
Fajar sudah terbit, tapi belum menunjukan tanda-tanda kehidupan dikamar alisa karena memang sang punya kamar masih tertidur sangat pulas dan nggan untuk bangun.
“Aaalll” Rara menggedor-gedor pintu kamar Alisa
“Alisaa woy banguun, ini udah siang” teriak Rara
Alisa masih terlelap dan masih terbuai didalam mimpinya
“Woy apa-apan sih lu berisisk tau” ujar seseorang
“Eh lo siapa pagi-pagi kesini, mau apa hah?” tanya Rara
“heh loh kok sewot sih santai aja kali, niatnya baik cuman ngasih sarapan buat si Alisa dan temennya nah loh siapa pagi-pagi berisik manggil-manggil si Alisa lagi, ini kan masih pagi” jelas Zen
"Oh ini yang namanya zen"pikir Rara
“Apa lo bilang masih pagi? Hello anak kota bagi lo kan masih pagi dan bagi kami ini sudah sangat siang” kesal Rara
Alisa terganggu dengan suara bising di luar dan dia terpaksa bangun dan berjalan lunglai kearah yang membuat tidurnya terganggu itu. Cklek aalisa membuka pintu
“Aduuh kalian apa-apaan sih ini masih pagi” sahut Alisa dengan kedua matanya masih tertutup
“Alissaaaaa” teriak Rara
Alisa langsung membulatkan kedua matanya dan melihat kesekelilingnya ternyata sahabatnya yang teriak dan ada Zen juga disana
“Aduh kuping gue bisa copot nih lama-lama disini”ujar Zen sambil menutup kedua telinganya
“Rara lo apa-apaan sih?’tanya Alisa
“Al lo gak inget ya kitakan hari ini mau belanja, cepetaan ini udah siang kita bisa terlambat” ujar Rara
“Oh iya gue lupa, gue kamarin malam tidur sampai larut jadi kesiangan deh” cengirAlisa
“Oh ya al maaf ya gue ganggu tidur lo, gue Cuma mau ngasih ini” Zen menyerahkan dua kotak yang berisi bubur ayam.
“Eh iya Zen gapapa maafin sahabat gue ya si rara memang agak gitu orangnya” Alisa merasa bersalah
“Santai aja kali al, sarapan itu dibagi lagi aja sama temen lo ya al ini tadi gue sekalian beliin lo pada kasian pasti belum sarapan, oh ya ngomong-ngomong kalian akan belanja ya? Gue ikut boleh? Kalian juga kan belum terlalu hafal sama daerah ini” tutur Zen
“Oh makasih zen udah repot-repot, tuh ra dia baik lo aja yang moodyan, oke Zen lo boleh ikut , lo juga kan temen kita kan ya ra?" Tanya Alisa
Rara masih kesal dan kebiasaanya tidak berubah selalu memonyongkon bibirnya jika ia sedang tidak enak hati.
“Haduh dasar sahabat gue Zen memang gitu, oh ya gue siap-siap dan mandi dulu ya gak lama kok” pamit alisa
“Oke” ujar zen
“Putri Zenia Ramdani” Zen mengulurkan tangannya
Rara masih cemberut
“ eh iya gapap maafin gue juga pagi-pagi udah marah-marah, lagian sih si Alisa kebiasaan kalau lagi tidur gak bisa dibangunin bahkan kadang dengan cara apapun” Rara mulai luluh
“Oh ya nama gue Kayla Rara kayana bisa dipanggil Rara” Rara menulurkan tanngannya
“Nah gitu dong kita teman, nama lo kok bagus sih ra?” tanya Zen
“Oh lo ngehina gue ya, mentang-mentang gue orang kampung gitu?” Rara memang selalu menyimpulkan semuanya tanpa berfikir panjang
“Eheheh ngga kok ra, ya agak jarang gitu nama di desa kan suka neng, siti, atau inah” tutur Zen
Rara tertawa terbahak-bahak dan memegangi perutnya
“kalian kenapa sih tadi aja berantem sekarang ketawa-ketiwi?” tanya alisa
Rara langsung berhenti tertawanya dan menetap Alisa.
“Al kok lo udah lagi sih mandinya? Atau jangan-jangan lo belum mandi?”selidik Rara
“aduh rara kok lo gitu sih gue mandi tapi kan gue gak lelet kaya lo” balas alisa
“Sudah-sudah mending kalian sarapan dulu, terus langsung belanja gue udah kok gue tuggu dibawah” ujar zen
Setelah semuanya selesai waktu menunjukan pukul 08.00 pagi meraka langsung bergegas berbelanja kepasar tradisional yang menyajikan berbagai sembako, baju, alat-alat sekolah bahkan disamping pasar ada sebuah tokok mas mulia.
Alisa dan rara sudah membawa barang belanjaannya yang penuh itu ditangannya daan seketika bruuggh alisa jatuh dengan barang-barang yang dibawanya alisa bangkit dan melihat belanjaanya berserakan.
“Siapa sih, kenapa orang-orang disini suka banget nabrak gue, gak dibandara gak dipasar, emang gue kec...-” belum melanjutkan ocehannya alisa terkejut dengan siapa yang menabraknya, tak kalah dengan rara dia sudah mangap dari tadi kaget siapa yang menubruk shabatnya itu
“Adam lo? Lo Adam kan?” tany Alisa, Alisa masih terkejut dengan keberadaan sahabtnya itu
“Alisa, aduh maafingue gue gak sengaja, iya gue Adam cengirnya
Adam langsung membantu untuk merapikan barang-barang yang terjatuh tadi, bahkan adam mengantarkan alisa, rara dan zen pualang dengan menggunakan mobil zip.
POV ADAM
Setelah pualang dari resepsi dini, adam langsung pulang tanpa memberitahu alisa, untuk mengurus berkas-berkas yang akan diajukan ke universitas A yang merupakan universtas yang sama dengan alisa.
Pada waktu itu adam juga meminta bantuan kepala sekolah, cuman bedanya adam tidak menggunakan jalur prestasi atau beasiswa melainkan jalur UN, walapun adam minim dalam presasi tetapi nilai UN nya sangat memuaskan sehingga bisa masuk universitas yang sama dengan alisa
“Bu adam akan baik-baik saja kok” rengek adam pada ibunya
“Sekali lagi ibu gak bakalan biarin kamu kos disana nak,anak zaman sekarang pada bandel-bandel,ibu akan izinin tapi kamu harus tingaal sama paman kamu disana untuk selalu memantau kamu, bagaimana?” tanya ibu Adam
Dengan berat hati adam menerima syarat dari ibunya, sebenernya adam tidak mau merepotkan siap-siapa tetapi ibunya memaksa sehingga mau tak maupun harus mau.
Sebenernya adam berasal dari keluarga yang menengah ke atas, karena ibu dan ayahnya juga seorang pegawai negeri bekerja disebuah kelurahan di desanya.