
Sepulang dari kampus Alisa dan Rara menuju sebuah taman yang ada di kota A, Rara memaksa Alisa untuk ikut terlebih dahulu dengannya padahal Alisa sudah menolaknya menurutnya dia harus segera pulang karena sudah terlalu lelah jika hanya untuk sekedar main-main.
“Al ayo sini” Ajak Rara
“Apa-apaan sih Ra gue mau pulang tugas gue banyak nih” Ujar Alisa
“Alisa kita kan gak pernah main dari sejak kita tinggal disini, terakhir kita ke mall itupun ajakan Zen, sudahlah Alisa kita ini manusia bukan robot yang harus mengerjakan tugas tiap waktu, dan lagian kita kesini gak bayar juga kan?” Ujar Rara
Yang dikatan Rara memang ada benarnya semenjak mereka menginjakan kaki di kota ini mereka belum pernah liburan sama sekali.
( Yah sekali-kali boleh mungkin ya ) batin Alisa
Mereka duduk dipinggir taman karena sudah sore taman itu tidak rame, begitu juga tidak sepi.
“Eh lo kok bengong sih Al” Rara berusaha menyadarkan Alisa dengan menyikut tangannya
“Ngga kok Rara, sejuk juga ya disini betah deh” Ujar Alisa sudah mulai menikmati suasana taman sore itu
“Nahkan gue bilang apa?” Rara mendelik kesal
“Duaaaaar” Seseorang mengagetkan mereka berdua yang tak lain adalah Zen
“Heh lo apa-apan sih gue kaget tau” Rara mash terkejut
“Iya elah cuman segitu lo udah kaget” Ujar Zen
“Eh Zen kok lo kesini sih?, ayo duduk bareng kami disini” Ajak Alisa
“Gue sering kesini tau Alisa, lo aja yang langsung pulang begitu aja kalau abis pulang dari kampus, gue suka suasana sore disini” Jelas Zen
“Tuh kan Al dengerin makannya jangan terlalu pokus sama tugas aja lo” Hardik Rara
“Oh ya Zen kenapa gak bareng aja sama kita tadi?” Tanya Rara
“Iya gue ada urusan sebentar, dan ngomong-ngomong gimana dengan urusan beasiswa lo Al?” Zen berusaha mengalihkan pembicaran
“Iya lo mau gimana sekarang Al” Tanya Rara
“Hm gue mungkin mau kerja aja Zen Ra” Jelas Alisa
“Kerja? Mau jadi apa lo Alisa kitakan belum lulus” Ujar Rara
“Rara lo bukan nyemangati sahabatnya lo malah gitu” Ujar Zen
“Zenia lo tau kan tugas kita bukan satu, memang satu sih kadang tapi susahnya minta ampun” Jelas Rara
“Iya juga sih Ra, bener apa yang dikatakan Rara Al lo yakin?” Tany Zenia
“Iya gue yakin lah, gue mesti gimana gak ada jalan lagi, gue harus nyambung hidup gue sendiri buat sehari-hari dan buat kuliah gue” Jelas Alisa
( Zen sangat-sangat miris mendengarnya, kisah hidupnya hampir sama dengan Alisa)
“Semangat Al lo pasti bisa, oh ya Al lo kira-kira kerja apa?” tanya Zen
“Iya semangat Al kami mendukungmu, kadang lo memang keras kepala susah diberi tau” Ujar Rara
“Rara lo kan tau alasannya tadi” Alisa berdecak kesal
“Gak tau deh Zen yang penting ijazah SMA yang gue punya sekarang jadi pekerjaan apa aja gue mau kok” Ujar Alisa
“Iya udah gini aja gue kan punya banyak temen gamers gimana kalo gue tanyain mungkin ada lowongan kerja gitu sekitaran sini?” Tanya Zen
“Gak ngerepotin Zen?” Tanya Alisa
“Lo kaya sama orang lain aja sih Al, santay aja selagi gue bisa pasti gue bantuin kalian, oh ya ini mau gelap gak baik buat anak perempuan” Zen terkekeh
“Iya niih gue sampai lupa, ayo cepetan Al kita pulang” Rara menepuk jidatnya sendiri
POV Zen
“Huuh selesai juga nih kelas, perasaan pelajaran ini selalu boring deh” Zen menghela nafas berat dan terus sumpah serapah karena pelajaran yang sangat membosankan menurutnya.
“Gue ke taman aja kali ya, si Alisa dan si Rara pasti udah pulang” Zen berbicara sendiri dan memutuskan untuk mengunjungi taman kota, tetapi Zen melewati satu kelas dan tidak sengaja mendengar percakapan Bela and the gang
“Bel lo udah beresin kan masalah anak kampung itu” Tanya seseorang
“Udah tenang aja ayah gue kan orang yang berjasa juga disini, jadi gue bisa pengaruhi si rektor itu lagian sih anak kampung itu udah berani sama gue, apalagi tuh anak buahnya si Rara dan si Zen enek gue liatnya” Jelas Bela
“Bener tuh Bel kali-kali kasih dia pelajaran” Ucap salah satu temannya
( Nah dugaan gue bener kan selama ini, memang ada yang gak beres tentang masalah pencabutan beasiswa si Alisa) batin Zen
“Aduh gue harus ngapain ya? Cuman kakak gue yang bisa nyelesain masalah ini” Zen terus berfikir untuk membantu temannya itu
“Ah tapi mana mungkin gue kan udah janji waktu itu gue terakhir minta tolong padanya” Ucap Zen
“Aha mending gue telfon si Raka aja pasti dia mau bantu gue” Zen bersemangat tapi langsung berfikir (mana mungkin kan si Raka gak ada sangkut pautnya sama kampus ini)
“Atau gue sms aja ya si asisten sialan itu?” Zen tidak mempunyai pilihan lain hanya kakanya yang bisa membantu Alisa
“ Heh asisten sialan, gue bukan mau minta tolong ya, gue cuman mau memberi kabar katakan pada kakak gue universitas yang menjadi kebanggaanya sekarang sedang bermasalah” Pesan terkirim
Di tempat lain
Ken sedang menemani tuannya rapat diluar dan ada satu pesan masuk untung hpnya cuman bergetar kalau bunyi sepelan apapun pasti Adit akan murka, yah Adit tidak bisa diganggu dalam situasi serius seperti ini bahkan dalam hidupnya tidak ada kata bercanda.
Setelah selesai mengadakan rapat Ken langsung membuka Hpnya dan ada satu no yang dia tidak ketahui.
Zen memang sengaja mengganti terlebih dahulu kartu yang akan digunakan untuk mengsms asisten kakaknya itu.
Diruang Dhava Aditya Pramana
“Maaf tuan saya dapat pesan dari no yang tidak diketahui” Jelas Ken
“Apa masalanya?” Tanya Adit acuh
“Tuan dipesan ini ada yang menjelaskan bahwa universitas yang tuan banggakan sedang bermasalah” Ujar Ken
“Saya gak peduli” Ujar Adit
“Tapi tuan” Ujar Ken
“Gak ada tapi-tapian saya cape tolong tinggalkan ruangan saya” Ucap Adit tegas
“Baik” Ujar ken dan langsung meninggalkan ruangan Aditya
Aditya tidak peduli dengan masalah-masalah itu yang penting sekarang menurutnya kerja, kerja dan kerja.
Salam hangat❤