
Pandangannya menghitam, Alisa dia hanya mendengar ada seseorang yang menyebut-nyebut namanya.
“Apa hamil dok?” Tanya Dini dalam bahasa Inggrisnya.
“Saya tidak terlalu yakin nona, nona harus membawa dokter Alisa ke dokter kandungan agar lebih akurat” Jelas dokter
Dini heran kenapa dokter itu mengetahui sahabatnya apakah Alisa sedang memakai jas khusus dokter sehingga semua orang tahu itu yang diipikirannya.
“Sayang kamu aku cari-cari toh ada disini?” Tanya Alex dengan memeluk pinggang Dini ya Alex memang gak tahu tempat sementara dokter yang memeriksa Alisa sudah keluar ruangan itu.
**
“Besok aja ya by aku cape nih” Jelas Dini
Ia sedang membujuk Alex suaminya untuk tidak memeriksakan kandungannya Dini takut Alex kecewa untuk kesekian kalinya, banyak cara yang mereka tempuh untuk memiliki anak kedua setelah anak pertamanya keguguran
“Aku gak akan kecewa sayang” Alex mendaratkan dagunya dibahu istrinya
Dini membalikan badannya.
“Baiklah tapi setelah ini kita jangan terlalu berharap ya by” Dini menatap Alex ada rasa kasihan di hatinya karena suaminya itu selalu menantikan harapan yang belum pasti
Alex sangat antusias dan mereka langsung pergi ke RS langganannya.
**
“Loh inikan sahabat kamu yang” Alex menelaah wajah Alisa
“Iya jangan gitu juga kali by” Dini mendecak sebal memang Dini sering cemburu tetapi kecemburuan Alex lebih dasyat darinya.
“Sayang jangan gitu aku serius”
“Dia hamil by”
“Hamil? Kapan nikahnya gak ngundang kita?” Tanya Alex polos
Belum Dini menjawab pertanyaan Alisa sudah siuman.
“Aduuh dimana ini” Kepalanya terasa berat
“Alisa lo udah sadar?”
Alisa melihat sahabatnya Dini dan Alex
“Kalian ngapain disini?” Tanya Alisa
“Dan aku kenapa sampai diranjang ini” Alisa berusaha turun
“Alisa sebentar apa lo udah nikah? Lo gak undang kita?” Tanya Dini spontan
“Nikah? Lo bercandan Din ya belum lah calon dari mana” Alisa mengumpulkan kesadarannya kembali.
“Ta-tapi Alisa kata dokter lo hamil” Dini memegang bahu Alisa
“Dini lo malah ngaco udah lah gue punya kesibukan lain, maaf ya gue duluan”
“Alisa lebih baik kamu periksa kandunganmu terlebih dahulu” Titah Alex
Namun Alisa tidak mendengarkan mereka, kebetulan dokter yang tadi kembali masuk ruangan untuk memberikan resep obat untuk Alisa.
“Maaf dokter Alisa anda mau kemana?” Tanya dokter dengan bahasa inggris.
“Saya akan ke ruangan ayah saya dulu, ada yang bisa saya bantu?”
Sang dokter keheranan bukankah Alisa yang membutuhkan bantuannya.
“Begini dok, menurut perkiraan saya anda sedang hamil muda dan jangan bekerja atau memikirkan sesuatu yang berat terlebih dahulu”
“Ini resep yang saya berikan agar calon ibu dan anaknya tetap kuat, oh iya saya sarankan anda memeriksakan kandungan anda supaya lebih jelas terima kasih” Dokter itu kembali pergi
Dini dan Alex keheranan melihat mereka yang terlihat sudah akrab.
Sementara Alisa tidak percaya dirinya terduduk di bangku tunggu, Dini menghampiri Alisa untuk memberikan semangat.
“Jadi?” Pertanyaan Dini tergantung
Alex hanya memerhatikan mereka berdua dengan bersandar di pintu ruangan itu.
“Aditya” hanya itu yang terucap dari bibir pias Alisa, dari kemarin dia belum sempat makan, matanya menghitam seperti mata panda wajahnya putih pasi dia sangat kelelahan.
“Aditya? Maksud lo apa? siapa dia?” Tanya Dini khawatir karena Alisa tak kunjung berbicara.
“Sudahlah aku masih sibuk Din, aku duluan”
“Ayah kapan bangun?” Tanya Alisa airmatanya menggenang
“Ayaahhh banguun lah, BANGUUN” Alisa mengguncang tubuh ayahnya tangisnya yang sedari ia tahan pecah dia sudah tidak tahan atas penderitaan yang ia alami.
Parjo langsung bangun mendengar teriakan Alisa disusul Dini dan Alex yang sedang membuntuti Alisa.
“Maaf kalian siapa?” Tanya Parjo dengan bahsa inggrisnya yang masih acak-acakan (kaya author wkwk)
“Saya sahabat kecilnya Alisa”
Dini berniat akan membuka pintu untuk masuk kedalam namun dihalang Parjo.
“Biarkan nona, nona Alisa sedang mengajak ayahnya berkomunikasi” Jelas Parjo
“Ayah?” bukannya ayahnya maaf paman sudah meninggal?” Tanya Dini
Parjo mengajak mereka ke taman RS disana parjo menceritakan sebagian besar kisahnya yang menyangkut Alisa.
“Benarkah paman” Dini menangis dipelukan Alex
“Maaf paman lalu siapa yang berani-beraninya menghamili sahabat istri saya?” Tanya Alex spontan
“Apa? saya tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan?” Parjo terkejut mendengar Alisa hamil
Alex menceritakan semuanya Dini hanya menyimak dipelukan Alex.
“Tidak salah lagi Aditya yang dimaksud nona Alisa itu pemilik RS permata dan sekaligus pemilik perusahaan Sanjaya anak muda”
Dini bangkit dari pelukan Alex mereka terkejut Aditya sahabat Alex lah yang melakukan tindakan bejad ini.
“Tidak mungkin paman sahabat saya yang melakukan itu semua” Jelas Alex
“Saya juga tidak percaya atas pernyataan dari kalian bahwa nona saya hamil, saya tidak salah lihat waktu itu dan nona Alisa menceritakan persoalaanya dengan tuan Aditya”
“By ternyata sahabatmu begitu, kasian Alisa mendapat masalah bertubi-tubi” Dini menyela
“Aku akan meminta pertanggung jawabannya Din” Rahang Alex mengeras pertannda emosinya naik.
**
Bela hanya meratapi kepergian ayah palsunya mereka belum menyadarinya.
“Apa ini?” Bela menemukan sesuatu di laci milik ayahnya
Usang namun masih bisa terlihat foto seorang bayi mungil yang berumur 0 hari terpangpang di lembaran itu Bela mencoba membalikan foto tersebut.
“Alisa Prasetyo Putra”
Kamu dimana nak, ayah merindukanmu apakah kamu baik-baik saja? Maaf ayah tidak bisa menjaga kamu dan ibumu ayah akan menyesali diri ayah sendiri jika suatu saat nanti ayah tidak menemukanmu hanya kamu harapan ayah nak. Pulanglah dengan selamat
Tyo Adiguna
“Siapa ini?”
“Tapi ini bukan gue deh” Bela mencoba memerhatikan lebih teliti lagi gambar tersebut
“Gue tahu yang bisa jawab ini semua” Batin Bela ia bergegas untuk menemui seseorang.
**
“Ayah, ini Alisa ayo bangunlah” Alisa masih setia menemani ayahnya.
Setelah 25 tahun untuk seumur hidupnya Alisa baru merasakan belaian tangan sang ayah.
Tangan yang keriput, dingin dan sudah tidak bertenaga lagi berusaha menggapai kepala sang anak, kerinduan yang sangat menjalar di diri Tyo, dia selalu medengar perkataan anaknya namun matanya enggan untuk melihat duni yang terlalu keras untuk keluarganya.
Alisa menengadahkan wajahnya untuk melihat sang ayah dan mata itu beradu dengan sangat kuat kerinduan ayah dan anak tidak bisa dikalahkan dengan apapun.
“Alisa? kau kah itu nak?”
Alisa langsung menghambur dipelukan sang ayah dia menumpahkan segala kerinduannya, kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil Alisa sangat bersyukur kebahagiaanya sedang berpihak padanya, tuhanNya telah mendengar doa-doanya, telah meliahat perjuangan-perjuanggannya sehingga dia dipertemukan kembali dengan ayahnya.
-
-
-
-Salam❤