
“Lo bener mau berangkat besok Al” Mata Rara mulai berkaca-kaca
“Apan sih Ra, iya jadwalnyakan besok bisa saja mungkin sore gue berangkatnya” Jelas Alisa
“Rara udah jangan cengeng masih ada gue dan kalau lo takut lo bisa nginep di bibi gue” Ucap Adam tanpa mengalihkan pekerjaannya yang sedang membantu Alisa
Iya mereka sedang membantu Alisa merapihkan barang-barang yang akan dibawanya ke Amerika.
“Najiis! gue berani sendiri kok” Ucap Rara mantap
“Awas lo ya jangan minta bantuan gue dalam bentuk apapun itu” Tegas Adam
Alisa hanya geleng-geleng melihat tingkah laku kedua sahabat terbaiknya.
“Alisa ini kotak apaan?” Tanya Rara
“Oh itu pemberian terakhir dari ibu gue Ra, sini gue mau bawa deh” Ucap Alisa
“Oh iya kalian tau gak sih kira-kira kalung ini berapaan?”
“Emang mau diapain Al?” Tanya Adam
“Gue mau jual Dam gue punya utang” Jelas Alisa
“Utang? Kok gue gak tau si Al utang ke siapa? Setahu gue lo kan gak pernah minjem uang” tutur Rara
“Gue mau bayar utang gue sama Aditya, dia kan yang bayarin rumah sakit gue”
“Pak Aditya Alisa lo gak sopan” Hardik Rara
“Alisa itukan udah tanggung jawabnya ya sah sah aja kali dia bayarin perawatan lo selama di rs dia juga kan yang menyebabkan lo dirawat walaupun gak satu hari juga sih” Cengir Rara
“Gue serasa punya utang aja dan lagian Pak Adit juga gak nerima gue yang jadi pendonornya?”
“Tapi kan tetep aja dia harus bayar Al, dan mau gak mau darah lo kan udah ngalir jugakan ditubuhnya jadi ya gak ada utang lagi bener kan Ra?”
“Wah tumben lo bener Dam, bener apa yang dikata Adam Al, lagian Pak Adit kan udah tajir ya manamungkin dianggap utang”
“Oh iya emannya lo tau perusahaan Sanjaya group?” Tanya Rara
“Nah bagian lo yang **** sekarang Ra, seantero negeri ini tau kali, lo lupa ya Raka pernah bilang kalau perusahaan ayah gue terkenal mana mungkin kan perusahaan Sanjaya yang ngalahin perushaan Angkasa gak terkenal” Jelas Alisa
Alisa tersadar dia menyebut perusahaan Angkasa sebagai perusahaan ayahnya.
“Ralat perusahaan Angkasa Group bukan perusahan ayah gue”
“Dam anter gue ya nanti ke toko perhiasaan” Ucap Alisa
“Oke tapi gue ke rumah dulu ya mau ngambil sesuatu” Lontar Adam
“Alisa lo yakin? Itu pemberian terakhir ibu lo?” Rara terus meyakin kan Alisa
“Apa boleh buat Ra gue terpaksa, dan ibu gue juga dulu pernah nyuruh gue kalau emang terdesak gue boleh guanin kalung in,i hari ini gue sangat butuh banget uang Ra” Ucap Pasrah Alisa
“Ya udah lah terserah, lo emang gak bisa dikasih tau Al” Rara mendelik kesal
Mereka akhirnya sampai di toko perhiasan Alisa menjelaskan pada penjaga toko bahwa dia akan menjual kalungnya.
“Maaf mbak saya mau tanya kira-kira kalung yang modelnya seperti ini berapa ya” Alisa menunjukan kalung pemberian ibunya
“Nona yakin mau menjualnya?” Tanya penjual tak percaya
“Iya mbak saya yakin, emang kenapa?” Tanya Alisa
“Maaf nona kalung ini sangat langka bahkan di indonesia pun masih jarang-jarang” Jelasnya
“Mana mungkin mbak, itu pemberian alm.ibu saya, gini saja berapapun yang mbak tawar saya akan terima saja” Ucap Alisa pasrah
“Tapi kalau langka pasti mahal kan mbak?” Tanya Rara
“Saya tidak bisa mematok harganya nona ini terlalu mahal, tapi jika nona memaksa saya kasih 70 jt gimana?”
“Apa 70 jt?” Rara sangat kaget apa istimewanya kalung itu dia berfikir seperti sama saja dengan kalung lainnya.
“Mbak kok bisa segitu? Inikan cuman kalung biasa” sergah Alisa
“Nona salah ini kalung ternama dari Paris, mungkin kalung ini sudah usang jadi sekilas mirip dengan yang lainnya saya akan mencoba perbaiki mungkin akan terlihat seperti baru lagi” Jelas penjaga
“Baiklah apapun alasannya saya akan menerimanya” Ucap Alisa
“Baik nona saya akan mentarnsfer uangnya sekarang”
Aditya tidak sengaja melintas dan melihat Alisa dan teman-temannya keluar dari toko perhiasan, anehnya dia sangat penasaran apa yang telah dilakukan sahabat adiknya itu.
“berhenti Ken, turung sekarang dan selidiki apa yang telah dia lakukan” Aditya melihat Alisa
“Nona Alisa maksud tuan?” Tanya Ken
“Iya siapa lagi?” Tanya Adit Acuh dan dia baru sadar akan tingkah yang tidak jelas dan sangat tidak penting itu.
“Ken lupakan kita ada rapat 30 menit lagi” Sergah Aditya
Ken menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki Alisa tanpa sepengetahuan Adit, dia yakin tuannya akan menyuruhnya kembali ke toko itu dikemudian hari.
Rapat sedang berlangsung tetapi pikiran Aditya sangat tidak focus, dia selalu memikirkan sahabat adiknya itu, memang setelah pulang dari taman itu Aditya selalu memikirkan Alisa entah perasaan apa yang sedang menyelimutinya saat ini.
“Baik saya tutup rapat hari ini, untuk selanjutnya akan diurus asisten saya” Ucap Aditya pergi meninggalkan ruangan
Aditya menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaraanya, aneh dia sangat letih tapi waktu masih terlalu pagi untuk seorang direktur terkenal.
“Tuan saya punya informasi penting” Ucap Ken menunduk
“Katakan”
“ini menyangkut yang tadi pagi tuan” Ken terus menunduk
“Baiklah apa yang kamu dapat?”
Ken merasa sangat heran tuannya tidak marah padahal informasi ini menurut Ken tidak terlalu penting.
“Begini tuan nona Alisa menjual kalung pemberian terakhir ibunya tetapi kalung ini bukan semabarangan hanya orang-orang terhormat saja yang bisa memilikinya” Jelas Ken
“Bahkan sang penjaganya pun membandrol 70 jt untuk kalung itu” Jelas Ken kembali
“Oke kita beli kalung itu berapapun harganya” Tutur Aditya
“Kenapa kita tidak membeli yang baru tuan langsung saja dari Paris” Ucap ragu Ken
“Jangan membantah cepat sekarang kamu kesana”
“Baik tuan”
“Apa yang dipikirannya sehingga ingin membeli barang bekas bahkan tuan bisa saja membeli barang yang sama dalam jumlah lebih banyak” Batin Ken bertanya-tanya dan dia langsung bergegas menjalankan perintah tuannya.
Alisa, Rara dan Adam sudah sampai di gedung Sanjaya Group mereka sangat takjub padahal baru luarnya saja, bagaimana dengan dalamnya.
Kebiasaan Rara mulai kumat lagi.
“Udah ayo masuk” Ucap Alisa
“Mending lo aja yang masuk kami tunggu disini” Tolak Rara
Alisa memasuki gedung megah dan besar itu tetapi di hadang oleh penjaga resepsionis.
“Maaf nona adakah yang bisa saya bantu?”
“Hm saya ada perlu sama bapak Aditya ada?” Tanya Alisa
“Maaf nona tuan muda baru saja sudah melaksanakan rapat jadi tidak bisa diganggu, apakah nona sebelumnya sudah ada janji?” Tanya penjaga
“Cih tuan muda udah aki-aki juga” Batin Alisa terkekeh
“Saya belum ada janji tapi saya ada kepentingan mendadak”
Ken melihat Alisa di meja resepsionis dan langsung menghampirinya.
“Ada apa ini?” Tanya Ken
“Maaf tuan nona ini ingin bertemu tuan muda” Jelasnya
“Baiklah ayo ikuti saya nona Alisa, tuan muda kebetulan sedang istirahat”
“Tapi tuan nona ini belum ada janji…” Sergah penjaga resepsionis
“Jangan membantah Thania” Ucap Ken tegas
Alisa mengikuti Ken untuk keruangan Aditya yang berada di lantai 32, dia tak henti-hentinya kagum melihat bangunan semegah itu. Ken menyuruh Alisa menunggu di ruang tunggu khusus yang berkepentingan dengan direkturnya karena bukan sembarang orang yang mampu masuk keruangan Aditya.
“Mari nona tuan memperbolehkan anda masuk” Ucap Ken
“Dasar Aki-aki masa mau masuk aja harus izin dulu” Alisa terus berperang dalam batinnya.
“Katakan” Ucap Aditya singkat padat dan jelas
“Eh buset dasar aki-aki dingin” Oceh Alisa
Aditya mendengar semuanya, di dalam hatinya dia sangat gelikarena Alisa lagi-lagi memanggilnya aki-aki tapi dia selalu menunjukan wajah dinginnya.
“Saya bisa mendengar katakana waktumu tidak lama” Ucap Aditya kembali
Alisa menjelaskan bahwa dia ingin membayar hutang kepada Aditya karena telah membayar perawatannya selama dirumah sakit. Niat Alisa yang baik dibalas dengan tatapan tajam Aditya dan rahangnya mengeras pertanda dia sangat marah karena merasa direndahkan oleh gadis kampung itu.
-
-
-
-
-Salam❤