
Fajar sudah membungbung tinggi namun dua insan yang belum sah menikah belum juga sadar dari peristiwa yang akan disesalinya seumur hidup.
Raka sangat gelisah dari semalam ponel Alisa belum bisa dihubungi, kemudian dia berniat untuk ke aparteman Alisa untuk membuktikan kebenaran tentang apa yang dikatakan Bela.
Sementara Bela dan Zen masih setia didalam Taxi mereka menyewa taxi tersebut hanya untuk melihat reaksi Raka mereka tidak mengetahui dengan apa yang dilakukan Aditya dan Alisa semalaman.
“Bela itu sepupu gue deh” Zen mencoba membangunkan Bela
Kemudian mereka langsung membuntuti Raka dari belakang namun Raka langsung menyadari kehadiran mereka.
“Mau apa kalian?” Tanya Raka tanpa membalikan tubuhnya
Zen dan Bela yang sudah terlanjur ketahuan oleh Raka mereka langsung berdalih dan berpura-pura.
“Raka lo ngapain disini?” Tanya Zen
“Gue yang seharusnya nanya lo, kenapa lo disini?” Tanya Raka Balik
“Eh anu itu” Zen menyenggol Bela dengan sikutnya.
“Itu Ka kami kan lagi nyari pekerjaan nah kantornya didaerah ini ya pantas lah kami disini” Jelas Bela berbohong
Raka tidak peduli dengan omong kosong mereka Raka langsung menuju Apartemen Alisa.
“Ka lo mau ke apartemennya si Alisa?” Tanya Zen
“Gue ikut ya” Bela dan Zen langsung mengikuti Raka.
Raka hanya memercepat langkahnya.
Ckleeekk Raka langsung membuka kamar satunya karena kamar Alisa tidak ada orang, begitu terkejutnya Raka melihat ini semua, Alisa berada dipelukan Aditya entah apa yang terjadi Alisa sudah berada di pelukan Adit.
Zen dan Bela langsung berlari kearah Raka betapa terkejutnya Zen ini bukan rencananya namun bela tersenyum sinis rencananya satu persatu telah berhasil.
Zen langsung murka dan mencoba membangunkan mereka berdua yang masih terlelap.
“Heh wanita murahan lo BANGUUUN” Zen memukuli kaki Alisa, sadar kakinya terasa sakit Alisa tersadar dan melihat Bela, Raka dan Zen sudah ada didepannya Alisa langsung membenarkan selimutnya untuk menutupi tubuh telan*angnya.
“Gue gak nyangka Alisa, lo tidak lebih dari seorang wanita MURAHAN” Raka memberikan penekanan dia malah jiji melihat wanita yang pernah ia sukai itu.
“Raka gue bisa jelasin semuanya” Ujar Alisa suaranya seperti hilang karena menangis semalaman.
Sadar diruangan itu berisik Aditya bangun dari tidurnya tetapi masih setengah sadar kepalanya terasa berat.
“Gue kecewa Al” Raka langsung meninggalkan ruangan itu.
“Heh wanita gak tau diri menjauh dari kakak ku dasar pel*cur” Zen terus mencibir Alisa
“Zen ini bukan salah gue, ini salah kakak lo” Alisa mencoba membela dirinya air matanya tidak henti-hentinya membasahi pipi mulusnya.
“Kak cepat kita pulang” Tawar Zen
“Zen tunggu diruang tamu, Dan lo jangan pernah deketin Kakakku lagi” Zen menaruh kebencian yang sangat pada sahabatnya Alisa.
Aditya menurut saja karena dia belum sepenuhnya sadar, efek dari anggur yang dikasih Zen kemarin belum sepenuhnya hilang.
Aditya sudah siap untuk pulang namun Alisa sempat menghentikan langkahnya.
“A-adit apakah kau tak ingat dengan semalam?” Tanya Alisa sesenggukan
Namun Aditya malah meninggalkan Alisa dengan tanpa sadar.
Mereka semua keluar dari apartemen Alisa dengan berpas-pasan bertemu dengan Parjo yang akan menengok nona mudanya.
“Bukan yang muda aja, aki-akipun dia layani dasar pel*cur” Sungut Bela
Parjo mendengar semuanya namun ia langsung cepat-cepat masuk ke dalam.
Parjo sangat kaget meihat Alisa yang terus-terusan menangis dan dia melihat bercak darah di spreinya.
“Nona Apa yang terjadi?” Namun Alisa malah menangis dan bungkam.
“Apapun yang terjadi paman gak akan pernah meninggalkan nona”
Parjo bergegas ke dapur ia menyiapkan sarapan untuk Alisa.
Parjo terus mengajak Alisa berkomunikasi agar Alisa bisa berbicara yang sejujurnya padanya.
Alisa hanya menggeleng lemah, dia belum beranjak dari kasurnya semenjak ia bangun.
“Paman mengerti nona sedang banyak masalah tetapi nona harus sarapan terlebih dahulu, paman takut nona sakit”
“Alisa pengen ketemu ibu paman” Senyuman yang menyakitkan terlukis dibibir ranumnya.
“Jangan bilang seperti itu nona, ada ayah nona yang harus diselamatkan” Jelas Parjo
“Makanlah” Parjo menyimpan nampan yang berisi sarapan untuk Alisa
“Paman akan kembali lagi setelah nona tenang” Parjo akan beranjak namun Alisa mencegahnya.
“Jangan tinggalin Alisa paman, Alisa takuut” Dia memeluk lututnya
“Tenanglah nona, paman akan disini menunggu nona tetapi nona harus mandi dan berpakain dulu, paman akan beresin ini semua”
Alisa menuruti perkataan Parjo hanya dialah yang bisa membantu Alisa.
**
“Bela kenapa ini bisa terjadi?” Tanya Zen emosinya sudah naik.
“Zenia lo gak liat sepupu lo udah ditangan lo lagi, kurang baik apa coba gue?” Bela membanggakan dirinya sendiri
“Hah kurang baik dari mana, dasar wanita licik” Zen sudah tidak bisa mengontrol emosinya
“Heh apa lo tadi bilang licik? Lo gak ngaca Zenia lo memberikan minuman itu pada kakak lo sendiri” Bela menjambak rambut Zen
Tetapi dengan beraninya Zen langsung menepis tangan Bela dengan kasar.
“Emang dalam minuman itu apa?” Zen belum mengetahui minuman apa yang diberikan pada kakaknya sendiri.
“Heh B*go lo gak tau masalah beginian? Kalau lo penasaran banget minuman yang diberikan lo pada kakak lo itu Anggur” Jelas Bela
“APA?”
Zen memberikan minuman yang akan merenggut nyawa kakaknya, karena dia tahu kakaknya mempunyai riwayat jantung dan tidak diperbolehkan oleh dokter untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat memicu kerja jantung Aditya.
“BELA gue gak mau tahu lo harus bertanggung jawab atas ini semua dan kalau tidak?” Zen gentian menjabak Rambut Bela
“Lo berani sama gue?” Bela langsung menghempas tangan Zen dan mengunci tangannya dibelakang
“Lo gak tau siapa gue Hah?” Bela berteriak di dekat telinga Zen, Zen meringis kesakitan
“Zen kamu dimana sayang?” Ucap Aditya dia masih tertidur di kamarnya.
Zen menginjak kaki Bela yang otomatis Bela membuka kuncian tangan Zen dia mengaduh kesakitan.
“Gue akan bongkar kejahatan lo Bela” Jelas Zen dan akan beranjak menemui kakaknya namun tangannya digenggam erat Bela.
“Kalau lo akan bongkar semuanya siap-siap sepupu lo bahkan Kakak lo tersayang akan mati lebih cepat” Ancam Bela tugasnya sudah selesai dia akan kembali pada ibunya.
Zen menanggapi itu semua dengan serius dia tidak boleh gegabah.
**
“Paman terima kasih sudah berkali-kali membantu Alisa” Alisa sedang mengunyah sarapannya namun terasa pahit.
“Sudah kewajiban paman nona, pamanpun hanya ingin nona dan tuan Tyo bersama kembali” Parjo sedang berkutat di dapur
“Paman Alisa sudah tidak kuat lagi bekerja di RS itu pasti Alisa akan sering bertemu dengan Pria Br*ngs*k yang tidak bertanggung jawab” Alisa mengehntikan Aktivitas sarapannya dia tidak pergi bekerja karena sudah sangat terlambat bahkan hari sudah beranjak siang.
Setelah tenang Alisa langsung menceritakan apa yang terjadi semalam pada dirinya.
-
-
-
-Salam❤