My Struggle

My Struggle
Membantumu



Ken sedikit berlari di lorong rumah sakit untuk segera menemui tuannya.


“Nona maaf apakah tuan didalam?” Tanya Ken


“Benar tuan, Pak Adit tadi pingsan ditaman” Jawab Alisa


“Panggil saja saya Ken nona “


“Ah iya baik Ken, saya Alisa”


“Bagaimana kejadiannya nona Alisa, sehingga tuan Aditya seperti itu?”


Alisa menjelaskan pada Ken dari mulai dia datang sampai membantu Aditya untuk ke ruamah sakit.


“Sekali lagi terima kasih nona”


“Tidak masalah saya Alisa Ken”


“Baik lah Alisa terima kasih sudah membantu tuan kami”


“Sama-sama Ken, oh ya saya permisi dulu takut teman saya nungguin”


“Apa perlu saya antarkan?”


“Tidak usah saya bisa menggunakan angkutan umum, saya pamit”


( Memang sangat baik, pantesan nona muda lebih memilih sahabatnya ketimbang kakaknya)


POV Zen


“Ka gue boleh nyusul lo kesana?” Tanya Zen yang sedang menghubungi sepupunya


“Zen lo ada apa lagi sama kakak lo? Gue curiga pasti ada lagi masalah” Jawab Raka


“Nanti gue jelasin, sekalian tolongin gue ya Ka tolong pindahin beasiswa gue ke Amerika”


“Apa lo gila? emang semudah beli kerupuk di warung apa?” Raka tidak habis pikir pada sepupunya itu


“Tolong Ka” Ucap Zen disebrang telpon


“Oke tapi ini butuh waktu yang lama”


“Gakpapa Ka, gue terbang kesana sekarang”


Zen mengemasi barang-barangnya, dan setelah didepan pintu utama ada yang menghalanginya.


“Zen kamu mau kemana?” Tanya sang kakak


“Apa pedulinya kakak” Zen mendelik kesal


“Zen cepat simpen kembali koper itu kamu jangan pergi”


“Apa urusannya sama kakak, awas Zen gak betah disini”


“Zeniaa” bentak Aditya


“Apa mau marahin Zen lagi? Kakak mikir gak sih Zen kaya gini karena kakak, Zen gakpunya temen lagi kakak puas, kakak puas liat Zen menderita? Puas hah” Zen tidak kalah sengitnya dan langsung meninggalkan sang kakak, sementara Aditya diam membeku melihat kepergian adiknya.


“Alisa lo abis dari mana sih lama banget” Ujar Rara yang sudah berada di kamar Alisa


“Iya maaf lama, gue abis dari restaurant dulu dan di taman gak sengaja ketemu sama orang sinting mana nyusahin gue lagi tu orang” Jelas Alisa


“Orang sinting? Lo ada-ada aja Al”


“Iya kakaknya si Zen”


“Pak Adit maksud lo?” Tanya Rara


“Iya lah kakaknya si Zen kan satu”


“Emang dia kenapa Al?”


“Gue juga gak tau tiba-tiba aja pingsan untungnya gak kena gue”


“Apa pingsan? Aduh gue merasa bersalah banget niih”


“Apa hubungannya sama lo Rara?”


“Sebenarnya…” Rara menjelaskan kejadian satu tahun yang lalu yang menuduh Zen menyuruh kakaknya untuk mencabut beasiswa Alisa


“Iya ampun Rara lo jangan gegabah lo harus pikirin terlebih dahulu apa yang akan lo ucapin”


“Iya gue kan terbawa emosi Alisa, tapi sekarang gue ngerasa bersalah banget sama si Zen dan kakanya”


“Ya mau gimana lagi nasi udah jadi bubur dan mungkin si Zen gak akan pernah kembali lagi” Jelas Alisa


Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam.


“Oh iya Ra, gue mandi dulu kalo gitu jangan mainin barang orang awas”


Rara memang kadang iseng dia ngambil barang tanpa pengetahuan Alisa


“Iya-iya bawel sana”


Tok-tok-tok


“Ngga deh emang siapa?”


“Kayanya sodaranya Pak Adit deh yang waktu itu”


Alisa berfikir mungkin itu Ken


“Iya udah buka dulu aja”


“Eh silahkan masuk Pak maaf lama” Cengir Rara


“Oh tidak masalah, panggil saya Ken” Ucap Ken


“Eh iya saya Rara, silahkan duduk dulu, kalau saya boleh tau anda perlu apa ya?”


“Saya mencari nona Alisa apakah ada?”


“Iya ada tunggu sebentar ya”


Setelah beberapa menit Alisa keluar dengan badan yang segar.


“Eh maaf nunggu lama Ken” Ucap Alisa


“Tidak papa Al, hm kedatangan saya kesini tidak lama, sebenarnya saya membutuhkan pertolongan nona”


“Pertolongan seperti apa Ken”


“Saya akan jelaskan dirumah sakit apakah nona bersedia?” Tanya Ken


“Iya sudah apapun yang bisa saya bantu saya akan usahakan” Ujar Alisa


“Terima kasih”


Mereka Akhirnya sudah sampai di rumah sakit dan Ken menjelaskan semuanya bahwa Aditya membutuhkan donor darah penyakit Aditya sama dengan penyakit Zen sebelum nya karena penyakit ini adalah warisan dari ayahnya, bahkan Aditya lebih parah jantungnya sedikit bermasalah itupun kakenya yang mewariskan pada cucunya.


( Penyakit ko diwarisin, wkwkwk tapi memang ada ya seperti penyakit dari keturunan loh ya pasti kakak-kakak lebih tahu ) Batin Author


Rara tidak menyangka Ken meminta tolong dalam hal itu dan membuatnya seikit terbawa emosi.


“Heh Ken lo gak tau ya kalau Alisa juga punya penyakit kurang darah?” Rara berbicara dengan nada yang kurang sopan


“Maaf nona sebelumnya saya tidak tau, dan kami akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu” Jelas Ken


“Tanggung Jawab? Emang lo bisa gantiin nyawa orang?”


“Awas lo ya kalau sahabat gue kenapa-napa lo yang pertama gue jeblosin penjara” Ancam Rara


“Ada apa sih rebut-ribut” Alisa keluar dari ruangan setelah mendonorkan darahnya.


“Maaf nona sebelumnya saya tidak tau kalau anda punya riwayat kurang darah, tetapi kami sangat butuh darah nona karena sdikit langka” Ucap Ken


“Orang kaya kok kesusahan” Ucap Rara mendelik kesal


“Rara lo jangan gitu Zen sudah banyak membantu kita, apa salahnya kita juga membantu mereka” Jelas Alisa


“Tidak masalah Ken kata dokter darah saya cukup normal kok untuk didonorkan”


“Sekali lagi terima kasih nona” Ken mengeluarkan selemba cek dan menyerahkannya pada Alisa


“Ini apa Ken?”


“Ini kwitansi nona karena telah membantu tuan saya jadi tolong terima ucapan terima kasih kami, nona bisa menulis nominal berapapun” Jelas Ken


“Dasar orang kaya” Ejek Rara


“Rara” Alisa memelototi sahabatnya yang tidak bisa menjaga ucapannya itu.


“Saya ikhlas Ken, simpan saja kami tidak membutuhkannya”


“Tapi nona?”


“Simpan saja lebih baik kasih saja pada orang yang membutuhkan, oh iya saya juga meminta maaf atas prilaku sahabat saya, dan saya permisi saya masih ada urusan” Ucap Alisa


“Apa-apan lo Alisa” sahut Rara


“Ayo kita pulang” Ajaknya


( terima kasih nona andai nona adalah ibu dari tuan saya mungkin keluarga ini tidak seberantakan seperti sekarang ini ) Batin Ken


Setelah di depan rumah sakit Rara terus saja mengomel karena Alisa tidak membelanya tadi.


Tiba-tiba kepala Alisa serasa berputar-putar dan jatuh untung ada Rara yang menolongnya.


“Eh lo kenapa Alisa?”


“Gu gue gakpapa Ra”


“Makannya lo sih gak dengerin gue kan jadi gini”


Rara yang memapah Alisa untuk mencari taksi yang akan mengantarkan mereka pulang.


Salam❤