My Struggle

My Struggle
Surat Terakhir



Alisa sangat kecewa setelah ia mengetahui semuanya, Alisa menangis dan menangis, tapi sedetik kemudian dia menghapus air mata yang berjatuhan dipipinya.


( Mereka sudah sangat baik mau merawat dan menjagaku, aku harus memenuhi janjiku pada mereka ) benak Alisa terus bergejolak, pikirnya ini adalah awal kehidupannya.


“Alisa makan dulu ini gue udah masak” Teriak Rara


“Iya Ra sebentar” Jawab Rara


“Cepetan ini gue, Adam dan Zen udah siap kami nunggin lo” Ujar Rara


Alisa bangkit dari kasurnya, menyimpan kotak kecil itu ditas yang akan dibawanya besok ke kota A


“Hai maaf ya gue lama” Ujar Alisa


“Udah lah Al ayo kita makan” Ajak Zen


“Oh ya Al lo yakin mu berangkat besok” Tanya Adam


“Gue yakin Dam lagian gue juga diizininya gak lama kok, gue juga gak mau terus-terusan sedih, gue harus penuhi janji gue Dam” Jelas Alisa


“Bagus tuh Al, lo harus bangit, kita akan lewatin ini bersama okay” Ujar Zen


“Maksiih ya” Alisa terharu masih ada sahabat yang menemaninya dikala dukanya.


Mereka telah selesai makan, Rara,Zen, Adam dan Alisa langsung membereskan semuanya.


“Eh iya kalian kok bisa kesini si?” Tanya Alisa


“Iya ampun Alisa emang kita tega apa ngebiarin sahabat kita sendiri seperti ini, dan lagi lo Al kenapa gak bilang-bilang kalau mau pulang lo suka semanunya aja ya” jelas Rara asal


“Gue gak mau ngerepotin siapapun Rara, terutama lo Zen lo sangat membantu kami selama disana” Jelas Alisa, matanya masih kelihatan sembab dan berair.


“Oh ya kita juga kesini karena bantuan Zen lo Al, kakaknya membantu kami dengan mengirimkan pesawat pribadinya” Ujar Rara


“Apa lo bilang, Rara jangan suka nyusahin orang lain” Titah Alisa


“Gakpapa kok Al, tapi mungkin itu bantuan terakhir kakak gue, gue sangka kakak gue akan berubah lagi tapi kemarin gue hubungin masih kaya dulu, gue putusin untuk tidak menghubungi dia lagi” Jelas Zen


“Lo jangan gini lagi Zen, itu kakak lo coba lo ngomong baik-baik sama dia” Jelas Alisa


“Gak akan pernah bisa Al, selalu ada asisten brengsek di sampingnya kaya ulat bulu tuh orang nempel terus sama kakak gue” emosi Zen sedikit tidak terkendali, tetapi mencair setelah Rara tertawa lepas


“ Apa ulat bulu? Whahaha masa sih asisten kakak lo yang super ganteng itu ulat bulu, hiiih ngeri gue ngedengernya” Kekeh Rara


“Lagian siih dia nempel terus, asal lo tau ya Rara gue yakin bukan kakak gue yang ngirim pesawat , tapi si ulat bulu itu, gue juga enek” Ujar Zen dengan tawa renyahnya.


“Udah lah meding siap-siap kita akan pergi besok kan? Oh ya Al gue pulang dulu ya, nanti gue besok jemput kalian disini” Ujar Adam


“Iya lo hati-hati Dam” Ujar Alisa


Alisa, Zen dan Rara tidur bersama dikamarnya Alisa. Rara dan Zen sudah tertidur pulas beda dengan Alisa, dia gelisah memikirkan orang tuanya yang tega menitipkannya pada orang lain.


Alisa bangkit dan pergi ke teras rumahnya, pikiranya melayang pada sang ibu, ia mengingat momen bersama ibunya sebelum dia berangkat ke kota A, suasananya persisi waktu beberapa bulan yang lalu, Alisa tersenyum memandangi langit yang cukup cerah


Zen merasa ada yang bangit dari kasur yang mereka tiduri dan benar saja Zen membuka matanya dan tidak melihat Alisa disana.


“Aduh si Alisa ngapain sih keluar malam-malam inikan jam 1 pagi” Zen terus mengucek matanya


“ Aliissa lo ngapai disini, dingin tau, ayo masuk “ Ajak Zen


Alisa sedikit tesentak padahal dia sudah sangat pelan-pelan untuk pergi keteras rumahnya


“Hm loh kok lo bangun sih Zen, duluan aja ya gue masih betah nih disini” Tolak Alisa halus


“Alisa kalo lo punya masalah cerita, jangan dirahasiain” Ujar Zen sebenarnya Zen masih dalam kedaan setengah sadar


“Aduh rahasia apa siih Zen gak ada rahasia kok” bohong Alisa


“Lo duluan nant gue nyususl” Ujar Alisa kembali


“Bener ya lo awas gue ngantuk nih gue duluan” Zen ngeoyor kekamar dengan mata tertutup


Alisa tidak bisa tidur sampai pagi, yang dia pikirkan hanyalah ibu, ibu dan ibunya saja, tetapi setelah pukul 4 pagi Alisa memutuskan memasak untuk sarapan mereka.


“Alisa lo udah bangun? Biar gue sini yang masak” Ujar Rara setengah sadar dan terus menguap


“Gakpapa Ra lo tidur lagi aja ini masih pagi, gentian gue aja yang masak” Ujar Alisa


“Iya sudah gue juga masih ngantuuk, hooaam” Rara terus menguap


Zen sudah beranjak dari kasurnya tinggal dia sendiri yang belum bangun.


“Aduh gue pusing banget nih” Ujar Zen


Dia tidak melihat jalan dengan benar jadi dia tersandung sesuatu yang membuatnya terjatuh


“Ini apaan sih, kok ada disini” Zen mengambil sebuah kotak kecil yang tergeletak begitu saja dan membukanya.


Zen terkejut dan membelakan matanya setelah membaca itu semua, Zen yakin Alisa tidak tidur semalam karena memikirkan surat itu


( Dasar ni anak katanya gak ada rahasia-rahasia) pikir Zen


Zen langsung menaruh kota kecil itu kedalam tas Alisa karena kotak kecil itu terjatuh tidak jauh dari tasnya.


Zen langsung mengahampiri Alisa di dapur dan dia duduk dikursi meja makan.


“Lo bangun Zen?, tapi belum mateng semua nih maklum gue baru masak” Ujar Alisa


“Gue bisa bantu lo Al” Ujar Zen


“Bantu apa sih Zen? Bantuin masak? Ya udah ayo sini?” Ajak Alisa


“Jangan ngalihin pembicaraan Al, gue tau lo punya maslah” Selidik Zen


“Zenia gue gak ada maslah apapun kok” Jawab Alisa dia sangat sibuk dengan masakannya.


“Jangan bohong lo Alisa gue tau kok masalah surat itu” Ujar Zen


Alisa langsung mengehentikan semua aktivitasnya dan menghadap Zen.


“Zen lo jangan sembarangan ya” Alisa memperingatkan Zen karena sudah mengambil barangnya tanpa izin.


“Al gue gak pernah ngambil barang apapun ya tanpa seizin lo, kotak kecil itu tergeletak begitu saja dilantai dan gue sampai tersandung gak sengaja ke injek” Terang Zen, Zen seakan sudah tau isi kepala Alisa


“Gue gak bermaksud kesana Zen gue gak mau ngerepotin orang lain, lo harus ngerti itu Zen” Ujar Alisa murung


Zen beranjak dari kursinya dan menghampiri Alisa.


“Al tapi gue bukan orang lain, gue sahabat lo sendiri lo mau main rahasia-rahasiaan sama kami?” Tanya Zen


“Gue tau lo sahabat gue Zen, tapi disini gue yang selalu bermasalah, dan lagi-lagi kalian nolongin gue” Alisa merasa bersalah


“Alisa itu gunanya sahabat harus ada dalam keadaan suka maupun duka” Terang Zen


“Oh ya gue juga tau siapa parjo itu, gue akan bantu lo Al” Ujar Zen


“Bantu apa?” tiba-tiba Adam dan Rara nongol begitu saja


“Jelasin Al” Titah Zen


Alisa mengela nafas berat, sebenarnya ini masalah pribadinya karena terlanjur Zen sudah mengetahuinya apa boleh buat. Mereka semua duduk dikursi meja makan masing dan Alisa menjelaskan semuanya


“Maafin gue ya bukannya gue nutup-nutupin suatu hal dari kalian, sebelumnya gue gak mau ngerepotin siapapun” Ujar Zen


“Paman, ayahnya Rara kemarin ngasih gue kotak kecil dan didalamnya ada sebuah surat dari ibu gue, yang menjelaskan kalau gue bukan anak mereka” Jelas Alisa


“Apa Al lo bukan anak mereka?” Rara tak kalah terkejutnya Adampun sama


Selama ini mereka mengira memang Alisa anak kampung asli daerhnya tapi pernyataan Alisa mematahkan semuanya


“Iya dalam surat itu juga jika gue ingin tau lebih dalam gue harus mencari seseorang yang bernama Parjo Sujono” Tambah Alisa


“Siapa lagi tuh Parjo Al, disini kan banyak yang namanya Parjo” jelas Rara


“Tenang Ra gue tau siapa dia” Ujar Zen


“Iya ampuun Zen lo memang pahlawan kami” Mata Rara terus berbinar


“Lo jangan berlebihan Ra intinya kita harus bantuin Alisa gimana?” tawar Zen


“Setuju doong” Ujar Rara


“Gue pun setuju Zen kita sebagai sahabat harus saling membantu” Ujar Adam


Zen dan Rara pergi mandi dan siap-siap sedangkan Alisa dan Adam menyelesaikan kegiatan memasak yang sempat tertunda tadi, waktu menunjukan pukul 4 lebih.