
‘Ah si Raka mana sih katanya mau jemput gue’ Gumam Zen yang sedang menunggu sepupunya di gerbang kampus.
‘Iya udah deh gue pulang duluan aja, nyariin-nyariin deh lo’ Pikir Zen
Dia langsung menuju apartemannya, dia sangat lelah untuk hari ini jadi dia tidak memutuskan untuk pergi ke Club seperti biasanya.
Tok-tok-tok
‘Siapa lagi cob ague baru mau tidur niih’ Zen mendengar pintu apartemannya ada yang mengetuk padahal dia tidak ada janji.
‘Raka bukan ya?’ Zen membuka pintunya dan terkejut siapa yang datang.
Zen langsung menutup pintunya kembali tetapi masih bisa ditahan Raka akhirnya Alisa dan Raka bisa memasuki kamar Zen
“Lo apa-apan Raka? Gak soapn tahu sana pulang” Zen mendorong tubuh Raka
“Maaf sebelumnya Zen lo kenapa jadi gini?” Tanya Alisa
“Gue gakpapa Al, sana lo mending pulang aja gue mau istirahat” Zen berusaha mengusir mereka berdua
“Zen lo sebenarnya ada apa? memang gue curiga waktu dulu lo nyuruh gue pindahin beasiswa ke sini pasti ada yang gak beres” Selidik Raka
“Lo jangan sok tahu Raka mending kalian pulang” tegas Zen
“Oke-oke gue dan Raka bakalan pulang tapi jelasin dulu alesan lo ke kita” Jelas Alisa
“Gu-gue gak bisa” Zen membalikan badannya lagsung mengahadap kaca aparteman yang bisa melihat pemandangan indah dari dalam, Zen menerawang sangat jauh.
Alisa menghampiri Zen secara perlahan dan langsung mengelus kepalanya, kepribadian Alisa yang kadang lembut membuat Zen sangat nyaman dan kasih sayang sang kakak dapat ia rasakan dari Alisa.
“Lo cerita ke kita Zen gue dan Raka sangat sayang sama lo, apa lo gak sayang juga sama kita?” Ucap Alisa pelan
“Apa lo karena gue sampai pindah kesini?” Tanya Alisa ragu
“Bukan itu Al” Zen menjauhkan kepalanya dari tangan Alisa, bukannya dia risih dia takut sahabtnya menderita karenannya.
Zen menjelaskan semuanya bahwa bukan Alisa yang menyebabkan dia pindah, penyebabnya adalah kakanya sendiri, dengan ego memang Aditya bisa melakukan apapun termasuk melakukan hal buruk tanpa memandang bulu, dan Alisa sampai terkaget dia mendengar bukan Aditya yang mencabut beasiswanya tetapi Bela.
“Apa? Bela gue kan gakpunya salah sama dia Zen?” dia sangat tidak percaya adiknya sendiri yang hampir merusak kehidupannya.
“Bela yang sekampus sama lo Zen?” Tanya Raka
“Yaps lo bener Ka, gue juga gak tau si Bela ngelakuin itu semua yang pasti bukan kakak gue” Jelas Zen menerawang
“gue minta maaf Zen gue ngambil kesimpulan yang sangat fatal” Sesal Alisa
“Lo gak salah kok Al memang kakak gue gitu sangat ambisius, ego dan cuek yang merubah karakternya sekarang ini dan menjadi mendarah daging” Jelas Zen
“Oh iya gue lupa si Rara juga meminta maaf atas kejadian beberapa tahun lalu gue yakin dia gak bermaksud begitu”
“Santai aja Al gue udah lupain semuanya” Zen tersenyum
“Oh iya Ka lo juga ada salam dari ibu lo gue lupa nyampeinnya kemarin” Cengir Alisa
“Lagian lo jarang pulang sih kasian ibu lo gak ada temen”
“Ehehe iya sih gara-gara dia nih gue jarang pulang” Raka melirik Zen
“ kok jadi gue sih kalo lo pulang ya pulang aja” Zen serasa gak ada dosa
“Eh mau lo di kerubuni laki-laki hidung belang secara lo kan sering ke club” Sindir Raka
“Eh gue bisa jaga diri ya emang lo bapak gue bisa ngatur-ngatur dan mantau gue terus” Zen tak mau kalah
“Udah emang dasarnya begini ya tiada hari tanpa berantem gue capek” Ucap Asal Alisa
“Zen kenapa si kok lo bisa sekampus sih sama si Bela?”
“Yah gue gak tau Al pokoknya setelah kakak gue menganti rektor si*lan itu dan si bela di skors katanya ibunya memindahkannya kesini” Jelas Zen
Alisa semakin tambah bersalah pada Aditya dia bukan orang yang mencabut beasiswanya padahal dia yang membantunya, dia bertekad harus membawa Zen ke Indonesia kembali.
“Al hay Al” Zen melambai-lambaikan tangannya didepan muka Alisa
“Eh iya Zen bagus kalau gitu” Alisa sedikit terperanjat dari lamunannya.
“Al ceritain dong kok lo bisa sampai kesini bagaimana keadaan Adam dan Rara si bawel itu” Ucap Zen antusias
Alisa menceritakan semuanya seperti dia menceritakannya pada Raka.
“Apa Cristy? lo serumah sama dia?” Tanya Zen ragu
“Iya gue gak ada pilihan waktu itu jadi gue ikut-ikut aja”
“Dia memang Cristy yang lo maksud Zen” tutur Raka yang sedang mengartikan raut muka Zen yang sedikit kebingungan
“Apa gue kira bukan Cristy itu Ka” Zen lebih kaget lagi mendengarnya
“Kalian apa-apaan sih kaya orang asing aja jadi kalian lebih dulu mengenal dia?” Tanya Alisa penasaran
“Dia cewek yang gak bener Al, kelakuannya suka mab*k-mab*kan , j*di, dan gue juga pernah denger dia tersandung narkoba jangan sampai lo ikiut-ikutan” Jelas Zen khawatir
“Bener Al dan semuanya berawal dari pacarnya Arley dia sedikit melenceng dari pergaulannya jadi seperti ini bahkan dia suka menjual Cristy hanya demi uang” Jelas Raka
“Dan yang lebih mengerikan lagi ayahnya gak tau anaknya seperti itu malahan lebih dimanja ya gue ngerinya dia mau jadi apa nantinya” Jelas Zen kembali
“Iya gue tahu kalau dia sangat di manja tapi gue gak tau dia masih memakai barang haram itu, karena dari tubuhnya saja dia gak kelihatan sebagai pemakai” Terang Alisa
“Iya dia pemakai pasif mungkin badannya biasa saja, tapi suka ada bedanya kok Al diakan jua pemab*k ya mana mungkin gak ada tanda-tandanya sama sekali”
“Oh iya mending lo sama gue aja disini Al ya walupun kecil lummayan nyaman juga kok” tawar Zen
“ Sebelumnya terima kasih Zen tapi gue kasian sama dady Jordan Zen gue akan mencoba berusaha merubah Cristy” Jelas Alisa
“Dady? Lo udah sedeket itu ya tapi usaha lo akan merusak mental lo Al, lo gak inget perkataan gue kemarin sifat seseorang tidak bisa dirubah dengan mudah apalagi dalam waktu yang singkat”
“Dady Jordan udah sangat baik ke gue dan udah gue anggap ayah gue sendiri kalian tahu kan gue belum pernah ngerasain kasih sayang dari ayah?”
“Jadi gue serasa punya utang budi mereka udah bantuin gue Amerika gak sebaik dan gak sebagus yang gue kira” jelas Alisa kembali
“Gue ngerti Al, bener apa yang dikata Raka sangat tidak mudah memang merubah sikap dan sifat seseorang jadi mending lo ngomong juju raja sama Dady lo itu takutnya jadi boomerang sendiri”
“Oh iya gimana dengan ayah kandungmu Al?” Tanya Zen
“Gue gak bisa Zen dady Jordan sangat baik, gue gak bisa liat dia menderita, dan soal ayah gue dia udah lupa mungkin sama gue buktinya dia gak cari gue sampai sekarang” Ucap Alisa
“Oh iya gue balik ya Zen takut orang rumah nyariin”
“Yah kok balik sih Al gak nginep? Gue kangen nih udah lama gak ketemu lo” Cengir Zen
“Kebiasaan lo Zen gue yang anterin ya Al” Ucap Raka modus
“Ah iya terima kasih Ka, gue duluan Zen”
“Baiklah jagain kakak gue Raka awas kalau sampai lecet”
Alisa dan Raka sudah keluar dari aparetman Zen namun Alisa langsung kembali ke kamar Zen
“Al lo kembali lagi ada yang ketinggalan?” Ucap Zen
“Tidak gue mau kasih tau aja, kakak lo sangat merindukan lo apa lo juga gak akan pulang?” Tanya Alisa
Namun Zen tertegun dan mematung lidahnya sangat kelu dan kaku wajah kakaknya langsung terbayang dikepalanya.
“Sudahlah gue duluan, dan satu lagi kakak lo sangat baik kok” Alisa langung meninggalkan Zen yang masih mematung di depan pintu kkamarnya.
-
-
-
-Salam❤