My Struggle

My Struggle
Pingsan



Zenia terus memeluk Alisa untuk menyalurkan kerinduan pada kakanya yang tidak kesampaian.


“Zenia dengerin gue, terserah lo mau cerita apa ngga ke gue tapi lo stop menangis Zen” Alisa terus memegangi pundak Zen


“Gu gue al gu gue” Zen terus sesenggukan


“Oke iya kalau gitu lo minum dulu gue bawa air minum dari kosan” Tawar Alisa


Zen meminumnya dan menyerahkan kembali kepada Alisa, Zen menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya membiarkan angin membelai tubuhnya yang agak kurus tapi terawatt.


( Sebegitu rumitnya kah Zen? ) Alisa belum berani ngajak Zen mengobrol dia berfikir ini bukan waktu yang tepat.


“Zen lo gakpapa?” Tanya Alisa Ragu


“Zeeen lo denger gue?” Tanya Alisa kembali


Setelah beberapa lama Zen tidak bergerak, dia pingsan karena kelelahan dan paginya dia juga tidak sarapan.


“Zeen” Alisa meraba dahinya


“Iya ampuun Zeen panas banget, hidung lo kenapa? Zen bangun Zen” Alisa coba membangunkan Zenia tapi nihil Zen tidak bergerak sama sekali dan darah segar keluar dari hidungnya.


“Sebentar ya Zen lo harus bertahan” Alisa panik dan langsung menelepon Adam untuk membantunya


Adam yang baru keluar dari kelas mata kuliahnya langsung ke taman belakang setelah mendapatkan informasi dari Alisa


“Alisa kenapa dia begini?” Tanya Adam


“Gue juga gak tau Dam mending kita bawa ke rumah sakit aja ayo cepetan” Jelas Alisa


Mereka sudah sampai di rumah sakit dan Zen langsung ditangani dokter.


“Keluarga Zenia” Ucap sang dokter


Alisa dan adam langsung bangkit menghampiri sang dokter


“Saya sahabatnya bagaimana dengan teman saya dok?” Tanya Alisa khawatir


“Mari ikut keruangan saya” Ajak dokter


“Begini nona, nona Zenia mengidap penyakit anemia yang mengharuskannya transfusi darah sekarang juga karena nona Zenia sangat membutuhkannya” Jelas sang dokter


“Periksa darah saya dok jika memang dibutuhkan” Ucap Alisa panik


“Tenanglah nona, saya akan memeriksanya sekarang juga” Ucap sang dokter


Sakit, tapi Alisa ikhlas demi sahabtnya itu sembuh, kebetulan darah Alisa cocok dengan Zen jadi Alisa adalah salah satu dermawan yang mau menyumbangan darahnya untuk sahabatnya.


“Lo gakpapa Al?” Tanya Adam


“Gue gakpapa, gue belum makan aja mungkin dari pas keluar kelas tadi” Jelas Alisa


“Oh Iya nona Alisa jaga pola makannya, perbanyak minum air putih” Ucap Sang dokter yang menghampiri mereka berdua


( Si Alisa juga tau kali kan calon dokter ) pikir Adam


“Oh ya dok tolong panggil saya jika temen saya itu sudah bangun” Ujar Alisa


“Baik” Ucap sang dokter dan meninggalkan mereka berdua


Adam memapah Alisa keluar rumah sakit dan mencari sebuah lestoran untuk mengisi perut mereka


“Al lo mau pesen apa biar gue yang pesenin” Ujar Adam


“Apa aja deh Dam yang penting gue makan nasi” Ujar Alisa tersenyum


Setelah beberapa menit makanan mereka sampai Alisa langsung melahapnya karena memang dia sangat kurang bertenaga.


“Mbak tolong saya pesan makanan ini 3 porsi ya saya tunggu” Ucap seseorang


“Oh iya mbak dibungkus aja” Ucapnya kembali


(Loh gue kaya yang kenal deh sama suaranya) Alisa terus mengunyah dan mengingat-ngingat suara siapa yang ia dengar


“Ah iya Pak Parjo, iya itu dia” Alisa langsung menengok ke tempat pemesanan dan benar saja suara yang ia dengar adalah Pak Parjo


Alis langsung bangkit dan menghampiri Pak Parjo yang sedang menunggu pesenannya itu.


“Iya ampuun pak saya cari-cari loh, Pak Parjo kan?” Tanya Alisa


Pak parjo malah seperti orang yang ketakutan dan langsung mengambil pesanannya dan berlalu meninggalkan Alisa, Alisa mengejarnya tetapi kehilangan jejak karena terlalu banyak gang yang dilaluinya.


“Alisa lo dari mana sih gue cari-cari gak ada, ada apa?” Tanya Adam


“Mending kita balik kerumah sakit aja mungkin si Zen udah bangun” Ujarnya kembali


“Iya sudah ayo” Ujar Adam


Drrrttdrttt Hp Alisa berbunyi tetera Rara Cubs yang meneleponnya


(Aduh sampai lupa gue ngabarin tuh anak) benak Alisa


“Aliiisssssaaaa looo kemnaaa ajaaa” Rara terus mengomel


“Aduh dasar kaleng rombeng lo, gue dirumah sakit si Zen pingsan cepet lo kesini” Ujar Alisa


“Apaaaaa rumah sakiit? Rumah sakit mana? Si Zen kenapa emang?” Tanya Rara beruntun


“Nanti gue jelasin semuanya, gue ada di rumah sakit A” Ucap Alisa


“Gue kesana sekarang” Rara langsung mematikan telponnya.


Mereka telah sampai dirumah sakit dan Rarapun sudah bersama mereka.


“Gimana dok kedaan teman saya?” Tanya Alisa


“Teman anda baik-baik saja tapi apakah dia punya trauma?” Tanya sang dokter


“Maaf dok saya kurang tahu, tapi akhir-akhir ini dia sedang berselisih dengan kakaknya” Jelas Alisa


Adam dan Rara hanya mendengarkan mereka dengan seksama


“Tapi dia berteriak-teriak dan terus memanggil-manggil ayahnya, saya kira mungkin nona Zenia mengalami kejadian yang buruk dengan ayahnya sehingga dia depresi dan tertekan” Jelas sang dokter


“Terima kasih dok informasinya, saya akan merawat teman saya” Ujar Alisa


“Baik, jangan membuatnya ingat terhadap masalalunya untuk sekarang ini karena akan mengganggu kesehatan mental nona Zenia juga, jangan banyak bertanya yang tidak perlu” Jelas dokter kembali


“Baik dok baik saya akan mendengarkan semuanya” Ujar Alisa


Alisa terduduk karena terus merasa pusing padahal sudah makan bersama dengan Adam tadi.


“Eh eh lo kenapa Al?” Tanya Rara


“Gu gue gakpapa kok Ra jangan terlalu khawatir” Ucap Alisa


“Tapi muka lo pucet banget Al, lo pulang dulu aja biar Adam yang jagain Zen” Saran Rara


“Dam dia kenapa sih?” Tanya Rara


“Si Alisa belum terbiasa mungkin dia abis donorin darahnya ke si Zen” Jelas Adam


“Donor? Iya ampun Alisa lo juga kan sering banget kurang darah malah lo donorin” Rara tidak percaya Alisa senekat itu


“Rara gakpapa kali Zen jugakan sahabat kita, kita harus ada dalam suka maupun duka” Jelas Alisa


“Iya terserah lo aja, lo kan keras kepala”Ujar Rara kesal


“Oh iya Al ngomong-ngomong si Zen kenapa bisa gitu sih?” Tanya Rara


“Gue juga gak tau Ra dia tiba-tiba ada di taman belakang kampus terus gue liat dia kayanya lagi nangis dan gue samperin eh bener dan langsung meluk gue gitu, gue juga bingung dan setelah beberapa lama dia memejamkan matanya dia langsung tidak sadarkan diri” Jelas Alisa


“Apa karena kakaknya ya?” Ujar Rara


“Apa maksud lo Ra?” Tanya Adam


“Iya gue liat kakaknya datang ke kampus kita siang tadi terus bawa perempuan gue juga gak tau itu siapa yang terpenting mereka memasuki ruang rektor kayanya ada yang penting deh” Ujar Rara


( Jadi yang diruang rektor tadi kakaknya Zenia) pikir Alisa


“Iya terus apa hubungannya dengan Zenia Rara” Ujar Adam kembali


“Nah waktu kakaknya pergi dan masuk mobil, gue kebetulan tuh baru keluar dari kelas dan melihat Zenia yang terus memandangi kakaknya dan gue liat lagi dia kaya yang lari kesebuah tempat dan matanya sudah berkaca-kaca , gue gak tau dia kenapa, gue berniat mengejarnya sih tapi teman sekelas gue memanggil gue buat project bersama biasa lah tentang tugas” Sampai berbusa mulut Rara karena penjelasannya yang terlalu panjang.


“Kalau gitu ceritanya bisa aja sih karena kakaknya, tapi kita juga harus memastikannya” Ujar Alisa


Zenia masih tertidur pulas karena obat penenangnya masih bekerja, Alisa merasa sangat iba melihat keadaan sahabatnya yang sangat menghawatirkan. Mereka melihat Zenia dari kaca pintu rumah sakit yang transparan


-


-


-


-Salam Hangat❤