
Aditya terus melamaun, entah apa yang dilamunkannya sehingga tidak mendengar ada orang yang mengetuk pintu ruangannya.
“Lyla apa kamu tahu Pak Adit kemana?” Tanya Ken pada sekertaris tuannya itu
“Maaf pak, setahu saya Pak adit belum keluar dari ruangannya setelah bapa tadi keluar, mungkin masih di dalam apa saya coba hubungin saja pak?” Tanya Lyla
“Tidak usah, mungkin beliau sibuk jika bapa keluar secepatnya hubungi saya” Ujar Ken
“Baik pak” Ujar Lyla
Tidak berapa lama Adit menghubungi Lyla karena ada berkas yang harus dikerjakannya
“Lyla cepet kamu keruangan saya dan ambil berkas-berkas disini” Ujar Adit ditelepon
“Baik pak” Ujar Lyla
Tok-tok-tok
“Masuk “ Ujar Adit
“Ini berkas-berkas yang harus kamu periksa, dan jadwalkan untuk meeting saya besok” Titah Adit
“Baik pak, secepatnya saya akan menyelesaikannya” Ujar Lyla
Adit sangat kagum pada asistennya itu, orang yang sangat gesit dalam bekerja tanpa memandang lelah sama seperti Ken.
“Oh iya maaf pak, tadi asisten Ken mencari bapak” Ujar Lyla
“Mencari saya? Kenapa tidak masuk lansung” Ujar Adit
“Maaf pak saya kurang tahu, tapi sepertinya agak penting” Ujar Lyila kembali
“Iya sudah suruh masuk keruangan saya sekarang” Titah Adit
“Baik pak” Lyla pergi dari ruangan itu dan langsung menghubungi asisten Ken
Tok-tok-tok
“Masuk” Titah Adit
“Maaf tuan saya mengganggu waktu tuan” Ucap Ken
“Katakan” Ujar Adit, Adit terus memerhatikan keramayan kota dari jendela gedungnya
“Begini tuan, soal SMS yang masuk ke no saya itu memang benar tuan, dan pengirimnya itu nona muda” Jelas Ken
“Apa kamu bilang?” Air muka Adit berubah jadi dingin, dia tidak habis fikir kenapa tidak meminta tolong langsung padanya
“Maaf tuan waktu itu saya sudah mengirim mata-mata ke kampusnya nona muda sekaligus melacak no si pengirim untuk memastikan bahwa informasi ini benar atau salah” Jelas Ken
“Bodoh siapa yang menyuruhmu untuk mengirim mata-mata hah?” Tanya Adit geram, suasana di ruangan itu menjadi tegang
“Sekali lagi maafkan saya tuan saya tidak mau persoalan ini kembali terulang, dan untuk melacak no ini memang saya hanya ingin memastikan jika tidak ada orang yang memepermainkan masalah ini” Jelas Ken
Tiga tahun kebelakang memang pernah ada masalah yang sama seperti ini pencabutan beasiswa tanpa alasan bahkan mahasiswanya sempat mencoba bunuh diri karena depresi, dan mungkin dari dulupun masalah ini sudah ada tiap tahunnya entah karena apa masalah ini selalu bermunculan tetapi setelah perusahaan Adit ikut andil di kampus tersebut masalah itupun sedikit teratasi dan untuk kesekian kalinya terulang kembali.
( Cari mati tuh rektor ) benak Adit geram
“Bagaimana tuan?” Tanya Ken ragu
“Siapkan mobil, kita kesana sekarang” Ujar Adit
Setelah menempuh waktu 1 jam mereka sampai di kampus yang terkenal itu.
Adit berjalan dengan gagah menggunakan Jas, dari atas sampai bawah sangat rapih menjadikan Adit lebih tampan dan cool dan didampingi Lyla mereka seperti sepasang kekasih ( Ralat ) sepasang suami istri. Ken tidak bisa ikut dengan Adit karena ada urusan mendadak diluar kota.
Dari kejauhan Rara melihat mereka berdua dan terus menganga berfikir siapa yang disamping kakaknya Zen itu
“Nemu? Emang barang jatuh” Rara mendelik kesal
“Iya terus apa, gelagat lo yang kaya gitu kan udah biasa pasti lo liat mahasiswa gantengkan lo ngaku aja” sindir Zen
“Suuttt liat, itu kakak lo kan?” Tanya Rara
Zen memincingkan matanya dan benar dia melihat kakanya, ada rasa senang sekaligus kecewa didalam benak Zen.
Alisa sudah biasa dengan kelakuan sahabatnya itu, ia berfikir untuk kembali ketaman belakang kampus dia tidak menyadari siapa yang sedang dibicarakan Rara dan Zen itu.
“Eh iya deh kayanya bener kakak gue” Ujar Zen
( Rencana gue pasti berhasil) pikir Zen
“Tapi mau apa dia kesini Zen? Tanya Rara
“Gak tau deh gue” Ucap Zen bohong
Diruang rektor
“Eh pak kenapa tidak menghubungi saya terlebih dahulu jika akan berkunjung” Ucap rektor sopan dan langsung berdiri
Adit datang dan langsung duduk dengan memasang wajah dinginnya sementara Lyla terus berdiri dibelakang tuannya itu.
“Saya tidak bisa berbasa-basi lagi waktu saya sedikit, jelaskan semua” Ucap Adit dingin
“ Ta tapi pak saya gak ngerti yang bapak katakana” Elak rektor
“Jelaskan!” Bentak Adit Lyla sampai terperanjat mendengar bentakan tuannya
“Maafkan saya pak saya memang rektor yang tidak berguna…” Belum sempat pak Dany menyelesaikan penjelasannya Adit langsung mendahuluinya
“Jangan bertele-tele” Ucap Adit dingin
“Baiklah saya melakukan ini karena ada seseorang yang mengancam saya dan keluargak saya, dia adalah putri Pak Tyo yang bisa melakukan apa saja pada semua orang pak” Jelas Rektor
Tak sengaja Alisa mendengar pembicaraan diruang rektor tersebut, Alisa dipanggil oleh salah satu dosen untuk menemuinya jadi mau tak mau alisa harus pergi keruang dosennya itu dan pasti melewati ruang rektor tersebut padahal dia masih memikirkan masalah Pak Parjo di taman belakang kampus
(Mereka kayanya membicarakan sesuatu yang penting deh, ) pikir Alisa dan langsung menemui dosennya. Alisa belum menyadari sepenuhnya diruangan itu ada orang yang pernah menabraknya ketika dibandara
“Oh jadi anda takut dengan seorang wanita? Yang selalu mengandalkan ayahnya untuk mengancam? Cih rektor seperti apa anda” Adit meremehkan rektor yang seperti orang pengecut dan dia berfikir bahwa masih ada seorang rektor yang bisa dipengaruhi seperti itu.
“Saya tidak punya waktu lagi, jika tidak secepatnya anda bertindak, maka saya yang akan bertindak disini dan jangan harap bapak bisa bekerja lagi disini” Ucap Adit dan langsung keluar dari ruangan tersebut
( Cih anda juga tidak lebih seperti Bela, yang bisanya hanya mengancam saja ) pikir rektor
Aditya dan Lyla keluar menuju mobilnya, Zen ada di ujung koridor ia sangat ingin memeluk kakaknya, tapi dia kalah dengan rasa ego yang menyelimutinya dia berlari ke taman belakang, Adit melihat semuanya rasanya ia ingin mengejar sang adik tapi dia juga diselimuti ego yang sangat tinggi dia berfikir adiknya sudah besar dan harus bisa hidup mandiri.
Hiks…hikss…hikss Zen terus menangis bingung dengan perasaannya sendiri
“Lah itu kaya Zenia deh? Tapi masa iya dia kesini” Alisa kembali ke taman setelah dari ruangan dosennya
“Iya bener, Zen lo kenapa?” Alisa langsung menghampiri orang yang sedang duduk dibangku taman
Zen langsung memeluk Alisa, dia hanya ingin kakaknya kembali seperti dulu, dia rindu dengan keluarganya.
-
-
-
Salam Hangat❤