My Struggle

My Struggle
Penguntit?



Alisa mendengarkan Bibi Mariam dengan seksama hatinya sekali lagi tergores mendengar kisah masa lalunya yang sangat rumit.


“Apakah ibu Alisa baik-baik saja?” Airmatanya telah bercucuran semenjak Mariam menceritakan awalmulanya


“Setelah itu…” Mariam menceritakan kembali masa lalunya.


***


“Aku harus bagaimana?” Mariam bingung apalagi Alisa tiba-tiba menangis dan rewel memang kekuatan batin ibu dan anak sangat kuat.


“Nyonya maaf kita sudah sampai rumah sakit yang anda tunjukan” Ucap Sopir


“Terima kasih pak tapi saya minta tolong sekali lagi untuk bawa majikan saya ke dalam beliau membutuhkan perawatan secepatnya” Mariam masih menyangka bahwa Lia hanya pingsan


Mariam menunggu dengan harap cemas dan terus berusaha menenangkan Alisa kecil yang terus-terusan menangis.


“Apa sebaiknya aku menghubungi Parjo?” Tanya Mariam pada dirinya sendiri


“Ah tapi ibunya juga sedang sakit, tapi aku gak ada pilihan lain”


Akhirnya Mariam menelpon Parjo, dan Parjopun langsung datang ke rumah sakit yang diberitahu Mariam.


“Bagaimana keadaan ibu?” Tanya Parjo


“Kenapa sampai begini?” Tanya nya kembali


“Maaf keluarga nyonya Lia” Ucap dokter


“Saya dok bagaimana keadaan ibu?” Tanya Mariam


“Maaf nyonya, nyonya Lia sudah menghembuskan nafas terakhirnya sebelum nyonya membawanya kesini, tadi saya sudah memeriksa kemungkinan yang membuat nyonya Lia tidak tertolong lagi”


“Apakah sebelumnya nyonya Lia sudah melahirkan?” Tanya Dokter


“Apa dok?” Mariam histeris, apalagi Alisa dia menangis semakin kencang.


“Iya dok majikan saya baru saja melahirkan dan ini putrinya” Mariam menunjukan Alisa kecil yang sedang digendongnya.


“Nyonya Lia mengalami pendarahan hebat, seharusnya beliau jangan melakukan aktivitas yang berat dahulu dan jangan dibiarkan berfikir terlalu berat hingga ini akibatnya” Jelas sang dokter


“Kalau begitu saya permisi” Ucapnya kembali


“Bagaimana ini Parjo? Saya sangat bingung” Jelas Mariam.


“Kamu yang tenang ya nak bibi akan menjagamu sekuat yang bibi bisa” Akhirnya Alisa terdiam dan tertidur kembali.


“Saya mau ngomong sesuatu sama kamu Iam, apakah sebelumnya ada orang yang sedang mengikuti kamu?” Tanya Parjo dia membawa Mariam ke ruangan Lia


“Mengikuti? Saya tidak tahu Parjo karena saya hanya focus pada ibu” Jelas Mariam


“Pelankan suaramu Mariyam, ada seseorang yang sedang mengawasi kita, saya akan sekuat tenaga menjaga beliau dan putrinya, tenanglah dengarkan rencana ini baik-baik” Parjo membisikan sesuatu.


Mariam menuju tempat parkiran dengan membawa Alisa ke mobil yang Parjo tunjukan dan benar saja penguntit itu mengikuti mereka.


Dengan sigap Parjo membawa tubuh Lia yang terbujur kaku ke mobil yang dia bawa sebelumnya.


Setelah itu, Mariam kembali lagi kedalam rumah sakit dan menemui Parjo.


“Bagaimana?” Tanya Mariam


“Sudah beres tinggal rencana selanjutnya” Ucap Parjo


Untuk Rencana kedua Mariam berpura-pura menjadi orang sakit dan dia duduk di kursi roda untungnya dia membawa selendang dan dan dikaitkan dikepalanya jadi mukanya tidak teralu jelas.


Rencana mereka akhirnya berhasil Parjo membawa mereka ketempat yang sangat jauh.


“Parjo sebenarnya ada apa ini?” Tanya Mariam


“Saya yang tidak menegrti kalian kenapa sampai begini dan apa yang akan tuan katakan melihat nyonya sudah seperti ini”


Akhirnya Mariam menjelaskan semuanya bahwa ada seorang wanita mengaku-ngaku sebagai istri tuannya yang ingin meminta pertanggung jawaban pada Tyo.


“Sudah saya duga Iam, pasti dia Rumini” Parjo menerawang


“Wanita licik dan Jahat akan melakukan apapun yang ia mau” Jelas Parjo


Parjopun menceritakan masa lalu Tyo karena memang dia sudah lebih dari 10 tahun bekerja dengan keluarga Adiguna.


“Jadi memang benar anak yang dia bawa itu anak tuan Tyo?” Tanya Mariam


“Kemungkinan besar dia bukan anak dari tuan Tyo karena tuan sangat menyayangi nyonya Lia iam, saya sudah katakan tadi bahwa wanita itu bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan tuan” Jelas Parjo


“Terus yang ngikutin kita tadi siapa?” Tanya Iam kembali sebenarnya dia menghawatirkan Alisa.


“Mungkin dia suruhan wanita itu entahlah saya kurang tau tujuannya apa, tapi yang saya yakin tujuannya tidak baik untuk nyonya Lia dan Alisa” Jelas Parjo


“Terus kita mau kemana lagi? Nona muda sudah sangat kelelahan Parjo bisakah kita berhenti sebentar, mungkin dia haus” Mariam memerhatikan Alisa.


“Baiklah tapi kamu tetap disini saya yang akan keluar untuk membeli susu, kita harus selesaikan masalah ini malam ini juga” Tegas Parjo


Parjo memberhentikan mobilnya di dekat indomaret, dan dia membeli semua keperluan bayi.


**


“Mas Tyo apakah kamu belum bisa menerimaku?” Rumini dengan gaya alaynya memasuki kamar Tyo tanpa seizinnya


“Mau apa kamu kesini?” Tanya Tyo dingin


“Aku hanya mau memberimu informasi itu saja” Rumini menidurkan anknya di samping Tyo, namun Tyo malah beranjak dia sudah tidak sudi melihat mereka berdua.


“Aku yakin kamu memerlukan informasi istri dan anak yang kampungan itu” Ucap Rumini santai dia beanr-benar wanita iblis.


“Jangan pernah mengolok-olok mereka, kau bahkan lebih hina dari Lia, aku gak akan pernah percaya sama kamu Rumini” Mata Tyo memerah.


Rumini sangat kesal karena Tyo berbicara seperti itu namun dia harus lebih sabar untuk mendapatkannya.


“Baiklah mungkin aku mengganggumu” Rumini membawa bayinya keluar dari kamar Tyo


“RUMINII dimana mereka?” Teriak Tyo


Namun Rumini malah terus berjalan tidak peduli Tyo berteriak-teriak memanggil-manggil namanya, sebenarnya dia juga belum tahu pasti keadaan Lia dan anaknya.


**


“Parjo apakah kita tidak terlalu jauh?” Tanya Mariam mereka sudah berada didalam perjalanan


“Kamu memang tidak tahu sifat Rumini, dia bagai iblis tidak bertanduk dia bisa melukai nona muda apapun caranya Iam” Jelas Parjo


“Terus kita akan mengatakan apa pada bapak?” Mariam terus bertanya


“Sudahlah aku ada rencana baru, ikuti saja perintahku dengan baik aku akan menyelamatkan nona” Tegas Parjo.


“Baiklah, aku akan mengikutimu, kasihan nona belum genap satu hari dia sudah kehilangan ibunya” Mariam mencium kening Alisa


**


“Bagas apakah kamu sudah menemukan mereka?” Tanya Rumini


“Sudah bu mereka berada di rumah sakit Pelita tetapi saya kehilangan jejak mereka bagaimana rencana selanjutnya?” Tanya Bagas


“T*l*l kamu sudah saya bayar mahal tapi kerjaannya gak becus, cari seluruh data pasien yang berkunjung hari ini bagaimanapun caranya, besok pagi saya mau mendengar berita bagus” Rumini tersenyum sinis


“Aku akan mendapatkanmu Tyo apapun caranya” Rumini kembali kedalam rumah.


Sebenarnya Rumini hanya terobsesi dengan apa yang ia sukai jika dia suka maka apapun itu entah milik orang lain ataupun miliknya sendiri pasti dia harus memilikinya, soal harta memang Rumini pun memiliki segalanya karena leluhurnyapun tidak beda jauh dengannya suka merebut hak orang lain termasuk harta.


-


-


-


-Salam❤