasa.


“Kakak disini sayang, tidurlah” Gumam Adit ditelinga sang adik


Zen sedikit tenang dan tertidur dipelukan sang kakak waktu sudah menunjukan dini hari, sang kakak tak rela melepaskan pelukannya.


Malam sudah berganti pagi bahkan siang hari mereka belum juga bangun.


“Hmm, gue dimana niih” Ujar Zen


“Kakak, kenapa dia ada disini? Apa pake meluk segala lagi?” Ujar Zen berusaha melepaskan pelukan Aditya


Tapi Zen mengingat kejadian yang semalam, air mata Zen langsung meleleh.


Aditya bangun dan melihat Zen terisak.


“Zen kenapa?” Aditya melepaskan pelukannya


“Zen pengen Alisa kak” Ujar Zen yang masih terisak


“Jangan pernah sebut nama dia lagi Zen” Ujar Aditya tegas dan langsung bangkit dan meninggalkan sang adik, walapun Adit sebenarnya sudah tau bukan Alisa yang membawa kabur adiknya tapi kasih sayang adiknya takut tebagi.


Iyah itulah Aditya, egois, dingin, kejam, dan bengis.


Zen tertegun mendengar ucapan sang kakak yang sedikit membuat hatinya terluka, memang dia pikir jika Zen rindu ataupun ada masalah siapa yang membantunya hanya sahabatnyalah, yang bisa membantu dan mengerti perasaannya.


Zen menangis tak hentinya sampai sang kakak kembali lagi setelah membersihkan dirinya.


“Zen kita makan dulu” Ajak Adit


Zen tidak bergeming dan malah memeluk lututnya deangan erat. Yang dipikirannya hanyalah sahabatnya Alisa.


Aditya menghembuskan nafas beratnya dan menghampiri sang adik perlahan.


“Kau mau apa Zen” Ucap Aditya dengan mengelus Rambut adiknya yang berhari-hari tidak dikeramas.


“Zen mau Alisa kak, kalau gak ada Alisa Zen mending mati aja , Zen gakpunya siapa-siapa lagi Zen Cuma punya Alisa” Ucap Zen


“Zen kamu jangan ngomong gitu kakak akan lakuin apa aja biar kamu bahagia” Ujar Aditya untuk hanya sekedar menenangkan sang adik


“Bener ya kak” Ujar Zen sudah mulai luluh dan lupa akan perkataannya kemarin.