
“Tomi kenapa kamu memilih dia untuk bekerja disini?” Aditya meminta klarifikasi
“Aditya Pramana, tuan tahu kan orang pilihan saya gak pernah meleset dan bukan orang sembarangan” Jelas Tomi
“Hah bukan orang sembarangan katamu dia hanya wanita yang tidak tahu diri” Decak Aditya
“Maaf tuan saya bekerja disini secara professional dan saya tidak melihat kehidupan pribadi si pelamar dan menurut riwayat pendidikan dia lulusan univ terbaik dikota ini dan juga lulusan univ terbaik se eropa di New York apakah tuan ragu akan keputusan saya?” Tanya Tomi
Aditya malah melenggang keluar dari ruangan tanpa pamit.
“Apa yang membuat tuan se sensitive ini, memang dia begitu juga sih” Tomi melanjutkan pekerjaanya.
Sudah beberapa minggu bahkan hampir satu bulan Alisa bekerja di RS permata namun belum ada tanda-tanda bahwa ia harus menyelamatkan ayahnya.
Sementara Raka juga langsung melamar pekerjaan di sebuah RS yang tidak kalah megahnya dengan RS permata.
“Siapa itu?” Alisa memincingkan matanya dia seperti melihat seseorang yang familiar berjalan sempoyongan dipinggir jalan.
Alisa sedang menuju ke apartemennya dia baru saja keluar dari taksi namun dia malah melihat seseorang yang mungkin membutuhkan bantuannya karena ini sudah larut malam jadi Alisa memutuskan untuk membantunya.
“A-Adit?” Dia tidak percaya seorang CEO muda dan pemilik rumah sakit termewah se Asia seperti orang yang kehilangan akal.
Alisa terpaksa membawa ke apartemennya, sebenarnya dia agak takut karena mulai dari dua hari kebelakang Alisa sudah memesan satu apartemen lagi untuk Parjo karena sebelumnya Parjo mendiami kamar satunya di apartemen Alisa.
“Maaf pak” Alisa langsung merebahkan Aditya diatas kasur bekas Parjo.
Ketika Alisa akan meninggalkan Aditya, tangannya digenggam kuat oleh Adit, Aditya memang sedang mabuk karena ulah Bela dan adiknya hingga kehilangan kesadarannya.
“A-Adit mau ngapain?” Alisa sudah ketakutan
“Heh Saya tau kamu hanya memanfaatkan keluarga saya kan? Hahaha dasar wanita gak tahu diri” Aditya berbicara seperti itu dibawah alam sadarnya.
“Kamu akan habis denganku , dan kamu juga sudah melukai hatiku tanpa ada belas kasihan” Matanya tertutup namun bibirnya terus meracau kemana-mana
“Maksud kamu apa” Alisa berusaha untuk melepaskan genggamannya namun Aditya malah menghempaskan Alisa ke kasur.
“Adit jangan” Alisa berangur
Entah tenaga darimana tetapi Aditya sangat kuat dia memaksa Alisa untuk mendekat dan seketika Aditya langsung mel*c*ti pakaian kerjanya tidak ada daya sekuat apapun Alisa berontak kekuatan Adit sangat besar, Alisa hanya bisa menangisi kesalahannya karena telah membantu pria brengs*k itu.
Apapun yang mereka lakukan, hanya mereka dan tuhan Nyalah yang tahu ( Gak jauh-jauh ya Author takut kebablasan dan usiakupun belum memenuhi wkwkwk ).
ZEN & BELA POV
“Apa yang lo lakuin Bela? Itu bakalan merusak citra kakak gue, gue gak setuju” Jelas Zen
“Hanya ini satu-satunya Zen supaya sepupu lo kembali lagi sama lo” Jelas Bela tersenyum licik
“Apa benar?” Tanya Zen
“Kita buktikan saja tapi pertama-tama lo harus datang ke kantor kakak lo, oh ya kakak lo kan hari ini lembur jadi pas deh buat ngelancarin rencana kita”
“Tapi kalau ada sesuatu lo yang harus tanggung jawab Bela” Entah kenapa hari demi hari Zen seperti anj*ng yang menurut pada majikannya
“Beres” Bela tidak berjanji hanya saja dia ingin lebih meyakinkan Zen
*
“Kak, Zen bawa makanan dan minuman nih” Tawar Zen
“Kakak lagi sibuk maaf ya kamu pulang aja nanti sebentar lagi kakak nyusul deh” Seperti biasa Aditya masih focus pada layar komputernya.
“Baik, Zen akan pulang tapi kakak harus meminum ini dulu”
Karena Aditya sangat sibuk ia meng Iyakan tawaran Zen dan dia juga meminum minuman yang diberikan Zen dan anehnya anggur itu tidak berbau sama sekali sehingga tidak membuat Aditya curiga.
“Gue udah ngelaksanain rencana kita terus kita harus bagaimana?” Tanya Zen dia menghubungi teman liciknya Bela.
“Baikalah”
“Kok aku pusing? Setahuku pola makanku teratur kok” Aditya memegangi kepalanya yang mulai berkuang-kunang
“Pantas saja ini sudah jam 8 malam hanya kelelahan ternyata” Aditya beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan sempoyongan keluar dari perusahaannya, hanya ada dua security dibawah yang sedang jaga malam.
“Maaf tuan, apakah tuan sedang perlu bantuan?” Tanya salah seorang security karena dia melihat ada yang tidak beres dengan atasannya.
“Tidakpapa Ken akan menjemputku sebentar lagi” Jelas Aditya
Kedua security itu mengangguk mengerti mungkin tuannya hanya kelelahan dan mereka juga mengetahui tuannya memiliki riwayat jantung dan anemia akut jadi keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
“Ayo sekarang jalan pak jemput orang yang berada di depan perusahaan itu” Titah Bela
“Baik nona”
Zen dan Bela sudah berada di dalam taxsi tersebut untuk menjebak Aditya.
Aditya mengira yang menjemputnya Ken, karena dia sudah memerintahkannya menjemput pukul sekian, dan Aditya langsung saja memasuki taxi tersebut tanpa menyadari disekitarnya.
Setelah setengah jam berlalu mereka sudah sampai didekat apartemen Alisa.
“Bela kenapa lo turunin kakak gue disini?” Tanya Zen tegas
“Tenang dulu lihat apa yang terjadi selanjutnya” Jelas Bela
Mereka melihat Alisa membantu Aditya dan langsung membawanya ke apartemen Zen semakin geram.
“Bela jelasin semua apa sebenarnya rencana lo kenapa lo ngebiarin wanita murahan itu membantu kakak gue, kalau ceritanya gini gue gak bakal nurutin perintah lo” Tutur Zen
“Emosi lo di dahuluin Zen Zen lo masih kaya bocah” Lalu Bela menelepon Raka untuk berpura-pura memberikan laporan palsu
Sedikit demi sedikit Zen mulai mengerti dan dia baru menyadari keb*goannya.
“Bela gue tau lo seperti apa” Tutur Raka
“Dan lo belum tahu si Alisa siapa?” Senyum sinis terlukis di bibir merahnya.
“BELA jangan pernah lo sebut wanitaku dia orang baik gak seperti lo” Kekeh Raka
“Baik? Lo gak percaya? Datang saja ke apatemennya atau telpon HP nya paling gak aktif soalnya lagi berduaan aja tuh sama sepupu lo Aditya”
“BELA” Raka langsung memutuskan sambungannya dan mengehempaskan ponselnya, kecemburuan sedang bersarang dalam diri Raka namun dia tidak mau percaya begitu saja pada Bela dia menjoba menghubungi Alisa dia ingin mematahkan dugaannya.
**
Tak henti-hentinya Alisa menangis dia bukan wanita suci lagi dia sudah ternodai oleh Pria brengs*k yang dahulu merupakan cinta pertamanya, dia melihat tubuhnya dan tubuh dia tanpa sehelai kain menjadikan Alisa sangat membenci kakak dari sahabatnya itu.
Drrrrtttttdrtttt Ponsel Alisa berdering namun itu semua tidak ada gunanya Alisa tidak mendengar ponselnya berbunyi karena ponselnya berada di tas kerjanya yang terletak di ruang tengah.
Karena terlalu lama menangis tanpa sadar Alisapun tidur disamping Aditya.
-
-
-
-
-
-Salam❤