My Struggle

My Struggle
Pencarian



Terdengar suara teriakan dari kamar Zen, Alisa, nenek dan Rani langsung mengahampiri Zen


“Nak nona Zen kenapa?” Tanya sang nenek


“Alisa jugak gak tau nek, kemarin lusa dia tiba-tiba pingsan dan Alisa membawanya kerumah sakit dia terus memanggi-manggil ayahnya nek” Jelas Alisa


“Ayaaah” Zen terbangun dengan rasa terkejutnya dan keringat dingin bercucuran didahinya.


“Zen lo kenapa?” Tanya Alisa panik


“Nak bawain segelas air putih” ujar nenek pada Rani


“Ini non minum dulu” Nenek menyerahkan segelas air putih


Zen sudah agak tenang dia bermimpi tentang ayahnya yang sepertinya meminta sesuatu darinya.


“Gue dimana? Kok pusing sih” Zen terus memegangi keningnya


“nona ada dirumah” Ucap nenek


“Iya Zen ini rumahmu mending lo makan dulu terus istirahat lagi” Ujar Alisa


Zen masih belum sadar sepenuhnya, dan mengingat-ngingat peristiwa yang telah terjadi.


“Iya sudah nak Alisa kita tinggalkan dulu saja biar nona istirahat” Ajak sang nenek


Di tempat Lain.


“Kita harus nyari kemana lagi Dam” Tanya Rara prustasi


“Gue juga gak tau Ra kota A kan bukan kampung kita, jadi susah buat nyarinya” jelas Adam


“Dam kok lo bawa-bawa kampung kita sih apa masalahnya” Rara mendeli kesal


“Rara kota ini besar jai susah buat nyari satu orang nah sedangkan kampung kita…” Adam belum menyelaesaikan perkataannya Rara sudah nyerosos duluan


“Adam sebentar, kita berhenti disini cepetan” Ujar Rara tanpa memalingkan wajahnya dari seseorang yang baru keluar dari sebuah kafe.


“Siapa lo liat Zenia?” Tanya Adam


Rara tidak menggubirisnya langsung menghampiri orang tersebut yang tak lain adalah Raka sepupunya Zen.


“Eh Rara kan? lo ngapain disini,?” Tanya Raka, Raka membawa sekeranjang buah, Rara berfikir pasti dia akan menjenguk sepupunya Zen.


“Eh ngga Ka, gu gue cuman…” Rara Ragu untuk minta tolong pada Raka


“katakana aja Ra, btw maaf ya waktu kemarin” Raka merasa bersalah pulang tanpa pamit pada Rara


“Eh iya gakpapa kok, ini Ka em si Zen” Ucap Rara ragu


“Zen kenapa?” Tanya Raka


“Zen kabur Ka, gue gak tau dia kemana dan dimana sekarang” Ucap Rara was-was


“Apa Rara? Kok bisa sampai kabur sih dimana pihak rumah sakit waktu sepupu gue kabur, dan lo Ra sebagai sahabatnya kenapa gak jagain sepupu gue hah?” Tanya raka


Adam yang melihat itu semua langsung menghampiri keduanya.


“Eh lo siapa berani bentak-bentak sahabat gue, lo gak nyadar dia perempuan man, lo gak lebih dari seorang pengecut” Ucap tegas Adam dan hampir meninju muka mulu Raka tetapi untungnya ada Rara yang melerainya.


“Heh bocah lo tahu apa hah? Katanya lo sahabat dari sepupu gue tapi gak becus cuman jagain orang sakit” Ujar Raka tak kalah tegasnya


“Udah semuanya udah”Lerai Rara


“Berantem kaya gini gak akan ada jalan keluarnya, Ka gue tau lo sangat sayang sama sepupu lo, tapi dengerin penjelasan kita dulu, dan Dam kita harus cari Zen secepatnya takut si Alisa ngamuk” Ujar Rara


“Oh iya Ka lo boleh ikut kami, dan gue akan jelasin apa yang sebenarnya terjadi” Ucap Rara


Mereka akhirnya mencari Zen bersama dan Rara menjelaskan semuanya sehingga tidak ada kesalahpaman antara Adam dan Raka.


“Dam maafin gue ya gue udah emosi duluan, btw lo Adam kan?” Tanya Raka


Adam mengerti situasi seperti ini dan akhirnya memaafkan Raka.


“Santai aja bro, loh kok tau nama gue?” Tanya Adam


“Iya tadi si Rara manggil lo gitu, dan sebenernya si Zen selalu nyeritain kalian ke gue” Jelas Raka


“Oh iya, tapi si Zen gak pernah nyeritain lo ke kita deh” Ujar Rara


“Gue gak tau kalau masalah itu, tapi dia udah nganggap gue kakaknya sendiri, karena si Adit gak becus ngusrus adiknya sendiri” Ujar Raka ada rasa marah bahkan benci dilubuk hatinya pada Adit.


Hari sudah menjadi gelap, tetapi pencarian mereka belum membuahkan hasil sama sekali.


“Ra, Dam mending kita hentikan dulu pencarian sepupu gue, gue tau kalian rela bolos kuliah demi Zen kan? Kalian istirahat dulu aja, gue akan lapor polisi jika udah 24 jam” Ujar Raka


“Oh iya ngomong-ngomong temen lo Ra gak ikut?” Tanya Raka asal


“Aduuh Raka gue sampai lupa, apa dia sudah kerumah sakit? pasti dia ngamuk deh” Ujar Rara dan mencari ponselnya didalam tasnya.


“Ngamuk? Kok bisa?” Tanya Raka heran


“Lo gak tau sih Ka persahabatan kita seperti apa, Zen udah banyak berkorban buat kami, dan juga Alisa pada Zen” Ujar Adam


“Oh iya gue turun disini aja ya, maksih sekali lagi Dam Ra” Ujar Raka


Raka menyetop taksi dan menuju rumah seseorang.


“Aduh dam no nya gak aktif gimana dong?” Tanya Rara khawatir


“Mending kita balik lagi kerumah sakit” Jelas Ada


Raka sudah sampai di rumah seseorang yang sangat besar dan megah bak istana tetapi rumah itu sangat tergambar jelas dimata Raka hanya sebuah rumah yang pantasnya di neraka, tidak ada tawa bahkan kasih sayang didalamnya.


Raka menggedor-gedor pintu rumah megah itu tetapi dicegah oleh 2 satpam yang berjaga sampai adu mulut pun tak terelakan.


“Ken siapa diluar?” Tanya Adit tanpa memalingkan wajahnya dari laptopnya


“Mas Raka tuan” Ucap Ken


“Suruh saja masuk” Titah Adit


Raka langsung masuk setelah Ken membukakan pintu dengan mata yang memerah,


“Adiit kau dimana hah?” Panggil Raka geram


“Adiiit keluar lo sekarang” Teriak Raka


“ lo emang Gak tau di sopan santun Raka” Ucap Adit yang sedang menyender di pintu kerjanya


Raka menghampiri Aditya dan langsung menonjok pipi putihnya tanpa basa-basi.


Tak kalah dengan Adit dia membalas serangan dari sepupunya itu. Umur mereka tidak jauh hanya terpaut 5 bulan saja.


“Tuan tolong hentikan” Lerai Ken, Ken langsung memanggil dua satpam untuk membantunya.


“Maaf tuan tolong tinggalkan rumah ini” Ucap Ken pada Raka


“Awas lo ya Dit sampai sepupu gue gak ketemu dan kenapa-napa lo yang pertama gue bunuh” Ucap Raka tegas dan meninggalkan rumah megah itu.


Omongan Raka langsung membuat Adit keheranan kenapa Raka bisa berbicara da mengancam dirinya dengan seperti itu.


“Ken apa yang dimaksud dia, dan ada apa dengan adiku ?” Tanya Adit


“Ma maaf tuan nona Zen kabur dari rumah sakit” Jelas Ken


“Sialan kau membiarkan adiku kenapa-napa dan kenapa tidak dari tadi memberitahu ku hah?” Adit kembali murka


“Maaf tuan tadi tuan sangat sibuk dengan pekerjaan tuan” Ucap Ken


“Lalu kemana sekarang dia?” emosi Adit belum turun


“Sepertinya nona kembali kekampung halamannya tuan” Jelas Ken


“Kita kesana sekarang” Ucap Adit


“Baik tuan” Ucap Ken yang pasti tidak akan pernah dibantahnya


Mereka berangkat malam ini juga untuk mencari sang adik yang sebenarnya Adit sangat menyayanginya, tetapi cara yang ia tunjukan sangat salah dimata Zen.


-


-


-


-


-Salam