My Struggle

My Struggle
Bela?



Tok-tok-tok suara pintu kamar Alisa ada yang mengetuk, Alisa terbangun memang dia sejak dari pulang kuliah langsung tidur karena lelah setelah kejadian yang kurang mengenakan tadi.


“Sebentar” teriak Alisa


Cklek pintu kamar dibuka Alisa


“Adam?Zen? kalian pada ngapain kesini?” Tanya Alisa


“Gue tahu semuanya Al, lo gakpapakan” Adam langsung memeluk Alisa, Alisa kaget kenapa Adam seperhatian ini


“Gu gue gakpapa Adam gue baik-baik aja” Alisa melepaskan pelukan Adam


“Oh ya Rara mana Al?”Tanya Zen


“Itu mungkin dikamarnya kayanya dia kesel deh sama gue” ujar Alisa


Alisa beranjak ke kamar Rara dan mengetuk pintunya diikuti Zen dan Adam


“Rara buka pintunya ini gue Alisa” teriak Alisa


Rara juga tertidur setelah pulang dari kampunya.Cklek Rara membuka pintu.


“Aduh kalian mau apa lagi sih gue ngantuk nih” mata Rara setengah terpejam


“Kebiasaan lo dasar” Zen menjitak kening Rara


“Aduh apa lagi ini apa-apaan sih Zen aduuh sakit nih” Rara melotot dan memegangi keninggnya yang kemerahan


“Makannya kalau ada tamu suruh masuk, apa kek” ujar Zen


“Eh heheh iya iya silahkan masuk sahabat-sahabtku” cengir Rara


“Hm Ra gue cuman mau minta maaf ya sama lo tadi gue salah bicara” sesal Alisa


“Alisa Alisa santai aja kali gue gak marah ataupun kesal kok, gue cuman mau lo bela diri sendiri itu aja, kita juga punya harga diri Al jangan sampai orang lain menginjak-nginjaknya” ujar Rara


“Iya iya gue ngerti Rara, waktu itu gue cape jadi gak gue ladenin, lagian kalou di tanggepin juga pasti gitu-gitu lagi malahan balas dendam mungkin” jawab Alisa


“Al emang awalnya gimana sih gue taunya cuman lo di maki-maki aja” cengir Adam


“Iya awalnya memang salah gue sih, inget gak lo Ra waktu pagi-pagi gue nabrak seseorang? Gue tuh nambrak dia, tapi waktu itu juga kan gue udah minta maaf mungkin dia gak terima jadi ngelabrak gue deh sama gengnya” ucap Alisa


“Oh dia orangnya pantesan gak asing” ujar Rara


“Wah gak bisa dibiarin tuh anak” ujar Adam


“Udah-udah kenapa kalian hari ini Posesif banget sih” ujar Alisa


“Lo tahu Zen, kok kayanya lo serba tahu sih dunia memang sempit” ujar Alisa


“Gue gak seperti yang lo pikirin Al, dia memang Bela dia adalah wanita yang pernah di jodohkan sama kakak gue” ujar Zen


“Wah kaya di kampung kita ya Al, tapi inikan kota Zen memang masih ada yang namanya perjodohan?” Tanya Rara


“Ada Rara paman gue sama bibi gue juga gitu dulu” timbrung Adam


“Bener apa kata Adam Ra, dulu perusahaan Angkasa group yang tak lain pemiliknya adalah ayahnya Bela dan Sanjaya group pemiliknya adalah ayah gue sendiri, adalah perusahaan terbesar dan terkenal se kota ini sehingga pemilik kedua perusahaan ini berencana akan menjodohkan kedua anaknya, Bela dan kakak gue Adit, tapi kakak gue menolak perjodohan itu, mengetahui hal itu Bela langsung prustasi dan sikapnya berubah jadi orang jahat kaya nenek lampir” gelak tawa Zen menggelegar diruangan itu


“Aduh Zenia gak ada yang lucu tauu, ayo terusin cerita si Bela yang kaya nenek lampir itu” kekeh Rara


“Eh tunggu dulu Sanjaya groupkan perusahaannya pak ganteng itu, eh sebentar kakak lo Adit jangan-jangan pak ganteng itu—“ belum Rara menyelesaikan Zen sudah menyela


“Kakak gue maksud lo?” Tanya Zen


“Tuh kan dugaan gue bener aaaa, bilangin ya sama kakak lo gue sukaa bangeet gitu ya ya” rengek Rara dan matanya berbinar lagi


Raut wajah Zen berbuah sedih,


“Udah-udah Rara lo tau dia itu orang yang pernah nabrak gue di bandara” ujar Alisa


“Apaa All lo gak bilang sih kalo lo bilang gue akan minta tanda tangannya dari dulu” mata Rara terus berbinar


“Eh jangan lupa ya Zen” ujar Rara bersemangat


“Gue sih fine fine aja, tapi gue gak pernah tatap muka langsung dengan kakak gue udah hampir 7 tahun tapi gue gak pernah ketinggalan buat terus mencari informasinya” ujar Zen


“Apa 7 tahun zen kok bisa gitu sih?” Tanya Adam


“Iya bisa ini buktinya, waktu pengumuman kemarin gue bersyukur bisa melihat kakak gue lagi, walaupun dia ngeliat gue atau ngganya bagi gue sih bodo amat, setelah orang tua kami bercerai kakak gue jadi berubah drastis pemarah dan egois, ayah gue waktu itu udah sakit-sakitan dan Sanjaya group beralih kepemilikan menjadi milik kakak gue sekarang ini” jelas Zen, Zen menceritakan semuanya seperti dia bercerita kepada Alisa waktu tempo hari


“Maafin gue ya Zen gara-gara gue lo jadi keinget kakak lo” ujar Rara


“Gakpapa kali intinya gak ada rahasia-rahasiaan di antara kita iya kan Al?” mereka bertiga berpelukan


“Haduh gue terharuh niiih” pura-pura Aam


“Apa-apaan sih dam” Alisa memukuli Adam


“Eh iya-iya mending kita cari makan yuk, gue bawa mobil kok” ajak Adam


“Iya udah yuk gue juga udah sorepantesan laper” cengir Rara


Mereka berempat mencari makanan dengan menggunakan mobil Adam.