
Semenjak Zen cerita tentang kehidupannya itu dia lebih terbuka kepada Alisa dan bahkan lambat laun Zen pun tidak menyimpan rahasianya lagi kepada Rara maupun Alisa dan Zen juga semakin dekat dengan Adam mereka sangat kompak 4 sahabat yang tidak akan terpisahkan.
Dua minggu telah berlalu hari ini adalah hari mereka untuk pergi ke kampus.
“Al lo merasa aneh gak sih?” tanya Rara
“Biasa aja memang kenapa?” Tanya Alisa kembali
“Itu orang-orang kok kayanya pada ngeliatin kita sih” ujar Rara
“Lo kegeeran aja itu mah Ra cepet hari ini kita kan ada kelas pagi” ujar Alisa
( Alisa dan Rara mengambil jurusan kedokteran hanya saja Alisa di ahli organ dalam seperti ayahnya dan Rara mengambil jurusan kedokteran khusus menangani anak-anak, kelas mereka berdekatan dan searah sedangkan Zen mengambil jurusan menejemen dan Adam mengambil jurusan psikologi, kebetulan Zen kelasnya kelas siang jadi hari itu cuman Alisa dan Rara yang berangkat pagi)
Alisa terlalu cepat berjalan karena khawatir terlambat padahal masih ada 15 menit lagi waktu yang tersisa, memang seorang Alisa kadang sangat disiplin sesuai ajaran ibunya.
Bruuugghh tanpa Alisa sadari dia telah menabrak seorang perempuan
“Ma maafkan saya mbak saya buru-buru” ucap Alisa, Alisa dan Rara langsung ngeloyor ke kelasnya masing-masing
“Dasar cewek kampung siapa sih dia berani-beraninya dia nambrak gue” Umpat seseorang
Waktu sudah siang, kelas sudah berakhir dan orang-oramg bubar termasuk Alisa.
“Rara lo dimana sih?” gerutu Alisa
“Heh cewek kampung lo berani-beraninya ya sama gue” kesal seseorang
“Eh mbak yang tadi pagi ya, maafin saya ya saya buru-buru soalnya” sesal Alisa, Alisa tulus ingin meminta maaf kepada orang yang ditabraknya karena memang ini salahnya.
“Mbak-mbak lagi, emang gue kakak lo apa? Selain lo kampungan, lo udik banget sih jijik gue liatnya” Orang tersebut terus memaki dan merebut tas yang dibawa Alisa bahkan Alisa di dorongnya dengan kuat.
“Ini apa lagi keresek hah?” orang tersebut terus meremehkannya
“ Cari benda apa saja yang bisa berguna buat kita” ucap orang tersebut kepada 4 orang temannya, mereka berkelompok dan hanya bisanya mengeroyok satu orang.
Ya mereka adalah geng Florenzia Sabeliana Putra, dari sejak SMP seorang Bela memang terkenal jadi anak yang suka membuly orang lain karena orang tuanya terkenal sebelum adanya perusahaan Sanjaya group, Angkasa goup lah yang lebih dulu terkenal, Angkasa group adalah perusahaan milik ayahnya Bela
Mereka mencari sesuatu yang berharga namun nihil tidak ada apapun kecuali ponsel butut dan kuno
“Bel gak ada apa-apa didalam tasnya, nih gue cuman nemuin ini, dia kan anak kampung mana mungkin ada barang yang berguna” ucap salah satu temennya
“Apa ini? rongsokan bekas lo masih simpen aja” Dia melemparkan tas dan ponsel Alisa ke tanah
Alisa langsung memungutnya dan membereskannya kembali dan Alisa berdiri dengan tegak
“Eh lo makannya jangan macem-macem sama gue dan asal lo tahu ya gue bisa aja ngeluarin lo dari sini karena ayah gue juga orang yang berpengaruh di universitas ini” Ucap Bela
( Cih dasar bawa-bawa orang tua) pikir Alisa
“Eh eh lo apain temen gue hah?” Bentar Rara, setelah keluar dari kelasnya Rara melihat sahabatnya itu sedang di maki-maki oleh beberapa orang
“Eh kaleng rombeng kalo punya mulut dijaga, dan lo kok ribet amat sih sama penampilan kita, pakaian kita masih bagus tertutup, nah kalian kaya pela*ur” Rara langsung menarik tangan Alisa
“Dan kalian, kalian cuman mau nontonin seperti tadi? kalian mau di kampus kita ada seorang pembuly kelas kakap hah” ujar Rara sewot
“Awas lo” kesal Bela dia terus memandangi Alisa dan Rara
Sebenernya banyak yang hanya menonton acara buly membuly geng Bela tadi, karena mereka juga tidak mau jika dikeluarkan dari kampusnya karena semua orang juga tahu bela adalah anak dari orang yang berpengaruh di universitasnya itu.
Mereka sudah sampai di gerbang kampusnya untuk bersiap pulang, Alisa langsung melepaskan genggaman tangan Rara
“Rara sudah, gue juga gakpapa” ujar Alisa
“Gakpapap dari mana Alisa? gue liat dengan mata kepala gue sendiri lo di maki-maki bahkan gue liat lo juga di dorong-dorong gue gak terima dong” sewot Rara
“Rara lebih baik kita diam aja itu lebih baik, apalagi kan sekarang hari pertama banget kita kuliah ra gue gak mau ngeganggu beasiswa kita” ucap Alisa
“Cih gue gak sudi kalau harus diam, gue lebih baik dikeluarin daripada ngebiarin si pembuli kelas kakap itu” kesal Rara
“Hai kalian udah mau pulang ya?” tanya Zen, zen baru datang karena memang jadwal masuknya siang
“Iya kita baru aja mau pulang” jawab Alisa enteng tanpa ada beban padahal dia baru saja di maki habis-habisan sama geng Bela, Rara tidak menjawab
“Eh Ra lo kok kaya yang abis kesel” tanya Zen penasaran
“Iya iya lah kesel, sahabat sendiri di maki-maki mana hari pertama kuliah lagi” kesal Rara
“Bener Al apa yang di kata Rara?” tanya Zen
“Ah si Rara lebay, guenya aja biasa aja kok” ucap Alisa tenang
“Apa lo bilang Al gue lebay? Setelah lo di maki-maki bahkan gue liat lo di dorong tadi masih aja lo bilang gue lebay?” Rara membri penkanan
“Kalau emang bener Al siapa yang berani nyakitin lo akan berurusan sama gue” ucap Zen
“Kalian kenapa sih gue gakpapap, gak ada yang terluka juga” jela Alisa
“Iya tetep aja di kampus gue gak boleh ada yang namanya pembulian” dengan khasnya yang tomboy Zen berucap dengan yakin
“Oke gini aja mending kita pulang ra, dan lo Zen hati-hati ya dan semangat ini kuliah pertama kita” ucap Alisa
Alisa dan Rara pulang kekosannya dan Rara langsung masuk kamar tanpa berucap sepatah katapun kepada Alisa
( Mungkin kesal tuh anak) pikir Alisa
Alisa juga langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya.
(Lelah) pikirnya.