
Hari ini adalah kembalinya Alisa, Rara, Zen, dan Adam untuk kuliah, sebelum kembali Alisa tidak lupa mengunjungi makam ibu dan ayahnya terlebih dahulu untuk pamit.
“Alisaaa” Rara terus berlari menyusuri lorong kampus dengan berteriak memanggil-manggil Alisa
“Ada apa sih Ra, lo kaya dikejar-kejar setan aja” Ujar Alisa
“Itu Al itu” Jawab Rara ngos-ngosan
“Iya itu apa, coba lo tenang dulu Tarik nafaas” Alisa coba menenangkan Rara
“Pak Rektor nyariin lo Al, cepetan lo kesana” Ujar Alisa
“Apa? Buat apa dia nyariin gue, gue kan gak punya masalah dan gak buat masalah juga ” Alisa khawatir akan panggilan orang yang terhormat diuniversitasnya itu.
Alisa dengan was-was memasuki ruangan rektor tersebut
“Silahkan duduk” Pak Dani sekaligus rektor disana mempersilahkan Alisa duduk,
“Te terima kasih pak” Alisa sangat gugup padahal dia pernah bertemu dengan beliau waktu awal masuk kuliahnya dulu.
“Apa benar kamu yang bernama Alisa Prasetyo Putra?” Tanya pak Dani
“Betul pak, dengan saya sendiri, maaf pak sebelumnya kenapa ya bapa manggil saya kesini?” Tanya Alisa
“Begini saudari Alisa, kami dengan berat hati ingin mencabut beasiswa yang anda terima sebelumnya, karena ada beberapa hal yang mengharuskan kami mencabutnya” Ujar rektor
“Loh pak saya kan gak pernah buat masalah dan nilai saya juga gak pernah turun malahan nilai saya akhir-akhir ini lagi bagus, tapi kenapa bapak mau mencabut beasiswa saya?” Ujar Alisa, air matanya sudah menggenang
“Bapak juga tahu Alisa tapi ini sudah keputusan bulat dari pihak kami, jadi mau tidak mau kamu harus menerimanya” Ujar sang rektor tegas
“Dan satu lagi saudari Alisa mulai minggu depan, beasiswa mu tidak berlaku lagi” Ujar rektor
“Baiklah saya mengerti pak, saya permisi dulu ” Alisa bangit dan meninggalkan ruangan itu, air matanya tak sanggup untuk dibendung lagi.
Alisa pergi kesebuah taman dibelakang kampusnya walaupun jarang ada yang datang tapi taman itu terlihat sangat terawatt.
“Rara, lo liat Alisa gak?” tanya Adam, Rara terlihat sedang menelusuri koridor kampus
“Gue juga lagi nyari Dam, gue khawatir tadi dia dipanggil pak Dani” Ujar Rara
“Pak Dani? Itukan rektor kita, kenapa memangnya dia manggil Alisa?” tanya Adam
“Gue juga gak tau Dam, makannya gue nyariin si Alisa takut pak dani itu ngomong yang kurang enak”
“Tapikan Alisa gak buat masalah, kok bisa sih dipanggil rektor?” Tanya Adam kembali
“Ah lo banyak tanya sih Dam mending kita cari Alisa nanti biar dia yang cerita”
Mereka berdua mencari Alisa bersama, sebenarnya mereka sudah pulang karena kelasnya siang. Sulit untuk menemukan seseorang disana karena kampus yang sangat begitu luas dan membutuhkan waktu yang lama.
“Heey kalian lagi ngapain sih, kayanya lagi cari sesuatu” Ujar zen
“Iya ini gue dan Adam lagi nyariin si Alisa” Jawab Rara
“Emang kenapa?” Tanya Zen
“ Si Alisa tadi dipanggil rektor, udah nanti aja biar si Alisa yang jelasin, gue udah telpon dia berkali-kali tapi gak diangkat” Ujar Rara
Akhirnya mereka menemukan Alisa terduduk lesu dibangu taman kampus
“Woooy Alisa lo kita cariin, eh lonya malah disini” Rara mengejutkan Alisa, tapi nihil Alisa tidak terkejut sedikitpun
“Alisa gue kira lo kemana” Ujar Adam
“Iya Al katanya lo tadi dipanggil rektor ya?” Tanya Zen
“Iya beasiswa gue dicabut” Pandangan Alisa kosong
“Apa dicabut?” Rara terkejut begitupun Zen dan Adam
“Kok bisa gitu sih Al?” tanya Zen
“Gue juga gak tau Zen menurut gue alasannya gak logis” Jelas Alisa
“Dia gak nyebutin masalah secara detailnya ke gue padahalkan gue gak ngelakuin kesalahan apapun” jelas Alisa kembali
( Ada yang gek beres nih ) Pikir Zen
“Terus kedepannya lo mau gimana Al?” Tanya Rara
“Gak tau Ra, masalah surat itu juga gue masih bingung, ditambah masalah ini gue tambah bingung” Alisa sedikit frustasi
“Oh iya ya gue sampai lupa, kalau gak salah pak Parjo itu pemilik kafe yang waktu kita nongrong bareng deh Al” Jelas Zen
“Ah yang bener lo Zen, emang yang mana sih?” Tanya Rara
“Iya memeng bener Ra, tapi yang gue tahu yang namanya Parjo itukan pelayan disana bukan pemiliknya” Ujar Alisa
“Iya bisa jadi sih, gue juga agak lupa sama mukanya” Ujar Zen
“Lupa? Emang lo pernah ketemu?” Tanya Adam
“Iya, orang itu pernah menjadi sopir pribadinya tuan Tyo, gue tau karena dia ikut waktu perjodohan kakak gue, itu yang pernah gue ceritain” Jelas Zen
“Tunggu deh Zen kok gue bingung, kenapa lo bisa seyakin itu dan apa hubungannya Alisa dengan tuan Tyo?” Tanya Rara
“Dari awal gue sangat aneh ketika Alisa memperkenalkan namanya pertama kali ke gue, seperti gue kenal tuh nama, tapi waktu itu gue cuek sIh karena mungkin kebetulan, tapi setelah gak sengaja membaca surat dari alm. Ibunya Alisa, gue tambah yakin bahwa Alisa bisa saja anak dari tuan Prasetyo Adiguna Putra dan orang yang dimaksud ibumu Al mungkin itu sopir keluarga Prasetyo” Jelas Zen
“Nah yang gue bingung disini kenapa ibu lo nyuruh cari sopir itu bukannya ayahmu?” Zen menerka-nerka
“Jangan sembarangan Zen, kalau gitu si Bela adiknya lo dong Al atau bisa juga kakak ” Ujar Rara
“Tapi gue juga bingung masa iya ibunya Alisa, ngelahirin si Bela jaraknya gak jauh dengan lo Al” Mereka semua menerka-nerka
“Itu bukan sodara kandung gue Ra, ibu gue meninggal waktu gue umur tiga tahun dan pas waktu ayah gue kecelakaan, dan jika dipikir-pikir lagi mengandung itukan butuh waktu 9 bulan jadi mana mungkin setelah ibu lahirin gue, mengandung lagi, dan juga jarak gue dan Bela kayanya gak beda jauh mungkin cuman 5 bulanan” Jelas Alisa
“Oh ya Zen kata lo pak Parjo itu sopir pribadinya tuan tyo kan? Kenapa sekarang jadi kerja dikafe?” Tanya Rara
“Nah itu yang buat gue heran, menurutku masalah ini tanda tanya besar deh” ujar Zen
“Sebentar deh Zen tapikan si Bela namanya Florensia Sabeliana Putra gak ada nama Prasetyo tuh” Timpal Adam
“Iya gue juga bingung, mending kita serahin semuanya kembali lagi ke lo Al” Ujar Zen
“Iya gue akan tetap mencari yang namanya Parjo itu” Ucap Alisa yakin
“Gue selalu bersama lo Al” Ujar Rara
“Hehe iya iya kalian memang sahabat-sahabat gue, ya sudah ini sudah sore mending kita pulang” Ajak Alisa
Mereka pulang bersama melepas penat seharian, apalagi Alisa masalahya silih berganti dia harus sekuat baja, dan selalu ingat akan janjinya.