
Hari ini adalah hari Alisa, Rara dan Zen untuk pergi ke kampus untuk pertama kalinya, kebetulan zen juga mengambil jalur beasiswa untuk masuk ke universitas A itu.
“Pagi al, lo beli bubur juga” sapa zen
“Iya tadi gue kayanya liat lo, gue samperin aja terus emang bener lo” tutur alisa
“Oh ya si rara dimana al?,pasti masih tidur heheh” kekeh zen
“Yap ucapan lo benar sekali dia kayanya masih tidur, gue panggil-panggil gak ada yang nyahut” kekeh alisa
Alisa dan Zen tertawa terbahak-bahak membayangkan Rara masih di dalam selimutnya dengan posisi tidur yang sangat memalukan.
“Oh ya al kita sarapan bareng aja gimana, tapi gue harus bawa berkas-berkas dulu takut dibutuhin nanti di kampus” Ujar zen
“Oke gue tunggu di kamar ya zen sekalian gue mau bangunin kebo” kekeh alisa
“Kebo? Lo ada-ada aja sih al” zen geleng-geleng kepala
“Iya si rara dia kalau udah makan atau tidur gak ada yang bisa ngalahin” alisa tertawa terbahak-bahak
“Al al kaya lo ngga aja, waktu gue nganterin sarapan lo kayanya sama aja sama si rara” kekeh zen
“apa lo bilang? Itu kan gue tidurnya larut banget abis nelepon ibu gue”elak alisa
“iya-iya deh gue duluan ya takut kesiangan belum lagi kita sarapan” ujar zen
Akhirnya mereka sarapan bersama sebelum berangkat ke kampus, dengan susah payah Alisa dan zen berhasil membangunkan rara, alisa tidak bisa membangunkan rara sendirian yang akhirnya meminta bantuan zen untuk membangunkannya dan usaha mereka tidak sia-sia walapun pada akhirnya juga rara marah-marah karena ada suara yang menggedor-gedor pintunya yang sangat membuatnya terganggu.
Pukul 08.00 pagi mereka sudah berada di kampusnya sebenarnya pengumumannya akan dilangsungkan satu jam mendatang tetapi alisa dan rara terburu-buru untuk melihat sekolah barunya itu.
(Dari luar saja sudah terlihat megah dan luas, pasti didalamnya sangat luar biasa) pikir rara
“Rara woy rara, lo kok kebiasaan sih kalau liat yang bagus-bagus pasti mangap terus, jangan malu-maluin kita ra” ujar alisa
Mereka sudah berada di dalam kampus tersebut, dan memang benar pemikiraan rara universitas yang luas, megah, dan besar mereka juga memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di aula, yang akan menjadi tempat pengumuman berlangsung.
“ya ampun alisa ini 10 kali lipat lebih besar dari SMA kita” tak henti-hentinya rara memandang bangunan itu dengan takjub
“Rara lo jangan kumat deh lebay nya ya iya lah ini lebih besar, emang sekolah kitakan udah di kampung dan itu juga untuk jenjang SMA rara” jelas alisa
“Ah bodo amat yang penting gue seneng, oh ya gue keliling dulu ya al” rara langsung ngeloyor pergi
Alisa melihat ada yang aneh dengan zen, dari tadi kenapa dia gak menunjukan reaksi takjub yang ditunjukan sahabatnya rara itu.
“Zen lo kenapa, gue liat-liat dari kemarin kok lo beda sih zen” tanya alisa
“Beda darimana al? zen ya zen gak bakalan berubah jadi siapapun” zen terus melangkah untuk sekedar berkeliling dan alisa mengikutinya
“Lo gakpapa bener? Dari makanan yang gue bawa kemarin, dan sekarang juga kayanya lo udah gak asing deh dengan universitas ini” ujar alisa
“ lo jangan sok tau al, gue bener gakpapa” zen sedang tersenyum sinis dan walaupun alisa sudah menjadi temannya tetapi zen belum terlalu percaya untuk menceritakan masa lalunya yang kelam karena zen belum pernah menceritakan masalalunya pada siapapun.
“Oh oke maafin gue kalo gue udah lancang tentang lo” ucap alisa
“Gakpapa al jangan terlalu khawatirin gue, oh ya mending kita masuk aula takut terlambat” ajak zen
Mereka menempati bangku kedua dari depan panggung supaya kedengaran dan jelas apa yang diinformasikan oleh panitia penyelenggara. 20 menit lagi pengumumannya akan dimulai orang-orang sudah mulai berdatangan tapi alisa belum melihat batang hidung sahabatnya itu.
(Aduh si rara telat mulu kemana sih tu anak) pikir alisa
“Aduh teman-teman sorry y ague telat, gue abis minta tanda-tagan sama pak dosen ganteng” girang rara
“Kebiasaan lo cepetan pengumumannya sudah mau dimulai” titah alisa
Para dosen senior sudah mulai duduk dan juga diikuti panitia yang notabenya mahasisawa, yang juga akan menjadi senior mereka sudah mulai duduk dengan tenang dan akan menyampaikan beberapa informasi yang perlu disampaikan
Setelah sambutan-sambutan yang disampaikan oleh kakak-kakak seniornya, ada satu nama yang dipanggil oleh salah satu panitia, orang yang sangat berpengaruh serta berjasa di universitas itu
Dhava Aditiya Pramana sosok itu naik ke atas panggung dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya rara membuka mulutnya sangat-sangat lebar dan matanya sama sekali tidak berkedip.
“Al liat itu dosen yang gue bilang tadi ganteng kan?” tanya rara
Alisa diam dan memperhatikan sosok yang dipanggil ganteng oleh sahabatnya itu
(Kok gue kayanya kenal deh sama tuh orang, alisa berfikir keras dan mengingat kejadian terakhirnya dibandara) ooh dosen sinting pikir alisa, tapi sang panitia malah menyebutnya seorang dokter lulusan S2 di Inggris dan menjadi pemilik perusahaan Sanjaya Group yang terkenal dikotanya, ia juga seorang yang berjasa untuk universitas ini khususnya karena memberikan setengah laba perusahaannya agar universitas ini tetap berdiri. Alisa ikutan melongo dan tidak percaya penjelasan dari kakak seniornya itu.
Pengumuman telah selesai semua orang bubar termasuk alisa dan lagi-lagi alisa melihat muka datar yang dipasang zen
(Sebenernya gue penasaran sama kehidupan zen kok dia biasa aja ya atas semua peristiwa yang terjadi sekarang bahkan tadi waktu ada pak adit pun sumua orang bersorak dan cuman dia aja yang biasa saja) alisa terus bertanya-tanya dalam benaknya.