My Struggle

My Struggle
Pergi Untuk Selamanya



“Zen kita mau kemana?” tanya Rara


“Udah kalian ikut gue aja, Adam ayo cepet bawa mobil lo ke bandara A”


Rara sudah mau bertanya lagi tetapi didahului Zen


“Sudah Rara nanti gue jelasin semuanya di pesawat” Sela Zen


POV Zen


(Gak ada pilihan lain gue harus minta tolong kakak gue, gue gak peduli apa yang dia bilang nanti) pikir Zen.


Tuuuut panggilan terhubung.


“Kak, ini aku Zen untuk terakhir kalinya aku mau minta tolong sama kakak” suara khawatir Zen terdengar oleh seseorang disebrang sana


“Nona saya asisten Ken, apa yang anda perlukan?” tanya asisten


“Saya ada perlu sama kakak saya bukan sama kamu?” ketus Zen


Asisten Ken adalah orang yang sudah mengabdi belasan tahun sebelumnya kepada perusahaan Sanjaya Group dan dia adalah orang kepercayaannya Adit kakanya Zen.


“Kakak nona ada disamping saya jika ada perlu bicara saja” ucap datar sang asisten


( Zen gak mengenal kakak lagi, Kakak Zen sudah mati, dan akan pernah mati selamanya) lamun


Zen


“ Oh maaf asisten ken saya merepotkan anda lagi, keadaannya darurat tolong kirim pesawat pribadi ke bandara A secepatnya terima kasih” ucap Zen


Sambungan terputus


“Dia kenapa lagi ken?” tanya Adit


“Nona meminta tolong untuk mengantarkan sebuah pesawat pribadi ke bandara A dengan alasan darurat tuan” jelas Ken


“Apa kamu bilang darurat? Cepat kamu selidiki semuanya” perintah Adit


“Baik tuan” Ken pergi keluar untuk mencari seseorang agar perintah tuannya berjalan dengan lancar.


Zen menceritakan semuanya pada Rara dan Adam.


“Oh ya gue lupa kalian udah ijin kan sama dekan? Tanya Rara


“Gampang gue akan urus semuanya, dan kalian bawa baju ganti kan atau persiapan lainnya?” tanya Zen


“Wah lo seperti pahlawan Zen, tapi gue yakin Zen kakak lo menyayangi lo kok buktinya dia mengirim pesawat ini buat kita, dan masalah persiapan tenang aja Zen kita tidak memerlukan itu semua karena kita akan mengunjungi kampung halaman kita yakan Dam?” Jelas Rara


“Bener Zen kita gak perlu repot-repot lagi lo gak usha khawatir soal baju lo pinjem aja sama Rarar” Ujar Adam


“Gue beruntung punya kalian, gue pikir gue gak butuh siapapun tapi salah besar, soal kakak gue, gue juga bingung gue benci kakak gue yang sekarang” pandangan Zen kosong


“Sudahlah Zen pasti ada sesuatu dibalik ini semua, lo harus bisa, lo kuat Zen” Rara mencoba menenangkan Zen


“Makasih Ra” ujar Zen


“Kayanya kita udah sampai deh, kita siap-siap” ujar Adam


“Terus kita naik apa Adam dari bandara ini rumah kita masih sangat jauh membutuhkan waktu 2 jam?” tanya Rara


“Gue udah atur semuanya Ra” ujar Adam


Akhirnya mereka bertiga telah sampai dirumah duka lebih tepatnya dirumah Alisa


(Bagus rapih dan bersih masih Asri lagi) pikir Zen


“Woy Zen lo ngapain sih ayo masukk cepetan”


Ujar Rara


Semua yang ada berada di dalam sedang berduka dan berkabung dengan kepergian Alm. Ibu Lusi Paramita ibunya Alisa.


Rara tidak melihat tanda-tanda Alisa


“Nak kamu sudah datang?” tanya ayahnya


“Loh yah Alisa mana?” tanya Rara


“Bukannya bareng sama kamu ya nak?” tanya ayahnya kembali


Braaak pintu dibuka oleh seseorang yang mereka semua hapal yang tak lain adalah Alisa,


Alisa berjalan ke arah ibunya yang sudah terbujur kaku Alisa menangis dan terus menangis.


“Alisaa sudah, biarkan ibumu tenang ikhlaskan al” ujar Adam, Adam mebawa Alisa kedalam pelukannya


“Ibu Dam ibu dia udah janji akan melihat gue bahagia dan akan selalu menjaga kesehatannya” Ujar Alisa parau


Zen dan Rarapun menangis ikut merasakan kesedihan yang sahabatnya rasakan itu.


“Iya gue tahu Alisa, lo harus kuat demi ibu lo, lo juga harus bahagia lo udah janji kan” Adam terus menenangkan Alisa tapi tidak ada gerakan dan suara dari Alisa


“All, lo kenapa?” Adam menggoyang-goyangkan tubuh Alisa


Alisa tidak sadarkan diri, Zen dan Rara tersentak dan langsung menghampiri mereka berdua


“Nak Adam bawa saja Alisa kekamarnya mungkin dia kelelahan, Rara temani sahabatmu itu, kami akan segera mengantarkan ibunya keperistirahatan terakhirnya” titah ayahnya Rara


“Baik paman” Ujar Adam


Rara dan Zen mencoba membangunnkan Alisa dengan menggosokan minyak angin ke hidungnya Alisa, Alisa tersadar.


“Gu gue dimana?” tanya Alisa


“Ibu, ibu gue mana Rara?” Alisa berlari keluar dan melihat ibunya sudah tidak ada, dan Alisa berlari meuju kepemakaman TPU terdekat.


Alisa melihat sudah ada pemakaman baru didekat ayahnya dan langsung berlari.


“Buuu Alissa sudah pulang, ibu gak kangen sama Alisa kenapa ibu tidur terus kenapa buu” Alisa terus menggali-gali pemakaman ibunya dengan tangannya.


“Alisaa sadaar Al, kenapa lo jadi kaya gini” Adam merangkul Alisa dan cepat di tepis olehnya


Semua orang yang melihatnya merasa iba dan satu persatu orang yang mengantarkannya tadi pulang kerumahnya masing-masing. Tinggal mereka berdua yang ada disana dan dari kejuhan Rara dan Zen menyaksikan kejadian yang sangat menyayat hati itu.


“Aaliisa dengerin gue, liat gue kesini” Adam terus memaksa Alisa untuk mendengarkannya, dengan terpaksa Alisa mendengarkan apa yang dkatakan Adam walau hatinya masih belum mengikhlaskan kepergian ibunya untuk selamanya.


“Lo gak kasian sama ibu lo Al? lo punya janji kan sama ibu lo? Turuti perintah terakhirnya, jangan jadi cewek lemah, lo bukan Alisa yang gue kenal Al” Adam terus meyakinkan Alisa dan Alisa sudah cukup tenang


“Tinggalin gue disini Dam, gue masih kangen sama ibu gue” Ucap Alisa parau sekarang Alisa tidak menangis lagi


“Lo jangan lama-lama Al ini udah mau gelap” Adam mengelus pudak Alisa untuk sekedar menguatkannya


Adam berjalan menuju Rara dan Zen, dia sangat terpukul melihat orang yang ia sayangi terluka.


“Kok lo tinggalin dia sih” ujar Rara


“Gue mau kasih waktu Ra buat dia, disaat-saat terakhir ibunya dia gak ada Ra, gue gak bisa liat dia seperti itu” Ujar Adam


Rara paham Adam sangat menyukai Alisa dari dulu bahkan sampai sekarangpun Adam masih setia kepada Alisa.


“Buu banguun dong Alisa sudah datang nii, Alisa kangen ibu” Alisa terus memeluk pusara sang ibu


“Buuu ibu gak denger Alisa bicara?” Alisa prustasi dan terus memukul-mukul tanah merah yang masih basah itu


Alisa menangis kembali meliaht kedua orang tuanya telah meniggalkannya secepat itu.


“Ayah, ibu bohong sama ayah katanya ibu bakalan berjanji jagain Alisa” Alisa terus berbicara dengan pusara yang tidak akan pernah menjawabnya itu


“Ibu, Ayah Alisa sayang kalian, Alisa takut sendirian” Alisa memeluk pusara ayah dan ibunya bergantian


“Adam lo coba deh jemput si Alisa gue khawatir dia ngelakuin yang aneh-aneh” Pinta Rara


Zen terus diam dan diam di juga sangat terpukul jika harus mengingat kematian ayahnya dan kepergian ibunya tanpa jejak itu.


“ Gue akan kesana Ra” Ujar Adam


Adam menghampiri Alisa dan hatinya sangat-sangat terluka melihat kedaan Alisa sekarang.


“Al ini sudah gelap kita pulang yu” Ajak halus Adam


Alisa langsung bangkit dan memeluk Adam, Adam sampai kaget mendapat pelukan mendadak seperti itu.


Alisa tak henti-hentinya menangis dipelukan Adam, Adam terus mengeratkan pelukannya dan mengelus rambut hitam Alisa. Adam bukan memanfaatkan situasi tetapi memang dia sangat khawatir dan menyayangi Alisa lebih dari apapun


“Dia kelihatan tulus ya Ra” Ujar Zen


“Iya begitulah Adam, dia sangat-sangat lembut, tulus, setia, tapi sayangnya Jahil” Rara terkekeh


“Ah lo kok gitu orang lain sedang berduka” Ujar Zen


“Lagian sih si Adam” cengir Rara


Adam dan Alis beranjak pulang, Adam terus memapah Alisa, dan Alisa terus memeluk Adam, saat ini Alisa hanya butuh ketenangan.