
Mereka sudah berhenti di sebuah kafe kecil tapi lumayan buat nongkrong dan sekedar mampir.
“Adam katanya kita mau cari makan gimana sih?” omel Alisa
“Ia Dam kok kita dibawa kesini sih?” Rara terus mengomel dengan mulutnya tidak bisa diam sumpah serapahnya terus tertuju pada Adam.
“Aduh kalian kok bawel sih, mending kalian tunggu disini gue akan pesenin makannya” ujar Adam
Setengah jam mereka menunggu dan akhirnya makanan mereka datang
“Lama amat sih pak?”omel Rara pada seorang pelayan paruh baya
“Rara jangn begitu kita harus menghormati orang yang lebih tua dari kita” jelas Alisa
Pelayan itu terus memperhatikan cincin yang melingkar ditangan kanan Alisa.
“Ada apa pak? Maafin teman saya ya” Ujar Alisa, Alisa risih pikirnya pelayan tadi terus melihatnya.
“Eh tidak nona, sering-sering kesini ya, setiap minggunya selalu ada menu baru disini” jelas sang pelayan
“Iya pak terima kasih ya, kami akan sering berkunjing kesini” ujar Zen
Mereka makan dengan lahap terutama Rara semua orang disana melihat ke meja yang mereka gunakan karena gaya makan Rara terlalu berlebihan.
“Dasar anak kampung, makannya aja kaya gembel” celetuk seseorang
Rara yang mendengarnya langsung naik darah dan melabrak seseorang itu
“Heh lo tadi ngomong apa? Sekali lagi lo ngomong” emosi Rara
“Makan lo kaya orang gembel, baju lo aja lusuh dasar orang kampung” maki orang tersebut
“Plaaak” Rara menampar orang itu dengan keras dan kegaduhanpun terjadi
Adam,Zen dan Alisa yang melihatnya langsung melerai pertikaian mereka
Adam dan Alisa membawa Rara pergi keluar sedangkan Zen menasehati terlebih dahulu orang tersebut dan kemudian datanglah pelayan tadi.
“ Ada apa ini, tolong jangan buat keributan disini” titah pelayan itu
“Hem maafin teman saya dan orang gila ini iya pak, oh ya saya bayar semua kerugian dan makanan kami yang tadi ya pak saya yang bayar “ ucap Zen
“Apa loh orang gila?, lo yang gila pakain lo aja kaya cewek jadi-jadian” Ucap perempuan itu
“Heh orang gila, gue gak bodoh seperti kalian ya, yang bisanya menindas orang-orang lemah seperti kami, kalau lo punya otak dipake dong kaya lo orang kaya aja, cih tidak lebih dari seperti orang jalanan” ucap Zen
“Sudah ya pak ini uangnya saya permisi” Zen ngeloyor keluar dan melihat perempuan itu sedang emosi dan sumpah serapah yang tertuju padanya.
“Rara sudah, gue udah ingetin lo berkali-kali jangan sampai lo kepancing sama emosi diri sendiri” Ujar Alisa
“Gue gak bisa nerima Al orang-orang yang suka ngerendahin kita sekalipun itu sahabat gue sendiri” Rara memberikan penekanan
“Kita bukan anak SMA lagi Ra kita harus mengerti kondisi” ujar Adam
“Kondisi lo bilang? tadi disana lagi banyak orang dan kalian mau kita di hina-hina begitu aja?” emosi Rara
“Sudah-sudah kalian kaya anak kecil aja sih, gini ya gue jelasin yang salah disini bukan si orang gila tadi aja kita juga salah, Rara lo yang pertama nyulut harusnya lo bisa ngendaliin emosi sendiri dan kita harusnya ketika Rara sudah beranjak ditahan jangan malah dibiarkan ” Zen mencoba untuk menjelaskan semuanya.
“Oke sekarang lebih baik kita pergi ke mall, beli baju dan peralatan make up, ayo Dam antar kita” ucap Zen
“Tapi Zen-“ Sebelum Alisa melanjutkan bicaranya Zen langsung mendahuluinya
“Udah lo ikut aja soal biaya gue yang bayarin” ucap Zen
Mereka sudah sampai dipusat perbelanjaan yang terkenal disana, semua orang melihat penampilan Rara dan Alisa, emosi Rara makin meningkat.
“Udah Ra abaikan aja” titah Alisa
Zen memilih-milih baju yang cocok untuk Alisa dan Rara sedangkan Adam menunggu mereka di mobil seperti seorang supir.
“Aaww” Ringis Alisa dan Alisa terjatuh
“Hai anak kampung lo ngapain disini?” tanya seseorang yang sangat pamiliar di telinga Alisa
“Bela?” Ucap Alisa
“Bagus deh lo tau gue, jangan pernah macem-macem sama gue awas lo?” ancam Bela and the gang
“Lo mau nagapain lagi sih gue kan udah minta maaf” Ujar Alisa
“Eh gak cukup ya cuman minta maaf lo harus jadi babu gue” titah Bela
“Gak ada yang babu-babuan disini” Ucap seseorang yang tak lain adalah Zen dan Rara
“Ohh ini yang mau diperbudak sama anak kampung kaya dia” Bela menunjuk Alisa, Bela tidak mengetahui bahwa Zen adalah adik dari kakak yang pernah dijodohkan dengannya itu.
Alisa berdiri dengan bantuan Zen dan Rara.
“Dasar Lemah” Ujar Bela kembali
“Heh lo gak ada kapok-kapoknya, kita salah apa sama lo” Sewot Rara
“Kalian gak salah sih, tapi yang salah ketua kalian yang kampungan itu” Bela tak kalah sewot
“Stop bilang kita kampungan Bela, ngaca tuh ngaca liat diri lo udah sesempurna kaya gimana sih, pekerjaan lo cuman komen dan komenin penampilan orang emang gak ada pekerjaan lain?” Tanya Rara sewot
“Dan bentar lo kayanya orang yang dikafe tadi deh” Rara menatap seseorang yang menghinanya tadi
Iya memang orang tadi adalah Shintia diaa termasuk temannya Bela.
“Emang kenapa kangen lo sama gue” ucap Shinta
“Cih cewek gila kaya lo mana ada yang akan kangen” Remeh Rara
“Eh udah ah gak guna kita disini juga nguras emosi aja, mending kita shopping” Ujar Bela
Bela dan keempat temannya langsung pergi meninggalkan Alisa,Zen dan Rara
“Oh ya anak kampung, mau sebagus apapun baju lo, lo tetap kampungan” Ujar Bela kembali dan langsung bergambung dengan teman-temannya
“Sudah ya Al jangan di anggap, kalau aja ini bukan pusat perbelanjaan mungkin gue udah ngelabraknya” Ujar Zen
Rara masih terlihat emosi
“Sudah Ra ayo kita milih-milih lagi” Ujar Zen dan menarik tangan Rara supaya mengikutinya
Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan kembali pulang ke kosannya masing-masing.
“Zen ini gak kebanyakan gue gak enak sama lo” Ujar Alisa
“Alah gakpapa kali Al sekali-kali yakan Ra”Ucap Zen
“Yoi Zen btw maksiih ya, sering-sering aja” Cengir Rara
“Iya-iya” Ucap Zen
“Eh kalian enak-enak shoping gue udah kaya supir kalian tau” kesel Adam
“Tenang Dam gue udah beliin kemeja kok buat lo” Ujar Zen
“Wiih beneran nih” tanya Adam
“Iya-iya gue tadi liat kemeja ini cocok deh buat lo” Ujar Zen
Adam mengantarkan mereka terebih dahulu dari pusat perbelanjaan karena lumayan cukup jauh.