My Struggle

My Struggle
Indonesia-New York



“Al gue duluan” Ujar Rara mereka berada ditempat peristirahatan terakhir Mariam.


“Alisa akan melanjutkan perjuangan bibi terima kasih sudah menjaga Alisa dulu” Alisa menatap pusara Mariam dengan tanah merah yang masih baru.


**


“Paman Alisa pamit, Alisa akan kembali ke New York karena kuliah Alisa masih dua bulan lagi” Jelas Alisa


“Pergilah nak hati-hati doa paman selalu menyertaimu”


“Dam gue duluan ya terima kasih selama ini lo selalu membantu gue” Terang Alisa kembali


“Santai aja lo sahabat gue yang terbaik” Entah kenapa perasaan dahulu yang Adam pendam perlahan pudar.


Setelah pamitan pada semuanya termasuk Rara, Alisa langsung menemui Raka di Restaurant tempatnya dulu ia bekerja.


“Lo siap?” Tanya Raka


“Mah Raka dan Alisa pamit” Raka dan Alisa langsung menyalami ibunya Raka.


“Raka gue bisa minta tolong lagi?” Alisa sebenarnya sudah tidak enak hati karena terlalu merepotkan Raka


“Santai Al lo kaya seperti ke orang lain aja kan gue udah bilang kalau ada apa-apa bilang aja” Titah Raka


Mereka sedang diperjalanan ke Bandara sebenarnya Raka bisa saja menggunakan pesawat pribadinya namun ia tidak mau terlalu bergantung pada orang tuanya.


“Kalau boleh tau soal apa?” Tanya Raka


“Hm lo bisa anter gue dulu ke kota B?” Tanya Alisa


“Buat apa lo kesana? Itukan kampung halaman si Zen”


“Iya gue ada perlu dan lo juga bisa pesenin tiketkan satu lagi?” Tanya Alisa kembali


Raka semakin keheranan rencana apa yang Alisa akan lakukan. Tetapi dia terus mengikuti kemauan wanita yang ia sukai itu.


**


Mereka sudah sampai dikota B, dia dan Raka menemui Parjo dengan sembunyi-sembunyi.


“Al lo apa-apaan sih lo sampai sembunyi-sembunyi kaya gini emang kita maling?” Tanya Raka dia melihat ke kiri dan kananya


“Udah deh Ka untuk kali ini saja kok ini permintaan terakhir gue jadi jangan banyak tanya dulu” Jelas Alisa pandangannya focus kedepan


“Jangan yang terakhir dong Al, gakpapa minta bantuin gue setiap hari juga”


“Iya-iya cepet kita masuk”


“Masuk? Lo gak sopan banget sih Alisa kita harus ketuk dulu pintunya” Titah Raka


Namun Alisa memberanikan diri untuk memasuki rumah yang tidak terkunci itu, dengan kelakuan orang yang seperti maling Parjo sangat kaget melihat mereka berdua namun sebelum berteriak Alisa membekap mulut orang tua itu ( Tidak sopan namun ini untuk keselamatannya juga ).


“Alisa lepaskan kasihan bapak ini” Raka hampir menghempas tangan Alisa


“Kalian mau apa kesini?” Tegas Parjo


“Maaf pak kami masuk tanpa sepengetahuan bapak, ini gara-gara teman saya maaf ya pak” Sahut Raka


“Mending kalian cepat keluar dan pergi dari rumah ini” Parjo mengusir mereka berdua.


“Apa paman tidak mengingatku?” Mata Alisa sudah berkaca-kaca


“Apa paman tidak mau membantuku?” Pertanyaan Alisa sanggup membuat hati Parjo teriris


“PERGIII” Parjo hampr saja berteriak


“Bibi Mariam sudah tiada” Alisa terus memancing Parjo


“Apa? Mariam meninggal” Parjo sudah mulai penasaran


“Aku akan menjelaskan semuanya, tapi paman harus bersedia ikut dengan ku ke New York” Jelas Alisa


Parjo menimbang-nimbang ajakan Alisa dia bingung namun dia juga harus meneruskan perjuangan Mariam yang gugur ditengah jalan.


**


Mereka bertiga sudah sampai di New York Parjo sangat kagum dengan kemegahan ibu kota Amerika itu untuk pertama kalinya dia bisa menginjakan kakinya dikota Asing.


Mereka juga langsung pergi ke apartemen Alisa yang sempit namun terasa nyaman.


Tidak Lama teh hangat pun sudah siap.


“Kamu sudah besar nona bagaimana keadaan ibumu?” Tanya Parjo dengan meneguk tehnya


Alisa tersenyum dia sudah merelakan ibu angkatnya untuk meninggalkannya selamanya.


“Mereka sudah istirahat disana paman, dan oh ya sebelumnya Alisa minta maaf karena kami sudah memasuki rumah paman tanpa sepengetahuan paman” Jelas Alisa


“Ibumu sudah tiadak nona?” Parjo mengenang alm. Lusi yang sangat mendambakan seorang anak


“Tidakpapa paman sudah tahu alasan kamu membawa paman kesini” Jelas Parjo tenang


Raka hanya menyimak mereka berdua dengan seksama sesekali menenggak teh buatan Alisa.


“Jadi paman..-“ Kalimatnya tergantung apakah ini rencananya?” Benak Alisa


“Paman selalu diikuti mata-mata Rumini dari semenjak paman sudah diusir dari rumah tuan Tyo, sebenarnya paman juga sempat risih tapi lama-kelamaan paman sudah terbiasa toh paman juga gak ngelakuin kesalahan apapun” Jelasnya


“Ternyata benar apa yang dikata bibi Mariam” Benak Alisa


“Hm Rumini ya? Seperti yang familiar” Pikir Raka


“Oh ya apakah Mariam?” Tanya Parjo Ragu


“Iya paman bibi meninggal karena aku” Jelas Alisa menitikan air matanya


“BIbi sudah sakit-sakitan semenjak Alisa kuliah di kota A paman, Alisa takut bibi Rumini adalah dalang dari semua itu yang otomatis salah Alisa”


“Alisa yakin bibi Rumini tujuannya mencari Alisa namun malah menyakiti orang-orang terdekat Alisa” Jelasnya kembali


Parjo langsung berdiri dari duduknya.


“Sudah kuduga nona dialah yang menyebabkan bibimu meninggal, memang dengan kekayaan yang dimiliki ayahnya Rumini bisa melakukan apapun” Jelas Parjo


Raka semakin penasaran siapa Rumini yang Parjo dan Alisa maksud.


“Dia juga yang menewaskan anak dan istriku” Jelas Parjo menerawang


“Apa paman?” Tanya Alisa tidak percaya


“Maaf kalau boleh tahu paman Rumini itu siapa?” tanya Raka menyela


“Seorang wanita iblis tanpa tanduk yang merusak sebuah keluarga bahagia” Jelas Parjo emosinya turun naik ketika mengingat kematian istri dan anaknya


“Dia seorang anak dari orang kaya raya yang sebanding dengan tuan Tyo dia adalah Sutomo orang paling licik di seantero ini pada zamannya” Jelas Parjo kembali


“Sudah saya duga, dia kakek saya paman dia tidak mungkin seperti itu” Jelas Raka karena memang Raka tidak mengetahui semua Rahasia keluarga Sutomo.


“Apa Raka? Kakek? Berarti bibi Rumini?” Tanya Alisa


“Iya dia bibiku Al, tapi gue gak tahu kenapa bibi gue sampai bisa merusak keluarga tuan Tyo, setahu gue dia menikah dengan ayahnya Zen dan Aditya makannya gue adalah sepupu tiri mereka” Jelas Raka


“Tapikan Zen bilang ibunya pergi meninggalkan dia waktu berusia 6 tahun lah kok?” Alisa keheranan


“Nah setelah ayah Zen meninggal memang bibi gue pergi tanpa jejak entah kemana tapi keluarga gue sudah gak peduli lagi karena sifat bibi gue yang terobsesi berlebihan pada apapun membuat dia tidak dianggap lagi dikeluarganya” Jelas Raka


“Sebenarnya ini ada apa paman? Konfirasi apa lagi yang dibuat bibi Rumini?” Tanya Alisa


Namun dahi Parjo langsung berkerut, dia hampir lupa sebagian masa lalu pahit yang telah ia lalui itu.


“Paman kurang yakin nona, maklum paman sudah sepuh hanya ayah kamu lah yang bisa menceritakan ini semua” Jelas parjo kembali


“Apakah dia melakukan hal buruk?” Tanya Raka


“Dia sudah membunuh banyak orang Ka demi menuruti hawa nafsu yang membuatnya semakin g*la” Alisa tertunduk


Dia bingung rencana apa yang harus ia lakukan selanjutnya?


-


-


-


-


-Salam❤